“Sudah Beres” Soal Telur Busuk, Kejari Bingung

0
Kondisi telur yang dibagikan ke penerima BPNT di Babakan Madang.

JURNAL INSPIRASI – Pernyataan Farhan sebagai supplier telur ke PT. Aam Prima Artha (APA), terkait “sudah beres” dengan Kejaksaan, Dinas Sosial dan kepolisian soal adanya telur busuk yang dibagikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, baru-baru ini dibantah pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Bogor.

Dikonfirmasi melalui Whatsapp terkait pernyataan Farhan, Kasi Intel Kejari Kabupaten Bogor, Juanda menampik pemberitaan yang beredar. Bahkan, pihak Kejari belum pernah menemui supplier telur milik PT APA tersebut. “Makanya saya juga bingung beres terkait apa itu (pernyataan Farhan, red),” ujarnya,  Rabu (26/1).

Sebelumnya, Farhan supplier telur ke PT. Aam Prima Artha (APA) melakukan konferensi pers di Saung Abah, Kecamatan Babakan Madang, terkait persoalan telur busuk yang dikeluhkan warga. Persoalan sudah beres juga dia katakan termasuk kejaksaan.

“Adanya pertemuan dengan media ini merupakan bagian niat baik saya untuk memperbaiki nama PT Aam, dimana setelah ini PT Aam mau memakai saya lagi atau tidak itu saya kembalikan lagi kepada mereka. Yang pasti untuk persoalan ini mulai dari pergantian di masyarakat, klarifikasi ke Dinas Sosial, kepolisan, dan kejaksaan semuanya sudah beres,” papar Farhan.

Diakuinya untuk pengiriman ke Desa Karang Tengah menyatakan kewalahannya menyuplai 7.123 paket telur ke seluruh wilayah yang ada di Kabupaten Bogor. Farhan menyatakan dari banyaknya paket telur yang harus disupply, perusahaan tidak bisa memastikan telur yang disupply kepada agen itu busuk atau tidak. “Kita tidak tau telur itu kondisi dalamnya bagus atau tidak, kami hanya bisa ngecek kondisi telur itu bagus atau tidak,” ucapnya saat

Dari 7.123 paket, yang mana setiap paket berisi satu kilogram telur, Farhan mengatakan ketidaksanggupan perusahaan untuk melakukan screening satu per satu. “Kami tidak bisa melakukan pengecekan satu per satu,” katanya.

Farhan pun memaparkan dari 7123 paket telur, ada 95 paket yang dikeluhkan baik oleh agen maupun KPM. “Paket dari 7123 kedapatan yang komplain hanya 95 paket itu pun sebagaian besar sudah kami ganti,” paparnya.

Menurut Farhan, proses screening atau Quality Control (QC) sudah dilakukan terus menerus sedari peternakan. “Mungkin karena dikirim dari Jawa Tengah dan jumlahnya yang besar, mungkin disana ada proses dalam pengiriman yang memakan waktu beberapa hari hingga terjadinya pembusukan,” jelasnya.

Bahkan, lanjut Farhan, saat telur sampai di gudang, perusahaan kembali lakukan checking ulang terkait kondisi telur.

“Di gudang kembali dilakukan screening, apakah ada telur yang kurang baik atau tidak, saat di distribusikan ke agen pun, kami sudah mengingatkan untuk melakukan checking ulang kepada sebelum didistribusikan ke KPM,” tukasnya.

Farhan menambahkan, dirinya merupakan supplier telur yang dipakai oleh PT Aam Prima Artha untuk memenuhi kebutuhan bantuan BPNT yang dikelola oleh PT. Aam.

** Nay Nur’ain

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here