Home News Yuk, Kenalan Dengan Scabies

Yuk, Kenalan Dengan Scabies

Oleh: dr. Ricky Julianto *)

jurnalinspirasi – Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis. Scabies dikenal juga dengan nama penyakit kudis, gudik, atau buduk. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan pada masyarakat di wilayah beriklim tropis dan subtropis.

Prevalensi skabies di negara berkembang lebih tinggi daripada di negara maju. Jumlah penderita skabies di dunia diperkirakan mencapai lebih dari 300-juta setiap tahunnya, sehingga menimbulkan beban ekonomi bagi individu, keluarga, masyarakat dan sistem kesehatan. Di Indonesia, skabies merupakan salah satu penyakit kulit yang paling sering dijumpai di puskesmas.

Keberadaan skabies dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain; usia, jenis kelamin, tingkat kebersihan, tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang skabies, kepadatan penghuni, keberadaan air bersih, budaya setempat, serta sosio-ekonomi.

Penyebaran skabies lebih mudah terjadi pada lingkungan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi dan kontak fisik yang erat. Kepadatan penghuni dalam rumah menjadi faktor risiko utama yang mendominasi dibandingkan dengan faktor risiko skabies lainnya.

Berdasarkan faktor risiko tersebut prevalensi scabies yang tinggi umumnya terdapat di asrama, panti asuhan, pondok pesantren, penjara, dan pengungsian. Eradikasi skabies di tempat dengan tingkat kepadatan penghuni yang tinggi, seperti asrama, panti asuhan, dan pondok pesantren, tidak dapat dilakukan secara individual, melainkan memerlukan pendekatan yang serentak dan menyeluruh.

Keluhan penderita Scabies adalah rasa gatal dialami saat malam hari, karena penggalian terowongan biasanya terjadi pada malam hari dan tungau menggali terowongan sambil bertelur atau mengeluarkan feses.

Individu dengan skabies akan mengalami penurunan kualitas hidup karena gejala gatal yang hebat, terutama pada saat malam hari, dan peradangan kulit yang dapat disebabkan oleh infeksi sekunder karena bakteri. Akibatnya, produktivitas dan prestasi akademik penderita menurun.

Tungau dewasa dapat keluar dari lapisan paling atas kulit, melekat pada pakaian penderita, dan dapat hidup di luar tubuh manusia selama tiga hari; masa tersebut cukup untuk menularkan skabies. Tungau berpindah tempat dengan cara merayap.

Penularan yang terjadi melalui kontak langsung adalah kontak kulit ke kulit yang cukup lama, misalnya pada saat tidur bersama. Kontak langsung dalam jangka pendek, seperti saat berjabat tangan atau berpelukan singkat, tidak akan menularkan tungau.

Skabies dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan diri serta lingkungan. Langkah-langkah pencegahan skabies melibatkan kebiasaan mandi secara teratur minimal dua kali sehari dengan air mengalir dan sabun. Selain itu, penting untuk membersihkan dan mengeringkan area genital dengan handuk bersih, serta menghindari penggunaan handuk atau pakaian bersamaan dengan orang lain. Untuk mencegah penularan, Anda disarankan untuk menghindari kontak yang lama dan erat dengan penderita skabies, seperti tidur bersama di satu kasur. Seluruh anggota keluarga atau masyarakat yang terinfestasi sebaiknya diobati secara bersamaan untuk memutus rantai penularan skabies.

Semua pakaian, handuk, sarung bantal guling, dan seprai harus dicuci dengan air panas minimal 2 kali seminggu untuk mematikan tungau. Selanjutnya barang-barang tersebut dijemur dibawah terik sinar matahari minimal 30 menit, lalu disetrika. Kasur, batal, guling, sofa, karpet, dan barang-barang yang berbulu juga harus dijemur dibawah terik panas sinar matahari. Tungau akan mati jika terpajan suhu 50°C selama 10 menit.

Apabila Anda mengalami gejala seperti; adanya rasa gatal terutama pada malam hari, ada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan keluhan serupa, maka Anda disarankan untuk berobat ke dokter untuk pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut. Mari bersama kita terapkan perilaku hidup bersih dan sehat agar terhindar dari penyakit Scabies.

Sumber:
Sungkar S. Skabies Etiologi, Patogenesis, Pengobatan, Pemberantasan, dan Pencegahan. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2016.

*) Dokter di RSUD Leuwiliang

Exit mobile version