Oleh: Windy Adawiyah
(Program Study Sains Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Djuanda)
ABSTRAK
Marketing sering dipahami sebagai kegiatan menjual produk atau membuat konten untuk menarik perhatian konsumen. Namun, pengalaman penulis selama melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di PT Adev Natural Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas marketing memiliki proses yang lebih kompleks. Kegiatan KKL yang dilakukan pada Divisi Marketing memberikan pengalaman dalam berbagai aktivitas, mulai dari pencarian referensi dan produksi konten, penyuntingan foto dan video, riset kompetitor, hingga penyusunan marketing campaign. Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi penulis untuk melihat bahwa kegiatan promosi tidak hanya membutuhkan kreativitas dalam menghasilkan konten, tetapi juga riset, perencanaan, pemahaman terhadap audiens, serta strategi komunikasi yang terarah. Keterlibatan dalam penyusunan marketing campaign “Start Your Brand 2027” semakin memperlihatkan bahwa promosi perlu dirancang melalui tahapan komunikasi yang memiliki tujuan dan indikator keberhasilan. Tulisan ini merupakan artikel opini yang merefleksikan pengalaman KKL penulis untuk membahas pekerjaan di balik aktivitas marketing yang sering kali tidak terlihat oleh audiens. Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis berpendapat bahwa marketing bukan sekadar aktivitas menjual atau membuat konten, melainkan proses komunikasi yang menghubungkan tujuan perusahaan dengan kebutuhan dan karakteristik audiens.
PENDAHULUAN
Perkembangan industri kosmetik tidak hanya menunjukkan semakin besarnya peluang bisnis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana dunia usaha terus berkembang dan menciptakan ruang bagi munculnya berbagai pelaku usaha baru. Kondisi tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Menurut saya, pertumbuhan industri tidak cukup hanya dilihat dari semakin banyaknya perusahaan atau produk yang muncul, tetapi juga dari bagaimana perusahaan mampu menciptakan aktivitas bisnis yang produktif dan membuka peluang bagi pelaku usaha untuk berkembang. Dalam situasi tersebut, komunikasi pemasaran menjadi salah satu bagian penting yang membantu perusahaan memperkenalkan layanan, membangun hubungan dengan calon pelanggan, dan mendukung kegiatan promosi (United Nations, n.d.).
PT Adev Natural Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa maklon kosmetik dan personal care. Selama melaksanakan KKL di Divisi Marketing, saya mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari mencari referensi konten, melakukan produksi dan penyuntingan foto maupun video, melakukan riset kompetitor, hingga ikut dalam penyusunan marketing campaign. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa sebuah kegiatan promosi tidak muncul begitu saja, tetapi melalui berbagai proses komunikasi yang saling berkaitan.
Hal yang paling mengubah cara pandang saya adalah ketika terlibat dalam proses pembuatan konten. Sebelum sebuah foto atau video dapat digunakan untuk kebutuhan media sosial, terdapat proses pencarian referensi, pengamatan terhadap konsep konten, penentuan ide, pencarian talent, hingga produksi. Setelah itu, materi masih harus melalui proses penyuntingan agar sesuai dengan konsep yang telah direncanakan. Dari proses tersebut, saya melihat bahwa konten yang tampak sederhana di media sosial sebenarnya merupakan hasil dari proses berpikir dan perencanaan.
Menurut saya, hal tersebut penting untuk dipahami karena perkembangan media sosial membuat kegiatan marketing sering kali dinilai hanya berdasarkan apa yang terlihat di layar. Konten yang menarik memang dapat membantu menarik perhatian audiens, tetapi tampilan visual saja tidak cukup. Komunikasi pemasaran juga membutuhkan pesan yang sesuai dengan tujuan perusahaan dan karakteristik audiens. Penelitian mengenai komunikasi pemasaran digital pada industri kecantikan juga menunjukkan bahwa strategi pemasaran melalui media sosial tidak hanya berkaitan dengan keberadaan produk, tetapi bagaimana pesan dan konten digunakan untuk menjangkau serta membangun hubungan dengan konsumen.
Pengalaman melakukan riset kompetitor semakin memperkuat pandangan tersebut. Dalam kegiatan KKL, saya mencari dan membandingkan informasi mengenai produk kompetitor melalui platform penjualan daring, termasuk jenis produk, harga, ukuran, dan karakteristik penawarannya. Bagi saya, kegiatan ini menunjukkan bahwa marketing tidak dapat hanya berangkat dari keinginan perusahaan untuk menjual sesuatu. Sebelum menentukan cara berkomunikasi dengan calon konsumen, pemasar juga perlu memahami kondisi pasar dan persaingan yang ada.
Pandangan tersebut kemudian semakin terlihat ketika saya terlibat dalam penyusunan marketing campaign “Start Your Brand 2027”. Campaign tersebut tidak dirancang hanya dengan tujuan membuat promosi terlihat menarik, tetapi disusun berdasarkan tahapan komunikasi yang berbeda, mulai dari membangun awareness, memberikan edukasi, mengarahkan audiens menuju konsultasi, hingga mendorong conversion. Bagi saya, proses tersebut menjadi contoh nyata bahwa promosi membutuhkan strategi dan tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas.
Dari pengalaman tersebut, saya berpendapat bahwa marketing seharusnya tidak dipahami hanya sebagai aktivitas menjual atau membuat konten. Marketing merupakan proses komunikasi yang membutuhkan riset, perencanaan, kreativitas, dan pemahaman terhadap audiens. Justru pekerjaan yang tidak terlihat oleh konsumen—seperti mencari informasi, menganalisis kompetitor, merancang pesan, dan menentukan tahapan campaign—memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana sebuah promosi dijalankan.
Melalui tulisan ini, saya ingin membagikan pandangan mengenai pekerjaan di balik kegiatan marketing berdasarkan pengalaman selama menjalani KKL di PT Adev Natural Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi saya untuk melihat bahwa keberhasilan sebuah promosi bukan hanya ditentukan oleh seberapa menarik konten yang ditampilkan, tetapi juga oleh seberapa matang proses komunikasi yang mendasarinya.
KONTEN YANG TERLIHAT SEDERHANA TIDAK LAHIR SECARA SEDERHANA
Salah satu hal yang paling mengubah pandangan saya selama menjalani KKL di Divisi Marketing PT Adev Natural Indonesia adalah proses di balik sebuah konten. Sebagai orang yang melihat media sosial dari sisi audiens, saya sebelumnya cenderung menganggap konten sebagai sesuatu yang sudah selesai ketika muncul di layar. Setelah terlibat langsung dalam prosesnya, saya menyadari bahwa sebuah foto atau video yang terlihat sederhana sebenarnya melewati beberapa tahapan sebelum dapat digunakan sebagai materi promosi.
Proses tersebut dimulai dari pencarian referensi. Saya perlu mengamati berbagai konten untuk melihat topik, konsep visual, cara penyampaian pesan, hingga bentuk konten yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Setelah referensi diperoleh, proses dilanjutkan dengan menentukan konsep, mencari talent, serta melakukan pengambilan foto dan video. Dalam kegiatan KKL, saya juga terlibat dalam pengambilan konten untuk produk Lumosca dan produksi konten di area laboratorium PT Adev Natural Indonesia.
Setelah proses produksi selesai, pekerjaan belum berakhir. Materi yang telah diperoleh masih perlu melalui tahap penyuntingan. Foto maupun video dipilih dan disusun kembali berdasarkan kebutuhan konten, termasuk menyesuaikan bagian yang digunakan, urutan materi, durasi, serta elemen pendukung lainnya. Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa proses membuat konten bukan sekadar persoalan menghasilkan gambar atau video yang bagus, tetapi juga bagaimana materi tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang sesuai dengan kebutuhan pemasaran.
Menurut saya, bagian inilah yang sering tidak terlihat oleh audiens. Ketika sebuah konten sudah muncul di Instagram, orang hanya melihat hasil akhirnya. Padahal, sebelum sampai ke tahap tersebut terdapat proses berpikir yang menentukan apa yang ingin disampaikan dan bagaimana pesan tersebut dikemas. Penelitian mengenai komunikasi pemasaran digital juga menunjukkan bahwa konten media sosial dapat digunakan untuk membangun keterlibatan audiens melalui berbagai bentuk, seperti konten promosi, hiburan, edukasi, percakapan, dan konten musiman.
Pengalaman tersebut membuat saya semakin percaya bahwa kreativitas dalam marketing tidak berdiri sendiri. Ide yang menarik tetap membutuhkan perencanaan agar dapat diterjemahkan menjadi pesan yang sesuai dengan tujuan komunikasi. Sebuah konten mungkin terlihat sederhana ketika sudah dipublikasikan, tetapi kesederhanaan tersebut justru dapat menjadi hasil dari proses yang cukup panjang.
Bagi saya, inilah salah satu pelajaran penting selama KKL. Marketing bukan hanya tentang membuat sesuatu terlihat menarik, tetapi juga tentang memahami apa yang ingin dikomunikasikan dan kepada siapa pesan tersebut ditujukan. Konten hanyalah bagian yang terlihat dari sebuah proses komunikasi pemasaran yang jauh lebih besar.
MARKETING DIMULAI SEBELUM KONTEN DIPUBLIKASIKAN
Setelah terlibat langsung dalam proses produksi konten, saya mulai melihat bahwa pekerjaan marketing sebenarnya dimulai jauh sebelum sebuah konten dipublikasikan. Bagi saya, tahap yang sering dianggap sederhana seperti mencari referensi dan menentukan konsep justru menjadi bagian penting karena pada tahap inilah arah komunikasi mulai ditentukan.
Selama KKL di PT Adev Natural Indonesia, pencarian referensi menjadi salah satu kegiatan yang saya lakukan sebelum produksi konten. Referensi tidak hanya dicari untuk menemukan visual yang menarik, tetapi juga untuk melihat bagaimana suatu topik dapat dikemas, bagaimana pesan disampaikan, dan bentuk konten seperti apa yang dapat dikembangkan. Dari sini saya belajar bahwa seorang marketer perlu memiliki kemampuan untuk mengamati sebelum menentukan apa yang akan dibuat.
Menurut saya, proses tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dalam marketing seharusnya tidak muncul secara asal. Ide memang dapat datang dari mana saja, tetapi ide yang digunakan untuk kepentingan promosi perlu disesuaikan dengan tujuan komunikasi dan kebutuhan audiens. Penelitian mengenai strategi social media marketing juga menempatkan strategi konten sebagai bagian dari proses pemasaran yang bertujuan menghasilkan dan menyebarkan konten yang bernilai bagi audiens, bukan sekadar mempromosikan produk secara langsung.
Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa pekerjaan seorang marketer memiliki sisi analitis yang cukup kuat. Ketika mencari referensi, kita sebenarnya sedang mengamati apa yang sudah dilakukan oleh pihak lain, bagaimana suatu pesan dikemas, dan kemungkinan pendekatan apa yang dapat digunakan. Setelah itu, ide tersebut perlu diolah kembali agar sesuai dengan identitas dan kebutuhan perusahaan. Jadi, kreativitas bukan berarti meniru sesuatu yang sudah ada, melainkan menemukan cara untuk mengembangkan sebuah gagasan menjadi komunikasi yang relevan.
Menurut saya, pemahaman seperti ini penting terutama di tengah perkembangan media sosial yang membuat siapa pun dapat memproduksi dan mempublikasikan konten dengan cepat. Kemudahan tersebut terkadang membuat proses perencanaan terlihat tidak penting. Padahal, semakin banyak konten yang muncul setiap hari, semakin penting pula bagi perusahaan untuk memiliki alasan yang jelas mengenai mengapa sebuah konten dibuat dan pesan apa yang ingin disampaikan.
Pengalaman di PT Adev Natural Indonesia membuat saya melihat bahwa konten yang baik bukan hanya konten yang berhasil mendapatkan perhatian, tetapi juga konten yang memiliki arah. Ada perbedaan antara sekadar membuat konten karena sedang mengikuti tren dengan membuat konten karena mengetahui apa yang ingin dicapai melalui konten tersebut. Bagi saya, perbedaan tersebut terletak pada proses perencanaan.
Karena itu, saya berpendapat bahwa marketing tidak seharusnya dinilai hanya dari hasil akhir yang terlihat di media sosial. Proses yang terjadi sebelum publikasi justru memiliki peran besar dalam menentukan apakah sebuah pesan dapat disampaikan dengan baik. Riset, pencarian referensi, penentuan konsep, dan pemahaman terhadap audiens merupakan bagian dari pekerjaan marketing yang mungkin tidak terlihat oleh publik, tetapi menjadi dasar dari komunikasi yang dilakukan perusahaan.
Pengalaman tersebut juga membuat saya memahami bahwa komunikasi pemasaran tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara atau membuat visual yang menarik. Seorang marketer perlu mampu membaca situasi, mengolah informasi, dan menentukan pendekatan komunikasi yang sesuai. Dengan demikian, sebelum sebuah konten berbicara kepada audiens, sebenarnya tim marketing sudah terlebih dahulu “berbicara” melalui proses riset dan perencanaan.
RISET KOMPETITOR: BAGIAN MARKETING YANG SERING TIDAK TERLIHAT
Jika produksi konten merupakan bagian marketing yang paling mudah dilihat oleh audiens, riset kompetitor justru menjadi salah satu pekerjaan yang hampir tidak terlihat. Padahal, menurut saya, kegiatan ini memiliki peran penting dalam membantu perusahaan memahami kondisi pasar sebelum menentukan cara berkomunikasi dengan calon konsumen.
Selama menjalani KKL di PT Adev Natural Indonesia, saya mendapatkan pengalaman melakukan riset terhadap produk kompetitor melalui platform penjualan daring. Informasi yang diamati antara lain jenis produk, harga, ukuran, serta karakteristik penawaran yang ditampilkan kepada konsumen. Data tersebut kemudian dibandingkan untuk memperoleh gambaran mengenai produk-produk yang berada dalam persaingan yang sama.
Awalnya, saya melihat kegiatan tersebut sebagai pekerjaan mengumpulkan informasi. Namun setelah menjalaninya, saya menyadari bahwa riset kompetitor sebenarnya mengajarkan cara melihat sebuah produk dari sudut pandang pasar. Ketika membandingkan beberapa produk, kita tidak hanya melihat siapa yang menjual produk serupa, tetapi juga dapat mengamati bagaimana suatu produk ditawarkan, bagaimana harga ditempatkan, dan apa yang mungkin menjadi daya tarik bagi konsumen.
Menurut saya, inilah salah satu bagian marketing yang sering terlupakan. Perusahaan tentu perlu mengetahui kelebihan produknya sendiri, tetapi pengetahuan tersebut akan lebih bermakna ketika dibandingkan dengan kondisi pasar. Tanpa memahami apa yang ditawarkan kompetitor, perusahaan dapat kesulitan menentukan pembeda yang ingin ditonjolkan dalam komunikasinya.
Riset kompetitor juga membuat saya memahami bahwa kegiatan marketing membutuhkan kemampuan membaca informasi. Data yang ditemukan di marketplace tidak otomatis menjadi strategi. Informasi tersebut harus diamati, dibandingkan, dan dipahami terlebih dahulu agar dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan. Dengan kata lain, pekerjaan marketing tidak hanya membutuhkan kreativitas untuk menghasilkan ide, tetapi juga kemampuan analitis untuk memahami lingkungan tempat ide tersebut akan digunakan.
Bagi saya, proses ini memiliki hubungan yang kuat dengan komunikasi pemasaran. Pesan promosi yang disampaikan kepada audiens seharusnya tidak berdiri sendiri, karena audiens juga menerima berbagai pesan dari perusahaan lain. Ketika banyak produk menawarkan kategori dan manfaat yang serupa, perusahaan perlu memahami bagaimana membuat komunikasinya memiliki pembeda dan tetap relevan bagi target audiens.
Pengalaman tersebut membuat saya melihat bahwa seorang marketer sebenarnya perlu memiliki dua kemampuan sekaligus: kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang menarik dan kemampuan untuk memahami konteks. Kreativitas tanpa pemahaman pasar dapat menghasilkan komunikasi yang menarik tetapi belum tentu tepat sasaran. Sebaliknya, informasi pasar tanpa kreativitas mungkin hanya berhenti sebagai data. Keduanya perlu berjalan bersama.
Karena itu, saya berpendapat bahwa riset kompetitor bukan pekerjaan tambahan yang hanya dilakukan ketika dibutuhkan. Riset merupakan bagian dari proses marketing yang membantu perusahaan memahami posisi produknya dan menentukan bagaimana komunikasi dapat dibangun. Meskipun hasilnya tidak selalu terlihat langsung oleh konsumen, informasi dari proses tersebut dapat menjadi dasar bagi keputusan-keputusan marketing yang muncul di permukaan.
CAMPAIGN MEMBUKTIKAN BAHWA PROMOSI MEMBUTUHKAN STRATEGI
Pengalaman saya dalam membuat konten dan melakukan riset kompetitor akhirnya membawa saya pada pemahaman yang lebih luas ketika terlibat dalam penyusunan marketing campaign “Start Your Brand 2027”. Jika sebelumnya saya melihat marketing melalui aktivitas yang lebih teknis seperti mencari referensi, mengambil gambar, dan melakukan editing, melalui campaign ini saya mulai melihat bagaimana berbagai aktivitas tersebut ditempatkan dalam sebuah strategi yang memiliki tujuan.
Campaign “Start Your Brand 2027” ditujukan kepada calon pemilik brand yang ingin memulai atau mengembangkan bisnis kosmetik. Karena targetnya bukan sekadar menjangkau sebanyak mungkin orang, komunikasi dalam campaign dirancang melalui beberapa tahapan. Pada tahap awal, komunikasi diarahkan untuk membangun awareness, mengangkat pain point dan dream, serta memberikan edukasi. Setelah audiens mulai mengenal dan memahami informasi yang disampaikan, komunikasi dilanjutkan dengan product education, client story, objection handling, dan social proof. Pada tahap akhir, komunikasi diarahkan pada urgency, countdown, offer, dan closing.
Menurut saya, pembagian tahapan tersebut menunjukkan bahwa promosi tidak harus selalu dimulai dengan ajakan untuk membeli. Ada proses yang perlu dibangun terlebih dahulu. Calon konsumen mungkin belum mengenal perusahaan, belum memahami layanan yang ditawarkan, atau bahkan belum yakin bahwa mereka membutuhkan layanan tersebut. Karena itu, komunikasi perlu disesuaikan dengan posisi audiens sebelum diarahkan pada tindakan.
Hal tersebut sejalan dengan prinsip komunikasi pemasaran terpadu yang menempatkan penentuan target audiens dan tujuan komunikasi sebagai bagian awal dalam perencanaan campaign. Pesan kemudian dirancang berdasarkan tujuan dan tahapan yang ingin dicapai dari audiens. Bagi saya, konsep tersebut menjadi lebih mudah dipahami setelah melihat penerapannya secara langsung dalam penyusunan campaign.
Campaign juga menunjukkan kepada saya bahwa setiap konten seharusnya memiliki alasan mengapa konten tersebut dibuat. Konten awareness memiliki fungsi yang berbeda dengan konten yang bertujuan mendorong conversion. Begitu pula konten edukasi memiliki peran yang berbeda dengan konten yang memberikan penawaran. Ketika seluruh konten tersebut disusun dalam satu campaign, masing-masing memiliki fungsi untuk membawa audiens menuju tujuan komunikasi yang telah ditentukan.
Hal yang menarik bagi saya adalah adanya target 300 qualified leads dalam campaign tersebut. Target tersebut menunjukkan bahwa kegiatan promosi tidak hanya dinilai dari seberapa banyak konten yang berhasil dibuat atau seberapa menarik tampilannya. Ada indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian campaign, mulai dari awareness, engagement, lead generation, hingga conversion. Dengan adanya target dan indikator tersebut, kegiatan marketing menjadi lebih terarah karena keberhasilannya dapat dievaluasi berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan.
Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa kreativitas dan strategi tidak dapat dipisahkan. Kreativitas dibutuhkan untuk membuat pesan menarik, tetapi strategi dibutuhkan agar pesan tersebut memiliki arah. Sebuah konten dapat terlihat bagus, tetapi jika tidak mengetahui siapa yang ingin dijangkau dan tindakan apa yang diharapkan dari audiens, konten tersebut berpotensi kehilangan tujuan.
Menurut saya, inilah alasan mengapa marketing tidak seharusnya hanya dilihat dari hasil yang tampak di permukaan. Ketika sebuah campaign berhasil menghadirkan banyak konten yang terlihat menarik, kita mungkin hanya melihat bagian akhirnya. Padahal, terdapat proses menentukan target, menyusun pesan, membagi tahapan komunikasi, membuat konten, dan menentukan indikator keberhasilan di belakangnya.
Keterlibatan dalam penyusunan “Start Your Brand 2027” membuat saya melihat bahwa marketing pada akhirnya adalah tentang bagaimana menghubungkan pesan perusahaan dengan kebutuhan audiens. Bukan sekadar bagaimana perusahaan ingin menjual, tetapi bagaimana perusahaan dapat menyampaikan alasan yang relevan agar audiens mau mengenal, mempertimbangkan, dan akhirnya mengambil tindakan.
Dari sini, pengalaman KKL saya semakin memperkuat pandangan bahwa marketing bukan sekadar jualan. Di balik sebuah promosi terdapat strategi komunikasi yang dirancang untuk membangun hubungan dengan audiens secara bertahap. Bagi saya, justru proses perencanaan inilah yang membuat pekerjaan marketing menjadi lebih kompleks sekaligus menarik.
KESIMPULAN (palatino linotype, 12, bold, spasi 1.5)
Pengalaman menjalani Kuliah Kerja Lapangan di PT Adev Natural Indonesia membuat saya melihat marketing dari sudut pandang yang berbeda. Sebelumnya, marketing mudah dipahami sebagai kegiatan menjual produk atau membuat konten untuk menarik perhatian konsumen. Namun, keterlibatan secara langsung di Divisi Marketing menunjukkan bahwa terdapat proses yang jauh lebih kompleks di balik sebuah kegiatan promosi.
Mulai dari mencari referensi, merancang konsep, melakukan produksi dan penyuntingan konten, melakukan riset kompetitor, hingga terlibat dalam penyusunan marketing campaign, setiap kegiatan memiliki tujuan dan pertimbangan masing-masing. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa marketing membutuhkan perpaduan antara kreativitas, kemampuan analisis, riset, dan komunikasi.
Menurut saya, bagian terpenting dari marketing justru sering kali tidak terlihat oleh audiens. Ketika sebuah konten muncul di media sosial, audiens hanya melihat hasil akhirnya, sementara proses untuk menentukan pesan, memahami target audiens, mengamati kompetitor, serta menyusun strategi terjadi jauh sebelumnya. Hal tersebut membuat saya menyadari bahwa konten yang menarik bukanlah satu-satunya ukuran dalam kegiatan pemasaran. Konten juga perlu memiliki arah dan tujuan yang jelas.
Keterlibatan dalam marketing campaign “Start Your Brand 2027” semakin memperkuat pandangan tersebut. Campaign yang memiliki target audiens, tahapan komunikasi, serta indikator keberhasilan menunjukkan bahwa promosi membutuhkan strategi yang terencana. Dengan demikian, marketing bukan hanya tentang bagaimana membuat orang tertarik terhadap suatu produk atau layanan, tetapi juga bagaimana membangun komunikasi yang relevan sehingga audiens dapat bergerak dari tahap mengenal hingga mengambil tindakan.
Sebagai mahasiswa Sains Komunikasi, pengalaman KKL ini juga memberikan pemahaman bahwa ilmu komunikasi memiliki penerapan yang luas di dunia kerja. Konsep komunikasi pemasaran yang sebelumnya dipelajari secara teoritis dapat ditemukan secara langsung dalam aktivitas sehari-hari di Divisi Marketing. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh pesan yang disampaikan, tetapi juga oleh bagaimana pesan tersebut dirancang, dikemas, dan diarahkan kepada audiens.
Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa marketing memang bukan sekadar jualan. Marketing adalah proses komunikasi yang membutuhkan pemahaman terhadap audiens, kondisi pasar, kreativitas dalam menyampaikan pesan, serta strategi untuk mencapai tujuan. Apa yang terlihat sebagai sebuah unggahan sederhana di media sosial sebenarnya dapat menjadi hasil dari rangkaian proses panjang di balik layar. Justru proses tersebutlah yang membuat marketing tidak hanya menarik untuk dipelajari, tetapi juga menantang untuk dijalankan.
REFERENSI
Amelia, N., Dharta, F. Y., & Arindawati, W. A. (2023). Implementasi bauran promosi sebagai strategi komunikasi pemasaran Memopro Wedding Organizer dalam meningkatkan konsumen Memopro. NIVEDANA: Jurnal Komunikasi dan Bahasa, 4(1), 223–239. https://doi.org/10.53565/nivedana.v4i1.864
Maharani, P. A., & Yuniati, Y. (2025). Strategi komunikasi pemasaran digital melalui penggunaan Instagram sebagai media komunikasi pemasaran. Jurnal Riset Public Relations, 5(1). https://doi.org/10.29313/jrpr.v5i1.6754
Putri, M. A., Saeni, R., & Mursalim. (2021). Strategi komunikasi pemasaran PT. Shavira Barokah Utama dalam memasarkan produk skincare. KAREBA: Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(1). https://journal.unhas.ac.id/index.php/kareba/article/view/28255
Safitri, E., Auliana, L., Sukoco, I., & Barkah, C. S. (2022). Kajian literatur peran Integrated Marketing Communication (IMC) dalam mempertahankan loyalitas konsumen. Jurnal Aplikasi Bisnis, 19(2), 259–267. https://doi.org/10.20885/jabis.vol19.iss2.art6
Sofyan, A. A. A., & Mulyana, D. (2024). Strategi komunikasi pemasaran melalui media sosial Instagram dalam menarik minat beli konsumen. Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital, 4(1), 9–14. https://doi.org/10.29313/jrjmd.v4i1.3640
United Nations. (n.d.). Goal 8: Decent work and economic growth. https://www.un.org/sustainabledevelopment/economic-growth/


