30.7 C
Bogor
Thursday, June 25, 2026

Buy now

spot_img

Presiden Prabowo: Petani dan Nelayan Tulang Punggung Republik, Swasembada Pangan Harus Dijaga Seterusnya

Gorontalo | Jurnal Bogor
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan merupakan capaian bersejarah yang lahir dari kerja keras petani dan nelayan di seluruh Tanah Air. Menurutnya, petani dan nelayan bukan hanya penopang ketahanan pangan nasional, tetapi juga berkontribusi signifikan dalam sejarah Republik Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan.

“Saya bangga karena sudah cukup lama berjuang bersama para petani dan nelayan. Sebagai mantan prajurit, saya memahami betul bahwa sejak lahirnya TNI, para pejuang kita didukung oleh rakyat, oleh petani dan nelayan. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, tentara belum memiliki anggaran, tetapi mereka bertahan karena dukungan petani dan nelayan,” ujar Presiden Prabowo saat menghadiri Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

Presiden menegaskan bahwa pangan merupakan sektor yang menentukan keberlangsungan sebuah bangsa. Tidak ada negara maupun peradaban yang mampu bertahan tanpa pangan. Karena itu, keberpihakan kepada petani dan nelayan menjadi bagian penting dari perjuangannya dalam membangun Indonesia yang berdaulat dan sejahtera.

Menurut Presiden, keberhasilan swasembada pangan saat ini membuktikan bahwa Indonesia mampu mengandalkan kekuatan produksi dalam negeri. Hampir seluruh kebutuhan pangan strategis nasional kini dapat dipenuhi dari hasil kerja anak bangsa.

“Ini adalah prestasi kita bersama. Ini akibat kerja keras saudara-saudara sekalian. Saya menyampaikan penghargaan dan rasa hormat kepada para petani, nelayan, serta seluruh jajaran pemerintah yang bekerja keras mewujudkan cita-cita besar ini,” kata Presiden.

Adapun standar definisi swasembada pangan yang digunakan adalah berasal dari The Food and Agriculture Organization (FAO). FAO menetapkan standar suatu negara dapat memperoleh predikat swasembada adalah apabila impor pangan tidak sampai melebihi 10 persen.

Untuk Indonesia sendiri, impor masih terpaksa dilakukan untuk 3 pangan pokok strategis dari 11 pangan pokok strategis. Namun jumlahnya tidak sampai 5 persen, sehingga predikat swasembada pangan masih dapat disematkan kepada Indonesia.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pencapaian swasembada pangan harus dijaga secara berkelanjutan melalui penguatan produksi dan pengamanan hasil pangan nasional.

“Kita pernah mencapai swasembada pangan pada 1984. Kini kita yakin swasembada pangan tidak hanya bertahan satu tahun, tetapi untuk seterusnya. Seluruh produksi pangan harus kita amankan melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan hilirisasi,” tegasnya.

Presiden optimistis produktivitas pertanian Indonesia akan terus meningkat. Dengan penerapan teknologi, perbaikan sarana produksi, dan dukungan kebijakan pemerintah, produktivitas gabah yang sebelumnya sekitar 5 ton per hektare berpotensi meningkat hingga 10 ton per hektare.

“Tidak lama lagi Indonesia bisa menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Petani dan nelayan adalah tulang punggung republik ini,” ujar Presiden.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa berbagai kebijakan Presiden Prabowo telah memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani dan percepatan produksi pangan nasional.

“Kami mewakili jutaan petani Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Bapak Presiden. Kebijakan penyederhanaan distribusi pupuk dan deregulasi sarana produksi pertanian telah memberikan kemudahan yang sangat dirasakan petani di lapangan,” kata Amran.

Amran mengungkapkan bahwa capaian sektor pangan dan pertanian Indonesia saat ini mendapat pengakuan internasional. Berdasarkan data terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38 juta ton dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen beras utama di dunia.

FAO menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh. Akan tetapi dari 4 besar dunia tersebut, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan akan mengalami perkembangan produksi beras yang positif.

Sementara jika dibandingkan angka perkiraan produksi beras periode 2025/2026 terhadap 2024/2025, Indonesia menjadi negara dengan peningkatan produksi yang paling gemilang. Deviasinya mencapai lebih dari 4 juta ton. Ini sangat jauh dibandingkan peningkatan produksi beras India yang 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh 1,1 juta ton.

Proyeksi positif dari FAO lainnya adalah Indonesia diprediksi menjadi negara dengan stok akhir periode 2026/2027 yang dapat mencapai 7,8 juta ton. Dalam ramalan FAO terbaru Juni ini, Indonesia memperoleh urutan terbesar keempat sejagat dalam hal stok beras untuk 2026/2027.

Angka proyeksi stok beras Indonesia tersebut yang di angka 7,8 juta ton bahkan lebih besar dibandingkan Bangladesh dengan 7,6 juta ton. Padahal Bangladesh merupakan produsen beras ketiga besar dunia.

Sementara negara pertama dengan stok berasnya yang terbesar adalah Tiongkok dengan 105,1 juta ton. Di urutan kedua adalah India dengan 53,2 juta ton dan disusul oleh Thailand dengan 9,3 juta ton. Akan tetapi dari 4 besar tersebut hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan mengalami tren peningkatan stok dalam rentang 2025/2026 ke 2026/2026.

Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mencapai level tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian juga mencapai 5,7 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir.

“Capaian ini merupakan hasil kerja keras petani dan nelayan seluruh Indonesia yang didukung penuh oleh kebijakan pemerintah. Ke depan, kami akan terus memperkuat produksi, distribusi, dan cadangan pangan agar swasembada pangan dapat terjaga secara berkelanjutan,” pungkas Kepala Bapanas Amran.

(Restu /BBPMKP)

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles