29 C
Bogor
Sunday, June 21, 2026

Buy now

spot_img

Majelis Taklim Bekali Ibu-ibu Keterampilan Mengelola Emosi Saat Mood Berantakan

Bogor | Jurnal Bogor
Di tengah berbagai tuntutan peran sebagai istri, ibu, sekaligus pengelola rumah tangga, kesehatan emosi menjadi salah satu aspek penting yang sering terabaikan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Majelis Taklim Al Madinatul Al Munawarrah, Greenland Foresthill Residence Semplak, Bogor menyelenggarakan kajian bertema Spiritual First Aid: pertolongan pertama saat mood berantakan, Minggu (21/06/2026).

Kajian ini diikuti kurang lebih 30 jamaah ibu-ibu dan berlangsung selama 120 menit dalam suasana hangat, reflektif, dan penuh makna menghadirkan Lili Marliyuana, Emotional Healing Therapist, yang sekaligus juga Direktur ABCo Therapy Center, yang mengajak peserta memahami pentingnya mengenali dan mengelola emosi sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Bidang Ibadah dan Dakwah Majelis Taklim, Santi Andriyanti mengatakan bahwa kajian ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental dan emosional para ibu yang sering kali lebih fokus merawat orang lain daripada memperhatikan kondisi dirinya sendiri.

“Seorang ibu adalah pusat ketenangan dalam keluarga. Namun sering kali para ibu menyimpan kelelahan, kekhawatiran, dan berbagai beban emosi tanpa memiliki ruang untuk mengelolanya. Melalui kajian ini kami berharap para jamaah mendapatkan bekal praktis untuk menjaga kesehatan hati dan emosinya sehingga dapat menjalankan peran dengan lebih tenang dan bahagia,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Lili menjelaskan bahwa mood yang tidak stabil bukan sekadar persoalan perasaan sesaat. Menurutnya, perubahan suasana hati sering kali merupakan akumulasi dari kelelahan fisik, tekanan psikologis, konflik relasi, hingga kurangnya waktu untuk memulihkan diri secara spiritual.

“Banyak orang mengira dirinya tiba-tiba marah atau sensitif. Padahal biasanya itu adalah puncak dari berbagai emosi yang sudah lama menumpuk. Yang terlihat mungkin kemarahannya, tetapi di baliknya bisa ada kesedihan, kekecewaan, rasa takut, atau perasaan tidak dihargai,” jelasnya.

Dalam sesi tersebut peserta diajak memahami konsep ‘gunung es emosi’, yaitu kondisi ketika emosi yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari apa yang sebenarnya sedang dirasakan seseorang. Peserta juga diajak mengenali berbagai tanda kelelahan emosi, seperti mudah tersinggung, sulit fokus, overthinking, kehilangan semangat, gangguan tidur, hingga menurunnya kualitas ibadah.

Menurut Lili, banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan emosi ketika masalah sudah terasa berat. Padahal, sebagaimana tubuh membutuhkan pertolongan pertama saat terluka, emosi juga membutuhkan penanganan sejak dini.

“Spiritual First Aid adalah keterampilan sederhana untuk menolong diri sendiri ketika hati sedang tidak baik-baik saja. Kita belajar berhenti sejenak, menyadari apa yang dirasakan, menerima emosi yang hadir, lalu menyerahkan segala beban kepada Allah. Ini bukan tentang menghilangkan masalah, tetapi mengelola respons kita terhadap masalah tersebut,” katanya.

Selain mendapatkan pemahaman mengenai hubungan antara pikiran, emosi, tubuh, dan spiritualitas, para peserta juga diperkenalkan pada konsep Spiritual First Aid: pertolongan pertama saat mood berantakan melalui formula sederhana S.A.F.E. (Stop, Acknowledge, Feel & Free, serta Entrust to Allah).

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah praktik Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Melalui metode ini, peserta diajak melakukan teknik tapping yang dipadukan dengan doa, penerimaan diri, dan pendekatan spiritual untuk membantu menurunkan intensitas emosi negatif.

Suasana menjadi semakin khusyuk ketika peserta melakukan refleksi diri dan latihan melepaskan berbagai emosi yang selama ini dipendam. Beberapa peserta tampak terharu ketika menyadari bahwa selama ini mereka lebih sering mengabaikan kebutuhan emosinya sendiri.

Santi menilai kegiatan semacam ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, terutama di tengah berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks.

“Kami berharap kajian ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan emosi bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bagian dari ikhtiar untuk menjadi pribadi yang lebih sehat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah. Ketika hati seorang ibu tenang, insya Allah ketenangan itu akan mengalir kepada seluruh anggota keluarganya,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis untuk mengenali, menerima, dan mengelola emosi secara sehat sehingga mampu menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan lebih tenang, bijak, dan penuh syukur.

“Mood yang sehat bukan berarti hidup tanpa masalah. Mood yang sehat adalah kemampuan untuk kembali tenang setelah diterpa berbagai ujian kehidupan,” pungkas Lili.

(Wawan Hermawanto)

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles