30.8 C
Bogor
Thursday, May 7, 2026

Buy now

spot_img

Inflasi Penjilat

Sudah 80 tahun Indonesia merdeka namun perlawana atas feodalisme dan budaya paternalistik masih bersarang dan belum usai. Praktik feodalisme malahan makin kuat dan massif menyebar di semua lini birokrasi, partai politik dan lingkar kekuasaan.

Akibatnya, terjadi inflasi penjilat di semua lini kehidupan. Praktik menjilat kekuasaan rela dilakukan demi mencapai tujuan-tujuan bertahan hidup. Ya cuma sekedar bertahan hidup. Seperti hidup di hutan belantara atau di padang pasir tandus. Hanya untuk cari makan dan memenuhi dorongan syhawat. Utamanya syahwat duniawi!

Padahal kehidupan kita akan tetap terus berjalan tanpa perlu menjilat pemilik modal, penguasa politik bahkan menjilat ludah sendiri. Namun praktik menjilat kini lazim dan sangat umum berlaku di sekitar kita. Kita hanya butuh sedikit untuk cukup pada kebutuhan dasar, makan, sandang, papan. Selebihnya syhawat duniawi.

Inflasi penjilat juga menggerogoti aktivis di tengah suara keras mereka soal kondisi problematika hukum, ekonomi dan sosial budaya di sekitar kita yang makin degradasi dari cita ideal berdirinya Republik Indonesia. Godaan .asuk dalam struktur kekuasaan selalu ada di depan pintu rumah mereka. Saat ini, nyaris semua elemen gerakan aktivis sudah masuk dalam struktur kekuasaan. Menambah populasi penjilat kekuasaan sehingga mengerek angka para penjilat menjadi over populasi. Jadilah inflasi penjilat.

Kenaikan jumlah penjilat di sekitar kehidupan kita juga diiringi dengan memburuknya kondisi ekonomi untuk keberlangsungan hidup. Seandainya kehidupan ekonomi dasar lapisan masyarakat menengah bawah terjamin murah, mudah diakses dan berkualitas baik, kita meyakini tidak akan terjadi over populasi penjilat yang menyebabkan inflasi penjilat.

Sudah jadi suratan takdir bahwa kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 baru tercapai karena peran penting para aktivials muda penggerak bandul revolusi. Mereka yang namanya tak semasyur Bung Karno, Bung Hatta termasuk Tan Malaka, adalah faktor penentu sehingga 2 bung besar itu bersedia membacakan proklamasi di Gedung Joang 45, Jakarta. Proklamasi itu terjadi karena perbandingan jumlah aktivis penjilat dan aktivis organik profetik berat sebelah. Lebih banyak aktivis profetik organik yang tulus dan murni ingin mencapai kemerdekaan sejati.

Sayangnya, saat ini jumlah aktivis profetik-organik itu kalah jumlah dengan aktivis penjilat yang hanya mementingkan isi perut dan dorongan syahwat segelintir orang. Cuma 1 persen dari 267 juta rakyat Indonesia yang mengatur dan memainkan bandul termasuk menciptakan para penjilat. Sisanya mengambang, tanpa arah, tersesat arus deras kebingungan mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah. Postruth politics era. Apalagi suasana itu diperkeruh dengan inflasi penjilat. Makin kusut benang layangan republik untuk mengudara.

Kini, saatnya percepatan perbaikan kondisi ekonomi rakyat sipil di menengah ke bawah. Agar ruang permainan para penjilat dibatasi hanya pada elit saja. Karena menjilat perlu seni tersendiri. Ada kalanya atraktif dan ada saatnya bermain halus. Anda ada di mana? Tabik!

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles