APBN 2020 Defisit Rp 179,6 Triliun

0

Bogor | Jurnal Inspirasi
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 mencatatkan defisit Rp 179,6 triliun hingga akhir Mei. Jumlah ini setara dengan 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, melaporkan bahwa penerimaan negara per akhir Mei 2020 adalah Rp 664,3 triliun. Ini setara dengan 37,7% dari target dan turun 9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dikutip dari CNBC, penerimaan Perpajakan tercatat Rp 526,2 triliun atau 36% dari target dan 7,9% lebih rendah secara year-on-year (YoY). Setoran dari Direktorat Jenderal Pajak adalah Rp 44,6 triliun atau 35,4% dari target dan truun 10,8% YoY. Sementara setoran dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah Rp 81,7 triliun atau 39,2% dari target, tetapi masih naik 12,4% YoY.

“Namun cukai harus waspada. Growth ini tidak akan tumbuh sampai akhir tahun,” kata Sri Mulyani dalam keterangan pers APBN Kita edisi Juni 2020, Selasa (16/6).

Sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PBNP), posisi per akhir Mei adalah Rp 136,9 triliun. Angka ini adalah 46% dari target dan turun 13,6% YoY. “Memang ada kontraksi penerimaan dibandingkan tahun lalu karena Covid-19. Perusahaan tertekan dan terlihat di Mei ini,” kata Sri Mulyani.

Lalu di sisi belanja negara, totalnya adalah Rp 843,9 triliun. Angka ini adalah 32,3% dari target dan turun 1,4% YoY. Belanja pemerintah pusat hingga akhir Mei adalah Rp 537,3 triliun atau 29% dari target, masih tumbuh 1,2% YoY. Lalu belanja transfer ke daerah dan dana desa tercatat Rp 306,6 triliun atau 40,2 dari target, turun 6,7% YoY. Realisasi penerimaan dan belanja ini menghasilkan defisit anggaran Rp 179,6 triliun atau 1,1% PDB. Jumlah tersebut masih 21,1% dari target, tetapi melonjak 42,8% YoY.

ASS |**

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here