Bogor | Jurnal Bogor
Transformasi pertanian menuju sistem budidaya modern terus dipercepat Kementerian Pertanian. Sebanyak 578 penyuluh pertanian dari Jawa Barat, Daerah Khusus Jakarta, dan Kalimantan Utara mengikuti Training of Trainers (ToT) Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) secara full distance learning pada 29–31 Juli 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan ToT PM-AAS secara nasional yang digelar serentak oleh unit pelaksana pelatihan lingkup Kementerian Pertanian. Pelatihan tersebut ditujukan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia pertanian, khususnya penyuluh, agar mampu mengawal penerapan teknologi pertanian modern dan mendampingi petani dalam meningkatkan produktivitas serta efisiensi usaha tani.
Peserta pelatihan terdiri atas Ketua Kelompok Substansi Penyuluhan Pertanian, Ketua Tim Kerja, dan Koordinator Penyuluh Pertanian. Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembekalan mengenai kebijakan dan teknologi budidaya PM-AAS, pemeliharaan tanaman berkelanjutan, digital farming, serta praktik penerapan pertanian modern yang dapat diimplementasikan di wilayah masing-masing.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa transformasi pertanian menuju sistem modern perlu terus dipercepat untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
“Pertanian modern harus bertransformasi menjadi pertanian yang menjadikan petani sejahtera. PM-AAS merupakan sistem budidaya modern yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani secara signifikan,” ujar Mentan Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, yang membuka kegiatan secara daring, mengatakan bahwa penyuluh memiliki posisi strategis dalam memastikan teknologi pertanian modern dapat diterapkan secara efektif di tingkat petani.
“Penyuluh pertanian memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam mengawal implementasi PM-AAS. Melalui ToT ini, diharapkan para peserta memiliki pemahaman yang utuh mengenai teknologi budidaya pertanian modern sehingga mampu mengakselerasi penerapannya di wilayah masing-masing,” ujar Idha.
Sementara itu, Kepala BBPMKP Sukim Supandi mengatakan, penguatan kompetensi penyuluh menjadi bagian penting dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian modern di lapangan.
“BBPMKP terus berupaya menghadirkan pelatihan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Melalui ToT PM-AAS ini, kami menyiapkan penyuluh pertanian agar mampu menjadi trainer sekaligus pendamping petani dalam menerapkan sistem budidaya modern berbasis efisiensi, presisi, dan keberlanjutan,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh materi mengenai kebijakan pengembangan PM-AAS, teknologi budidaya pertanian modern, pemeliharaan tanaman berkelanjutan, penerapan digital farming, hingga praktik terpadu pertanian modern yang mencakup teknologi panen dan pascapanen.
Pembelajaran dilakukan secara sinkron melalui Zoom Meeting dan dilengkapi praktik mandiri di lokasi masing-masing peserta dengan pendampingan fasilitator BBPMKP. Model pembelajaran tersebut diharapkan mampu memperkuat pemahaman peserta sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam mentransfer pengetahuan dan teknologi kepada penyuluh maupun petani di wilayah kerja masing-masing.
Melalui ToT PM-AAS, Kementerian Pertanian mendorong penyuluh menjadi penggerak utama transformasi pertanian modern di daerah. Dengan meningkatnya kapasitas penyuluh dan semakin luasnya adopsi teknologi, penerapan PM-AAS diharapkan mampu meningkatkan produktivitas padi, efisiensi usaha tani, dan kesejahteraan petani sekaligus mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.
(Restu/BBPMKP)


