28 C
Bogor
Sunday, August 23, 2026

Buy now

spot_img

BUMIKU Market: Membuka Jalan UMKM Ciburuy untuk Lebih Dikenal di Era Digital

Oleh: Vidya Allivia
Mahasiswa Universitas Djuanda (Unida)
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Sains Komunikasi

Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, memiliki potensi ekonomi lokal yang tidak sedikit. Berbagai produk dihasilkan oleh masyarakat, mulai dari makanan, minuman, pertanian dan perkebunan. Selain itu, terdapat pula kerajinan tangan serta berbagai usaha masyarakat lainnya. Puluhan UMKM yang tersebar di berbagai sektor tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sekaligus sumber pendapatan bagi keluarga di Desa Ciburuy.

Namun, potensi tidak selalu berjalan beriringan dengan keterkenalan. Produk yang bagus belum tentu mudah ditemukan, terutama jika pemasaran masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan penjualan langsung di sekitar lingkungan tempat tinggal. Kondisi tersebut juga ditemukan pada UMKM Desa Ciburuy. Akibatnya, jangkauan pasar menjadi terbatas dan produk unggulan desa belum banyak dikenal oleh masyarakat di luar wilayahnya.

Di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin dekat dengan teknologi, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian. Digitalisasi seharusnya tidak hanya menjadi istilah yang sering dibicarakan dalam pengembangan UMKM, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk yang benar-benar dapat digunakan oleh pelaku usaha. Menurut saya, persoalan UMKM desa bukan semata-mata karena mereka tidak memiliki produk untuk dijual, melainkan karena produk tersebut belum memiliki ruang yang cukup untuk ditemukan oleh pasar yang lebih luas.

Dalam konteks itulah BUMIKU Market menjadi menarik. BUMIKU Market merupakan website yang menghimpun UMKM Desa Ciburuy dalam satu etalase digital. Melalui platform ini, UMKM dapat memiliki profil usaha yang memuat informasi produk, foto, alamat, serta kontak WhatsApp. Produk juga dikelompokkan berdasarkan kategori sehingga masyarakat lebih mudah mencari produk sesuai kebutuhannya.

Menurut saya, kekuatan BUMIKU Market bukan terletak pada kecanggihan teknologinya. Justru, kekuatannya ada pada kesederhanaannya. Platform ini menggunakan Google Sites yang mudah digunakan dan tidak membutuhkan kemampuan coding khusus. Ditambah dengan QR Code yang dapat dipasang di kantor desa maupun lokasi UMKM, masyarakat dapat mengakses BUMIKU Market melalui smartphone dengan lebih praktis.

Hal tersebut penting karena inovasi digital di tingkat desa tidak harus selalu menghadirkan sistem yang rumit. Teknologi yang sederhana tetapi sesuai dengan kemampuan pengguna justru dapat lebih bermanfaat. BUMIKU Market mencoba menjawab kebutuhan tersebut dengan membuat satu ruang bersama, sehingga pelaku UMKM tidak harus membangun dan mengelola platform digital secara sendiri-sendiri.

Lebih dari itu, BUMIKU Market memiliki potensi untuk mengubah cara masyarakat memandang produk lokal. Selama ini, produk UMKM mungkin hanya dikenal oleh tetangga atau pelanggan di sekitar tempat usaha. Dengan adanya satu etalase digital, produk-produk tersebut dapat diperkenalkan sebagai bagian dari identitas ekonomi Desa Ciburuy. Pemerintah desa juga dapat menggunakan platform tersebut untuk mempromosikan potensi ekonomi desa sekaligus memiliki data UMKM yang lebih terstruktur. Bagi masyarakat, platform ini memberikan kemudahan untuk menemukan dan membeli produk lokal.

Tetapi, di sinilah pertanyaan yang lebih penting muncul: apakah keberadaan sebuah website otomatis membuat UMKM menjadi digital?

Jawabannya tentu tidak.

Sebuah website hanya menjadi alat. Dampaknya bergantung pada bagaimana alat tersebut digunakan. Jika BUMIKU Market hanya dibuat, diluncurkan, kemudian dibiarkan tanpa pembaruan, maka ia berisiko menjadi sekadar katalog digital yang perlahan kehilangan fungsi. Produk UMKM dapat berubah, harga dapat berubah, kontak penjual dapat berganti, bahkan sebuah usaha bisa saja berhenti beroperasi. Tanpa pengelolaan yang aktif, informasi di dalam website akan semakin jauh dari kondisi nyata.

Karena itu, menurut saya, tantangan terbesar BUMIKU Market bukanlah membuat website, melainkan mempertahankan kehidupan website tersebut setelah program KKN berakhir.

Proposal BUMIKU Market sebenarnya sudah menyadari persoalan tersebut. Salah satu tujuan jangka panjangnya adalah agar website dapat dikelola secara mandiri oleh pemerintah desa dan perwakilan UMKM setelah program KKN selesai. Gagasan ini merupakan langkah yang tepat, tetapi keberlanjutan tidak cukup hanya dengan menunjuk admin.

Harus ada kebiasaan untuk memperbarui informasi, mekanisme yang jelas untuk memasukkan UMKM baru, memperbarui produk dan harga, serta memastikan pelaku usaha tetap aktif memanfaatkan platform. Tanpa hal tersebut, keberadaan BUMIKU Market dapat berhenti pada pencapaian bahwa “website sudah dibuat”, bukan pada pencapaian bahwa “website benar-benar digunakan dan memberikan dampak.”

Di sisi lain, BUMIKU Market juga tidak boleh hanya bergantung pada website. Masyarakat mungkin mengetahui keberadaan platform melalui QR Code, tetapi mereka tetap membutuhkan alasan untuk mengunjungi dan kembali menggunakan platform tersebut. Karena itu, keberadaan BUMIKU Market perlu didukung dengan promosi melalui media sosial, kegiatan desa, maupun promosi langsung oleh para pelaku UMKM. Website menjadi pusat informasi, sementara media lain dapat menjadi pintu masuk untuk mengarahkan masyarakat ke platform tersebut.

Jika keberlanjutan tersebut dapat dijaga, BUMIKU Market memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh. Proposalnya bahkan membuka kemungkinan pengembangan menuju sistem pemesanan online, pembayaran digital, fitur ulasan dan rating pelanggan, kerja sama dengan jasa pengiriman, sektor pariwisata, dan industri kreatif.

Namun, pengembangan fitur seharusnya tidak menjadi tujuan utama sebelum penggunaan dasarnya benar-benar berjalan. Akan lebih baik memiliki website sederhana yang aktif, diperbarui, dan benar-benar digunakan masyarakat daripada memiliki banyak fitur tetapi tidak dimanfaatkan. Keberhasilan BUMIKU Market seharusnya diukur bukan dari seberapa banyak fitur yang dimiliki, tetapi dari seberapa jauh platform tersebut membantu UMKM menemukan pasar baru dan memperkuat ekonomi lokal.

Pada akhirnya, BUMIKU Market adalah langkah yang relevan bagi Desa Ciburuy karena berangkat dari persoalan yang nyata: banyaknya potensi UMKM belum diikuti dengan jangkauan pemasaran yang luas. Platform ini memberikan ruang bersama agar produk-produk lokal lebih mudah ditemukan dan diperkenalkan. Tetapi, BUMIKU Market tidak boleh berhenti sebagai proyek digital yang selesai ketika program KKN selesai.

BUMIKU Market harus menjadi milik desa, bukan sekadar peninggalan program KKN.

Ketika pemerintah desa, pelaku UMKM, dan masyarakat bersama-sama menjaga serta menggunakan platform tersebut, BUMIKU Market dapat berkembang dari sekadar etalase digital menjadi bagian dari ekosistem ekonomi Desa Ciburuy. Sebab, persoalan UMKM bukan hanya bagaimana membuat produk, tetapi juga bagaimana membuat produk tersebut dikenal, dipercaya, dan memiliki akses menuju pasar.

Desa Ciburuy sebenarnya sudah memiliki produknya. Kini yang dibutuhkan adalah panggungnya. Dan BUMIKU Market dapat menjadi salah satu panggung tersebut, selama keberlanjutan pengelolaannya tetap dijaga oleh pemerintah desa dan para pelaku UMKM.

**

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles