Saat PTM, Sekolah Diimbau Gunakan Metode Belajar Team Teaching

0

Cigombong | Jurnal Inspirasi

Hasil pantauan pelaksanaan uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, berlangsung aman. Itu berkat kesiapan para pendidik, peserta didik, Satgas Penanganan Covid-19 dan juga peran serta orang tua peserta didik.

Namun demikian, ada beberapa hal penting yang menjadi  perhatian Satgas Penanganan Covid-19 Kecamatan Cigombong, yaitu pelaksanaan belajar pada masa saat ini harus mengedepankan disiplin penerapan protokol Covid-19 yakni saat datang ke sekolah dan saat proses belajar hingga pulang ke rumah.

 “Makanya saya mengimbau kepada pihak sekolah agar menerapkan beberapa konsep belajar antara lain, metode belajar yang dipakai dengan menggunakan pola team teaching,” ungkap Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19, Kecamatan Cigombong, Asep Achadiat Sudrajat kepada wartawan.

Selain itu, lanjutnya, setiap kelas minimal ada dua orang guru, seperti pola lesson study. Namun tugas dan fungsi masing-masing guru berbeda. Semisal, satu mengajar dan satunya memantau aktivitas siswa.

Tak hanya itu, Asep pun menyatakan, metode belajar diupayakan untuk menghindari saling kontak antar siswa, mengurangi cooperative learning dan belajar kolaborasi karena pembelajaran tersebut membuat siswa kontak langsung dengan teman-temannya. “Di sisi lain, guru juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang fun atau happy,” jelas Sekretaris Kecamatan Cigombong tersebut.

Menurutnya, suasana belajar yang fun dan happy  penting untuk diterapkan pada setiap sesi pembelajaran agar imunitas dalam diri siswa tetap terjaga. Disadari bahwa, suasana psikologi yang tertekan dan banyak beban, membuat imunitas menurun. Dan kondisi imunitas yang rendah sangat rentan tertular virus apa pun, lebih-lebih Covid-19.

 “Tujuan belajar pada masa pandemi, bukan semata untuk mentransfer pengetahuan dan memahamkan siswa tentang suatu ilmu, melainkan lebih dari itu adalah menjaga agar siswa terpelihara kepekaan sosial dan naluri kemanusiaannya,” papar Asep.

Untuk muatan materi pelajaran, sambung mantan Kepala Bidang (Kabid) di Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor itu, disusun dengan mengacu pada paradigma baru ilmu pengetahuan yang multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner.

Ditegaskan Asep, materi pelajaran sekolah dapat dipadukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan konektivitas antardisiplin ilmu. Dengan memadukan beberapa disiplin ilmu dalam pembelajaran di sekolah, minimal dapat mengatasi masalah ketercapaian masing-masing materi pelajaran. Artinya, pada satu pokok bahasan mengandung beberapa disiplin ilmu.

 “Materi pelajaran yang terintegrasi relevan dengan model belajar team teaching. Guru dalam satu tim dapat bertukar peran kala pembelajaran berlangsung,” jelasnya.

Ia menerangkan, untuk durasi belajar maksimal adalah tiga jam sehari. Hal tersebut dikaitkan dengan masa jenuh pemakaian masker. Waktu tiga jam sekolah tatap muka lumayan cukup untuk mentransfer pengetahuan dengan model belajar team teaching, fun and happy learning.  “Jika lebih dari tiga jam dikhawatirkan, akan terjadi kejenuhan pada siswa dalam mengikuti protokol Covid-19,” tukas Asep.

** Dede Suhendar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here