26.9 C
Bogor
Friday, October 30, 2026

Buy now

spot_img

Jejaring Pelayanan Stunting dan Wasting Diperkuat RSUD R.Moh.Noh Nur Bersama FKTP Serta Rumah Sakit Tipe C dan D

Leuwiliang | Jurnal Bogor
Dalam upaya memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas fasilitas pelayanan kesehatan guna menekan angka prevalensi stunting dan wasting, RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang sukses menyelenggarakan kegiatan Pertemuan Penguatan Jejaring Rumah Sakit Terkait Pelayanan Stunting dan Wasting dengan FKTP, RS Tipe D, dan RS Tipe C. Kegiatan penting ini dilaksanakan di Aula Soekarno Hatta, Lantai 2 RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang, pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Acara ini dihadiri oleh jajaran manajemen rumah sakit, perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, para ahli gizi, serta perwakilan dari puluhan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas di wilayah kerja sekitar, serta rumah sakit mitra seperti RS Assyifa Leuwiliang dan RS Karya Bhakti Pratiwi.

Pertemuan dibuka secara resmi oleh Wakil Direktur Pelayanan RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang, dr. Esther Melanni, M.Kes, yang menekankan pentingnya membangun sinergi dan ruang diskusi terbuka bersama Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam menangani persoalan gizi anak secara komprehensif.

Sesi pemaparan materi menghadirkan narasumber ahli, di antaranya Dokter Spesialis Anak dr. Ammar Fauzan Islami, Sp.A, yang memaparkan materi mengenai “Program Nasional Penurunan Prevalensi Stunting dan Wasting”, serta pemaparan materi “Tata Laksana Nutrisi Gizi Kurang Tanpa Komplikasi” oleh Desy Nur Arista, A.Md. Gz. Selain itu, kegiatan ini turut diisi dengan edukasi kesehatan mengenai peran probiotik oleh perwakilan PT. Yakult Indonesia Persada.

Berikut adalah poin-poin penting yang dibahas dalam rangkaian pertemuan penguatan jejaring tersebut:

Urgensi Program Nasional: Stunting dan wasting menjadi perhatian serius pemerintah mengingat dampaknya pada jangka pendek berupa gagal tumbuh dan gangguan motorik, di mana Indonesia menempati peringkat kedua di dunia dan Provinsi Jawa Barat berada di urutan pertama.

Intervensi Dini di Puskesmas: Pencegahan terbukti jauh lebih efektif dibanding pengobatan, dengan mengoptimalkan 11 program intervensi spesifik dan sensitif pada sasaran 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak hingga usia 6 tahun.

Penguatan Alur Rujukan dan Rujuk Balik: Penyelarasan mekanisme rujukan dari posyandu ke Puskesmas, hingga penanganan lanjutan di rumah sakit melalui pemantauan indikator kunjungan rujuk balik yang terkoordinasi.

Tata Laksana Nutrisi Terpadu: Standarisasi asesmen status gizi (pengukuran antropometri BB/U, PB/U, TB/U, dan BB/TB) serta penentuan jenis makanan dan evaluasi berkala guna mencegah perburukan kondisi gizi anak.

“Pertemuan ini menjadi ajang strategis untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi antar fasilitas pelayanan kesehatan dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting serta wasting, sehingga pelayanan kesehatan bagi anak dapat berjalan lebih optimal dan berkesinambungan,” pihak manajemen RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang menyampaikan dalam sesi penutupan.

Melalui jejaring pelayanan yang terintegrasi antara rumah sakit rujukan, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan, RSUD R. Moh. Noh Noh Leuwiliang optimis penanganan kasus stunting dan wasting di wilayah Kabupaten Bogor dapat ditangani secara cepat, tepat, dan berkelanjutan demi mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas.

(yev/cc)

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles