Huntap Untuk 223 KK, Warga tak Sabar Ingin Direlokasi

0
Bupati Ade Yasin (kiri) ketika mengunjungi Cigudeg.

Cigudeg | Jurnal Bogor

Saat kunjungan ke Cigudeg Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan tahun ini, usai tanggap darurat bencana banjir Cigudeg dan longsor Sukajaya, Pemerintah Kabupaaten Bogor memfokuskan pembangunan hunian tetap (Huntap) yang ada di Desa Sukaraksa, Kecamatan Cigudeg seluas 3,8 hektar untuk 223 kepala keluarga. Nantinya dilahan yang sama akan diperluas buat huntap tahap selanjutnya dengan total luas 28,5 hektar.

“Saat ini sudah mulai kita land clearing dari ajuan pertama 3,8 hektar kebutuhan banyak menjadi 28.5 hektare, tahap pertama 3,8 dulu karena site plan sudah jadi, insyallah siap dibangun,” kata Bupati Bogor Ade Yasin kepada wartawan, kemarin.

Ade Yasin mengatakan, setelah pembangunan huntap seluas 3,8 nantinya akan ditambah kurang lebih 1600 kepala keluarga sebagian ada dari sukajaya. Karen, ada beberapa wilayah Sukajaya tidak boleh dibangun. “Sementara di tiga Desa Cileuksa, Pasir Madang dan Cisarua masuk zona merah dan tidak dianjurkan untuk dibangunkan huntap sampai pembangunan RTLH juga tidak boleh,” jelasnya

Warga Nanggung yang tinggal di pengungsian ingin segera direlokasi.

Selain itu, Ade juga menuturkan, pihaknya sedang menyelesaikan adminitrasi dulu karena sebagian dihuni warga dari kecamatan lain juga. “Biayanya satu rumah 50 juta, nanti difasilitasi jalan setapak lampu listrik dan MCK, bahkan kantor desa juga direlokasi,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengaku, pihaknya memberikan tenggat waktu yang cepat, karena masih ada tahapan yang dilaksanakan mengenai adminitrasi lainnya. “Untuk jangka waktu tidak lama, tiga bulan saya ingin selesai dan untuk rumahnya yang terkena bencana kita relokasi, ada upaya supaya tidak terjadi dengan melakukan penanaman pohon kuat salah satunya vetiver dan tanaman buah yang berjalan selama setahun, bekerjasama dari BNPB, pemkab dan kementrian Lingkungan Hidup (LH),” pungkasnya.

Sementara ratusan korban bencana alam pergerakan tanah di Desa Nanggung, Kecamatan Nanggung  yang terjadi pada 1 Januari 2020 lalu, sampai saat ini mengunggu kepastian dari Pemerintah Kabupaten Bogor. Musababnya, Pemkab pasca musibah bencana alam  sudah menginformasikan akan melakukan relokasi korban bencana, tapi waktunya belum ditentukan. 

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Nanggung, Mamur alias Amung menyatakan, sejak terjadinya pristiwa pergerakan tanah  sampai saat ini sejumlah warga korban masih menunggu kabar kapan mereka akan direlokasi.

Menurut Amung, kisaran 300 Kepala Keluarga (KK) lebih, terdata warga korban bencana alam yang rumahnya mulai dari rusak ringan sedang dan berat yang berasal di 5 kampung, yakni Kampung Rancabakti, Cibitung, Banar dan Kampung Siranggap.

Termasuk para korban  dari kampung pariuk sebanyak 55 KK  yang  terjadi pergerakan tanah beberapa tahun lalu. sebelumnya sudah direncakan untuk direlokasi tetapi hingga kini para korban tersebut masih menuggu.” kata Amung, kepada Jurnal Bogor, Rabu (19/2).

Sedangkan untuk korban warga Kampung Rancabakti dari 118 KK, jelas Amung hasil survey dilapangan 10 KK masih bertahan tinggal ditenda pengungsian. “Waktu direlokasinya kapan belum diketahui, maunya warga masyarakat ada kepastian dari pemerintah kapan direlokasi,” papar Amung.

Ia menjelaskan, adapun tanah untuk bangunan rumah relokasi sudah ada bahkan sebelumnya sudah diukur dengan melibatkan pihak BPN Kabupaten Bogor. “Hal ini tinggal menunggu keseriusan dari Pemkab Bogor karena warga korban sudah siap untuk direlokasi,” imbuhnya.

Hal serupa dikatakan, Kepala Dusun 3 Desa Nanggung, H Deden Mulyawidanta, hampir dua bulan warga korban bencana alam menunggu di relokasi. Sampai detik ini    baik  dari pemerintah pusat, Pemkab Bogor maupun dari pihak Kecamatan belum ada informasi lanjutan prihal perencanaan bangunan relokasi,” tanya Deden

Menurut dia, warga masyarakat sering menanyakan tentang nasib mereka (para korban,red)  apalagi yang masih tinggal di pengungsian. “Kami tidak bisa bertahan tinggal di pengungsian. Kami berharap untuk pengerjaan relokasi kalau bisa secepatnya karena kasian masyarakat,” harapnya.

Cepi Kurniawan | Arip Ekon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here