Cisarua | Jurnal Bogor
Di tengah serba mahalnya kebutuhan untuk pertanian, mulai dari harga plastik untuk membuat green house, hingga ke pupuk dan obat pembasmi hama, sebagian para petani banyak yang banting setir mengganti komoditi yang ditanannya. Hal ini dilakukannya, untuk menghindari kerugian dan membeli kebutuhan pertanian yang mahal.
Seperti yang dilakukan Hendra, petani Cisarua ini kini memilih untuk menanam ketimun. Menurutnya, jenis sayuran tersebut perawatannya mudah dan cepat untuk nenghasilkan uang dengan waktu tanam hanya 40 hari. Selain waktu yang relatif singkat, pupuk yang dibutuhkannya juga cukup sederhana.
“Bukannya kami tidak mau menanam jenis sayuran yang nilai jualnya mahal. Tetapi kondisi sekarang ini harga kebutuhan pertanian pada naik. Untuk menghemat biaya dan waktu, kami lebih memilih menanam ketimun. Hasilnya, lumayan bagus. Cepat panen dan perawatannya mudah. Begitu juga dengan pupuknya. Untuk tanam ketimun hanya memakai urea, TSP dan pupuk kandang, ” tutur Hendra.
Guna menghindari permainan harga hasil pertaniannya, Hendra lebih memilih menjual langsung hasil taninya ke para pedagang di Pasar Cisarua.
“Kami tidak menjual ke tengkulak, kita langsung saja bawa ke pasar Cisarua. Alhamdulillah dengan cara ini, harga hasil pertanian kita terjaga dengan baik, ” imbuhnya.
Sementara itu, pantauan di desa-desa yang masih terdapat lahan pertanian, sejak harga plastik green house mahal, mereka kini tidak lagi memakai cara tersebut. Bertani di alam terbuka kembali mereka lakukan.
** Dadang Supriatna


