Home News Rehab SMPN 1 Leuwisadeng Molor

Rehab SMPN 1 Leuwisadeng Molor

SMPN 1 Leuwisadeng

JURNAL INSPIRASI – Pembangunan rehabilitasi total ruangan kelas di SMPN 1 Leuwisadeng, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor molor pekerjaannya. Pasalnya, pembangunan yang harus selesai pada akhir tahun 2021 dengan anggaran 1,2 miliar tersebut hingga kini belum tuntas.

Pengamat pendidikan, Budy Antoro mengatakan, masyarakat  tidak punya kewenangan apa-apa dan hanya melihat saja karena keharusan pihak ketiga yang mengerjakan. Meski demikian, Dinas Pendidikan tetap perlu intens pengawasan.

”Kondisi ini pembelajaran kedepan dan menentukan pihak ketiga itu harus lebih selektif lagi. Artinya pihak ketiga yang memang betul-betul berkompeten sesuai bidangnya,” ungkapannya, Senin (17/1/22).

Ia menilai, adanya keterlambatan pengerjaan tersebut juga dinilai wajar jika penyebabnya cuaca yang masuk dalam musim penghujan.

“Kalau keterlambatan karena alam seperti curah hujan yang tinggi saya rasa wajar yang penting pekerjaan selesai sesuai dengan speknya. Walaupun waktunya lamban. Karena kan cuaca tidak bisa di perkirakan,” jelasnya.

Ia menegaskan, jika dalam pembangun tersebut tidak sesuai dengan hasil pembangunan dirinya meminta agar diberikan sanksi tegas dari dinas terkait.

“Kalau sampai molor itu pihak ketiga nanti tinggal ditambahan waktunya yang diberikan oleh dinas itu disesuaikan. Biasa kan ada tambahan waktu karena faktor cuaca. Nanti pihak dinas menilai  ketika pihak ketiga nggak bagus ya kedepannya hukumannya jangan dikasih kerjaan lagi,” tegasnya.

Ia menambahkan, pekerjaan dunia pendidikan itu seharusnya selesai Desember dengan harapan pada Januari bisa dipakai oleh anak-anak untuk bersekolah.

“Yang efektif pihak sekolah itu bertemu dengan pihak ketiga sehingga nanti pihak sekolah bisa warning, bisa mengingatkan jadi ikut membantu komplain. Kalau sekarang kan sekolah nggak bisa komplain. Biasanya anggaran besar kualitas seadanya dari pihak ketiga. Beda kalau swakelola karena swakelola pihak sekolah punya tanggung jawab,” terangnya.

Ia menegaskan, dengan hal ini bukan kali terjadi pihak ketiga tidak mengedepankan kualitas konstruksi.

“Kalau pihak ketiga kan bicaranya keuntungan, kualitasnya kadang-kadang seadanya dan ini sering terjadi bukan di salah satu sekolah saja hampir banyak kejadian seperti itu,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak pelaksana pembangunan dari CV Srikandi saat dikonfirmasi di lokasi pembangunan enggan memberikan keterangan apapun.

** Andres

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version