Bogor | Jurnal Bogor
Puluhan santri putra jenjang SMP dan SMA Pesantren Umar bin Khotob (UBK) Plus Bogor mengikuti kegiatan Training Healing and Growing “Menjadi Kerang Mutiara”: Mengubah Ujian Menjadi Kemuliaan, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan ini untuk membekali para santri dengan ketangguhan mental, kecerdasan emosi, serta karakter kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Training yang dipandu oleh Lili Marliyuana, Emotional Healing Therapist dan Direktur ABCo Therapy Center, mengajak para peserta memahami bahwa setiap ujian, kesulitan, dan tekanan hidup dapat menjadi sarana pertumbuhan diri apabila dihadapi dengan cara yang tepat.
Melalui kisah kerang mutiara, para santri diajak melihat bahwa mutiara yang bernilai tinggi justru lahir dari butiran pasir yang melukai kerang. Filosofi tersebut menjadi gambaran bahwa tantangan hidup tidak selalu harus dihindari, melainkan dapat diubah menjadi sumber kekuatan dan kemuliaan.
“Seperti kerang yang mengubah pasir menjadi mutiara, manusia juga dapat mengubah luka, kegagalan, dan kesulitan menjadi karakter yang lebih kuat dan lebih mulia. Yang menentukan bukan ujiannya, tetapi bagaimana kita merespons ujian tersebut,” ujar Lili dalam pemaparannya.
Dalam sesi berikutnya, peserta diajak meneladani perjalanan hidup Rasulullah SAW yang sejak kecil menghadapi berbagai ujian, mulai dari menjadi yatim, kehilangan orang-orang yang dicintai, hingga menghadapi penolakan dan berbagai tekanan dakwah. Namun, seluruh ujian tersebut justru membentuk Nabi Muhammad menjadi pemimpin yang tangguh, penuh kasih sayang, dan menjadi rahmat bagi semesta alam.
“Rasulullah SAW tidak menjadi kuat karena hidup beliau mudah. Beliau menjadi kuat karena mampu mengubah setiap ujian menjadi jalan mendekat kepada Allah dan sarana menumbuhkan kasih sayang kepada sesama,” jelasnya.
Selain mendapatkan materi motivasi dan refleksi diri, para santri juga diajak mengenali tanda-tanda kelelahan emosional atau burnout yang kerap dialami remaja, terutama dalam menghadapi tuntutan akademik, target hafalan, aktivitas organisasi, serta kerinduan terhadap keluarga.
Sebagai bekal karakter, peserta diperkenalkan konsep ‘Mutiara Seorang Santri’ melalui filosofi lima jari tangan. Ibu jari melambangkan syukur dan adab kepada orang tua serta guru. Jari telunjuk menggambarkan integritas dan kejujuran. Jari tengah mengajarkan semangat memberikan kontribusi terbaik. Jari manis menjadi simbol ukhuwah, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama. Sementara jari kelingking mengingatkan pentingnya menjaga kebiasaan-kebiasaan kecil yang baik secara istiqamah.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui pemutaran video inspiratif, refleksi diri bertajuk Pasir dan Mutiaraku, diskusi, serta sesi muhasabah yang mengajak peserta merenungkan perjuangan orang tua dan tujuan hidup sebagai seorang santri.
Suasana haru terlihat ketika para peserta diajak mengingat pengorbanan ayah dan ibu yang terus berjuang agar mereka dapat menuntut ilmu di pesantren.
Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa setiap perjuangan yang dijalani saat ini merupakan bagian dari proses pembentukan karakter dan kematangan diri.
Melalui kegiatan ini, pesantren berharap para santri tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan keagamaan, tetapi juga memiliki ketangguhan mental, akhlak mulia, kepedulian terhadap sesama, serta kemampuan menjadikan setiap ujian sebagai jalan menuju kemuliaan.
“Santri yang hebat bukanlah santri yang hidup tanpa masalah, tetapi santri yang mampu mengubah setiap tantangan menjadi kesempatan untuk bertumbuh, memperbaiki diri, dan semakin dekat kepada Allah SWT,” ujar Lili.
“Misi kami adalah melahirkan generasi yang bukan hanya bagus IQ-nya saja, namun juga EQ yang berperan sangat penting dalam membentuk karakter para santri, dengan training ini, baik secara teori maupun praktik, santri-santri mengenal bagaimana mengelola emosi, yang sudah barang tentu menjadi tantangan perkembangan mereka, baik sekarang atau nanti, saat mereka mulai meraih cita-cita,” kata Saefullah Abu Bakar, MPd., Mudir UBK Plus.
(Wawan Hermawanto)


