Bogor | Jurnal Bogor
Sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian dalam mendukung pembangunan pertanian dan percepatan swasembada pangan, Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) menggelar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Jabatan Fungsional bagi Penyuluh Pertanian yang secara resmi dibuka Senin (08/06/2026) dan diikuti oleh 71 penyuluh pertanian Kabupaten Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan secara blended learning pada 8–10 Juni 2026
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mendampingi petani di lapangan..
Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi penyuluh merupakan investasi penting dalam memperkuat ekosistem pertanian nasional.
“Peran penyuluh tidak hanya sebagai penyampai teknologi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pendamping petani. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas harus dilakukan secara berkelanjutan agar penyuluh mampu menjawab kebutuhan petani yang semakin dinamis,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BBPMKP, Sukim Supandi dalam sambutan sekaligus arahannya menekankan bahwa perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi penyuluh pertanian untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
“Penyuluh pertanian harus mampu menjadi sumber informasi yang terpercaya bagi petani. Pengalaman lapangan, pemahaman kondisi spesifik wilayah, serta kemampuan membangun kepercayaan dengan petani merupakan nilai tambah yang tidak dapat tergantikan oleh teknologi,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi penyuluh dalam mendampingi petani, khususnya pada aspek literasi keuangan yang menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pengembangan usaha tani modern.
Ia menjelaskan bahwa tema pelatihan kali ini mengangkat literasi keuangan, sejalan dengan tugas dan fungsi BBPMKP dalam bidang manajemen dan kepemimpinan. Melalui pelatihan ini, penyuluh diharapkan mampu mendorong petani untuk menerapkan pengelolaan usaha tani yang lebih profesional, mulai dari pencatatan keuangan, pengelolaan modal, hingga perencanaan investasi usaha tani.
“Petani tidak hanya didorong untuk bertani sebagai aktivitas produksi, tetapi juga sebagai kegiatan usaha yang menguntungkan dan berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan peran aktif penyuluh sebagai pendamping dan penggerak perubahan di tingkat lapangan,” tambahnya.
Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal dan mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dalam mendukung peningkatan kapasitas petani di wilayah binaannya.
Melalui pelatihan ini, Kementerian Pertanian terus memperkuat peran penyuluh sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, sehingga mampu mendukung terwujudnya kedaulatan pangan yang berkelanjutan.
(Restu /BBPMKP)


