Bogor | Jurnal Bogor
Ditengah semangat efisiensi anggaran yang digaungkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dengan menerapkan kebijakan work from home (WFH) setiap Jumat, dan imbauan agar aparatur sipil negara (ASN) menggunakan angkutan umum.
Kecamatan Bogor Timur (Botim) justru membeli satu unit mobil dinas (mobdin) Mitsubishi X Force berwarna putih yang diperuntukan untuk kendaraan operasional Camat Botim.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bogor, Rudy Mashudi. Menurut dia, dari dari enam kecamatan yang ada, hanya Kecamatan Bogor Timur yang membeli mobil dinas.
Hal itu lantaran mobil operasional camat secara teknis sudah melebihi lima tahun, karena sebelumnya mobil Toyota Rush yang sebelumnya digunakan dibeli pada 2017 lalu.
“Di kecamatan lain tidak beli mobil dinas. Yang ada hanya anggaran untuk pemeliharaan saja,” ujar Rudy saat dikonfirmasi, Senin (13/4).
Lelaki yang juga anggota Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Bogor itu menyebut bahwa pagi anggaran pembelian mobil dinas itu sebesar Rp397 juta.
Sementara itu, Kepala Bidang Anggaran pada Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Bogor, Karna Senanda mengatakan bahwa pengadaan mobil tersebut menggunakan e-katalog.
“Tentunya pembelian mobil dinss baru, sudah melalui kajian teknis di OPD tersebut. Memang kami menginginkan agar mobil dinas semuanya listrik. Tapi kembali ada pertimbangan mobilitas dan lain-lain,” kata Karna.
Karna mengakui bahwa infrastruktur untuk kendaraan listrik di Kota Bogor masih belum semua siap, dan mungkin itu yang menjadi pertimbangan pembelian mobil dinas konvensional.
Saat disinggung mengenai pembayaran pajak kendaraan per tahunnya. Karna mengatakan bahwa hal itu menjadi tanggungjawab OPD terkait.
“Kalau untuk pajak, anggarannya menjadi beban OPD masing-masing,” ungkap dia.
Diketahui, berdasarkan hasil penulusuran pajak tahunan Mitsubishi XForce sebesar Rp5,8 hingga Rp6,1 juta per tahun. Sementara pajak mobil listrik berada di kisaran Rp200 hingga Rp500 ribu per tahun.
** Fredy Kristianto


