Ancaman Resesi Bayangi Ekonomi RI

0

Bogor | Jurnal Inspirasi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai bersikap realistis terhadap prospek perekonomian Indonesia yang saat ini dalam situasi krisis akibat pandemi corona (Covid-19). Jokowi bahkan menyebut, harapan Indonesia untuk keluar dari situasi ini hanya ada di kuartal III.

Hal ini dikemukakan Jokowi saat memberikan pengarahan kepada para gubernur mengenai percepatan penyerapan APBD 2020 di Istana Kepresidenan Bogor, Kota Bogor. “Kita harus berani berbuat sesuatu untuk ini diungkit ke atas lagi. Momentumnya adalah di bulan Juli, Agustus, September. Kuartal tiga. Momentumnya ada di situ,” kata Jokowi, seperti dikutip melalui laman Sekretariat Kabinet, Jumat (17/7).

“Kalau kita enggak bisa mengungkit di kuartal ketiga, jangan berharap kuartal keempat akan bisa. Sudah. Harapan kita hanya ada di kuartal ketiga. Juli, Agustus, dan September.”

Jokowi tak memungkiri bahwa Indonesia saat ini memasuki situasi yang luar biasa sulit lantaran harus berhadapan masalah ekonomi dan kesehatan. Maka dari itu, Jokowi meminta seluruh pihak dapat mengendalikan situasi ini.

“Jangan sampai tidak terkendali. Enggak bisa kita ngegas yang hanya ekonominya saja, enggak bisa. Ya Covid-19-nya juga nanti malah naik ke mana-mana. Enggak bisa. Dua-duanya ini harus betul-betul di gas dan remnya betul,” jelasnya.

Eks Gubernur DKI Jakarta itu memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 akan mencatatkan minus yang cukup tinggi. Menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi jatuh di -4,3%. “Dari hitungan pagi tadi yang saya terima, mungkin kita bisa minus ke 4,3%,” kata Jokowi.

Bahkan, sambung Jokowi, apabila Indonesia kala itu memutuskan untuk mengambil kebijakan lockdown, bukan tidak mungkin angka pertumbuhan ekonomi akan jauh lebih parah dibandingkan proyeksi saat ini. “Saya enggak bisa bayangin, kalau kita dulu lockdown gitu, mungkin bisa minus 17%,” tegas Jokowi.

Sebelumnya, kabar ini telah disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Ekonomi kuartal II diperkirakan negatif 4,3% atau lebih dalam dari proyeksi sebelumnya yakni minus 3,8%.

“Kalau resesi yang terjadi di Singapura karena mereka negara sangat tergantung pada international trade dan dengan berbagai langkah melakukan PSBB mereka namanya circuit brake, maka seluruh kegiatannya menjadi terhenti ditambah lingkungan globalnya sangat melemah,” tegas Sri Mulyani yang ditemui di Gedung DPR.

Dijelaskan Sri Mulyani, perekonomian dari Singapura bergantung kepada ekonomi global. Karena ekspornya lebih dari 100%. “Sehingga ekonomi dia kecil maka domestic demand-nya tidak bisa men-subtitusi. Oleh karena itu penurunan dari Singapura sangat besar, karena memang tidak terjadi perdagangan internasional yang selama ini menjadi engine of growth-nya.”

Bagaimana dengan Indonesia dengan kondisi seperti ini. “Kita tentu waspadai, karena bagaimana pun juga Indonesia engine of growth kita konsumsi, investasi, dan ekspor, hari ini pemerintah menggunakan seluruh mekanisme anggarannya untuk men-subtitusi pelemahan di sisi konsumsi dan di sisi investasi maupun ekspor,” tuturnya.

Sri Mulyani menambahkan, APBN tidak bisa berjalan sendiri, untuk itu pemerintah menggalakkan supaya sektor perbankan segara pulih.

“Makanya kita menggunakan penempatan dana pemerintah di perbankan dengan suku bunga rendah, kita meluncurkan kredit yang diberikan jaminan sehingga antara bank dan korporasi terutama UMKM mereka segera pulih kembali, karena itu salah satu darah dari perekonomian, mesinnya supaya bisa jalan lagi,” jelasnya.

ASS|**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here