Home News Menkes Nyatakan Testing Corona Formalitas

Menkes Nyatakan Testing Corona Formalitas

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap testing Corona (Covid-19) yang dilakukan di Indonesia belakangan ini sekadar formalitas dan menyasar pihak-pihak yang punya kepentingan tertentu, seperti bertemu orang, pejabat negara atau hendak bepergian. Pasalnya, total kasus harian mencapai 11.788 kasus baru sehingga tingkat positif atau positivity rate Covid-19 harian tetap tinggi dan bahkan kembali pecah rekor, Minggu (24/1).

Dalam 24 jam terakhir, angka positivity rate menyentuh 33,2 persen. Angka ini menggambarkan bahwa setiap 1 dari 3 orang yang dites dalam satu hari terakhir diketahui positif Covid-19. Rekor sebelumnya pecah pada Minggu (17/1) dengan 32,8 persen.

Menkes pun mengkritik sistem pemeriksaan atau testing dan penelusuran atau tracing, yang dilakukan Indonesia selama pandemi ini. Menurutnya, ada kesalahan secara epidemiolog tentang cara melakukan testing Covid-19 di Indonesia.

“Kita enggak disiplin. Cara testingnya salah. Testingnya banyak kok naik terus. Abis yang dites orang kayak saya, setiap kali ke Presiden dites. Seminggu bisa lima kali diswab karena masuk istana, emang bener gitu?” kata Budi Sadikin dalam sebuah webinar dikutip dari kanal YouTube PRMN Suci, Minggu (24/1).

“Testing kan enggak gitu harusnya. Testing epidemiologi itu, aku diajarin teman-teman dokter, bukan testing mandiri, yang dites itu orang yang suspek, bukan orang yang pergi kayak Budi Sadikin ngadep Presiden. Nanti 5 kali standar WHO kepenuhi tuh 1 per 1.000 seminggu, tapi enggak ada gunanya testingnya secara epidmeiologi. Nah yang gitu-gitu yang mesti diberesin,” lanjutnya.

Sebelum itu, Menkes menekankan bahwa strategi penanganan pandemi Covid-19 ini bukan hanya soal vaksin dan rumah sakit. Lebih penting dari itu, mantan Dirut Inalum ini menegaskan yang harus segera diurus saat ini adalah perubahan protokol kesehatan pasca pandemi dan sebelum pandemi. “Karena ini beda,” ujarnya.

Ia mengibaratkan bagaimana prosedur naik pesawat udara berubah drastis setelah insiden pesawat jet menabrak menara kembar WTC di AS 11 September 2001. Seketika itu, semua penumpang diperiksa, bukan hanya barang bawaan, sampai sepatu yang dikenakan pun tak luput dari pemeriksaan. Semua prosedur berubah dan semua penumpang dituntut mengikuti standar itu.

“Tapi bisa. Manusia itu beradaptasi meng-handle miliaran orang yang berputar lewat transportasi udara,
nah itu juga sama (protokol kesehatan pasca pandemi),” kata Budi.

Menurutnya, sekarang tidak hanya transportasi udara, tapi semua industri, seperti kuliner, perbankan, perhotelan, konser-hiburan, manufaktur dan lain sebagainya, juga harus berubah dan mesti dibuat protokol kesehatan di industrinya masing-masing pasca Covid-19. “Pakai digital lah, pakai apalah, caranya begini lah, begitu lah, pakai e-wallet, karena akan berubah,” terang mantan Wakil Menteri BUMN ini.

Termasuk protokol proses belajar-mengajar di sekolah dan perguruan tinggi, terang Budi, juga akan berubah. Begitu juga protokol kampanye politik akan berubah pasca Covid-19 dan sebelum Covid-19.

“Sama seperti transportasi udara pasca 9-11 dan pre 9-11, itu berubah sekali. Nah itu yang aku bilang mesti ditata sekarang dan enggak bisa sendiri mesti tanya orang-orang yang ngerti,” ungkapnya.

** ass

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version