Cisarua | Jurnal Bogor
Sudah dua pekan ini harga-harga kebutuhan pembangunan atau material bangunan terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini menyebabkan para pengusaha proyek untuk sementara berhenti operasi. Mereka harus kembali melakukan penghitungan ulang terhadap kebutuhan material dan komitmen dengan pemilik bangunan.
Seperti yang dilakukan Suhendi, pengusaha yang bergerak di pembangunan vila juga kolam renang, dia kini tertegun dengan harga-harga material seperti semen, cat dan yang lainnya mengalami kenaikan yang cukup tinggi.
“Sangat berat dirasakan menjalankan pekerjaan sekarang ini. Harga-harga untuk pembangunan mengalami kenaikan. Semen Jayamik yang biasa kita beli Rp 50 ribu untuk satu saknya, kini menjadi 58 ribu. Begitu juga di berbagai jenis cat tembok dan besi mengalami hal kenaikan. Cat tembok merk Apitex sebelumnya 140 ribu untuk kemasan 5 kilo, kini menjadi 160 ribu, ” tuturnya.
Untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di dua unit pembangunan vila, ia kini berusaha untuk melakukan musyawarah kembali bersama pemilik vilanya. Alasannya, jika diteruskan pekerjaannya bukannya mendapatkan untung, malah akan merugi.
“Dengan adanya kenaikan harga bahan bangunan itu, kita harus kembali melakukan musyawarah bersama pemilik bangunan. Karena jika diteruskan dengan hitungan nilai yang lama, kita bisa merugi. Untuk ini harus ada musyawarah kembali untuk menentukan biaya pembangunan sesuai dengan harga bahan bangunan sekarang ini, ” imbuh Suhendi.
Sementara itu, sejak terjadinya kenaikan bahan bangunan tersebut, banyak kegiatan pembangunan dihentikan kegiatannya.
“Orderan material banyak yang di-cancel. Ini karena terjadinya perubahan keuangan yang harus dikeluarkan oleh para pelaku usaha pembangunan. Terjadinya kenaikan bahan bangunan menjadikan usaha material kita jadi sepi, ” pungkas H. Sugio, toko material di Cisarua.
** Dadang Supriatna


