Beroperasi 18 Januari, RS Lapangan Covid Digeber

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Rumah Sakit (RS) Lapangam Covid-19 telah memasuki tahapan finishing. Pasalnya, Pemkot Bogor terus menggeber pembangunan lantaran RS itu mulai beroperasi pada 18 Januari hingga tiga bulan kedepan.

Kepala RS Lapangan Yeti Haryati, mengatakan, pembangunan RS itu memakan anggaran Rp16 miliar dan memiliki 68 tempat tidur. Masing-masing lantai pada rumah sakit tersebut, kata dia, mempunyai fungsi berbeda.

“Lantai satu untuk IGD, lantai dua ruang isolasi wanita dengan jumlah 28 bed, lantai tiga terdapat 28 tempat tidur dan tenda besar untuk 12 pasien,” jelasnya.

Kata dia, RS Lapangan diperuntukan bagi pasien yang memiliki gejala dan memerlukan penanganan medis.

Terpisah, Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim menuturkan, Pemkot Bogor kemungkinan takkan memperpanjang kerjasama dengan BNN Lido, yang habis pada Maret 2021. Hal itu lantaran, sambung Dedie, Pemkot Bogor ditawari lokasi baru untuk lokasi isolasi pasien OTG Covid-19 di mess BNPB Sentul.

Sementara itu, tingginya kasus positif Covid-19 di Kota Bogor membuat RSUD mukai kekurangan tenaga kesehatan (nakes). Hal itu pun diakui Direktur Utama RSUD, dr Ilham Chaidir.

“Ya, kita sudah berusaha meninggkatkan jumlah Nakes dengan berbagai upaya, baik rekrutmen dan nakes-nakes dari CPNS,” ucapnya.

Menurutnya, kekurangan bukan hanya pada perawat saja, termasuk ke dokter-dokter. Dokter paru di RSUD ada 2 orang, idealnya satu dokter untuk 20 pasien, tetapi saat ini satu dokter menangani 50 pasien.

“Dokter paru-paru seharusnya ada 6 orang. Tetapi sekarang sudah dilakukan penambahan 2 orang, jadi sudah ada 4 dokter paru-paru. Selain dokter paru paru, dokter penyakit dalam juga masih kurang, padahal kinerja dokter penyakit dalam sering dilibatkan dalam penanganan pasien Covid-19,” katanya.

Kekurangan lainnya di jumlah perawat yang ada di RSUD. Saat ini sedang rekrutmen perawat. Saat ini ada 400 perawat di RSUD. Idealnya berdasarkan tempat tidur, setiap empat tempat tidur oleh satu orang perawat. Jadi kebutuhan perawat sesuai tempat tidur seharusnya 520 orang perawat.

“Untuk perawat kita masih kekurangan 120 orang. Sekarang perawat kita juga yang 400 orang, diterjunkan sebanyak 250 untuk menangani corona. Jadi perawat yang non menangani covid ada 150 orang. Upaya yang kita lakukan saat ini melakukan rekrutmen, baik umtuk perawat maupun dokter,” paparnya

Selain itu, lanjut Ilham, yang saat ini paling mendesak adalah akan diaktifkannya rumah sakit lapangan di GOR Pajajaran. Kebutuhan ICU idealnya satu tempat tidur itu satu orang perawat. Jadi kalau ada 20 tempat tidur, maka 20 orang perawat, jadi ketika digunakan 4 shif, maka dibutuhkan 80 perawat di rumah sakit lapangan.

“Kita kesulitan mencari perawat-perawat ICU, karena perawat itu harus dilatih tentang kegawat daruratan, BTLS, sertifikat lainnya dan di upgare dengan latihan-latihan. Jadi kebutuhan di rumah sakit lapangan GOR Pajajaran, sebanyak 128 orang, diantaranya dokter umum ada 10 orang, dokter specialis dan perawat. Saat ini sedang dilakukan pelatihan terhadap perawat dan dokter untuk di rumah sakit lapangan,” terangnya.

Sejumlah dokter dan perawat senior dari RSUD juga sudah diturunkan, ada sebanyak 8 orang yang nanti bertugas di rumah sakit lapangan. Ilham memaparkan, jumlah pegawai sebenarnya on proses, dan sudah masuk di minggu depan akan ada penambahan 17 orang siap bekerja, diantaranya, dokter umum 4 orang, perawat 8 orang, apoteker 2 orang, pranata lab 1 orang, perekam medis 1 orang, dan analis hukum 1 orang.

“Itu semua yang mengikuti CPNS, ditambah rekrutmen yang ditargetkan 72 orang dan baru berjalan 46 orang. Mereka sudah melakukan sejumlah tes. Nanti gelombang 3 sebanyak 28 calon perawat sesuai nota dinas penambahan perawat. Target penambahan 74 perawat di RSUD. Jadi ada gelombang ke 1, 2, dan ke 3. Jadi tes yang dilakukan juga sangat ketat, karena RSUD ingin memiliki orang orang yang profesional dan mampu bekerja,” bebernya.

** Fredy Kristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here