Jakarta | Jurnal Bogor
Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) kembali mencatatkan capaian positif dalam penguatan kualitas pelatihan aparatur. Hal ini ditunjukkan melalui hasil akreditasi lembaga pelatihan tahun 2026 oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia yang diumumkan pada Senin (20/4/2026) di Jakarta.
Dalam penilaian tersebut, BBPMKP berhasil meraih nilai 93,07 (A) untuk program Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) serta 87,23 (B) untuk Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II. Hasil ini mencerminkan peningkatan kualitas penyelenggaraan pelatihan, khususnya pada aspek tata kelola, efektivitas pembelajaran, dan dukungan sistem kelembagaan.

Capaian akreditasi ini menjadi indikator bahwa transformasi pelatihan di lingkungan Kementerian Pertanian berjalan ke arah yang lebih adaptif, terstandar, dan berorientasi pada hasil. Tidak hanya berfokus pada pemenuhan standar, pelatihan juga diarahkan untuk menghasilkan pemimpin birokrasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan sektor pertanian secara konkret.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kualitas pelatihan kepemimpinan memiliki peran strategis dalam membentuk birokrasi yang profesional dan berdampak.
“Penguatan kompetensi kepemimpinan bukan sekadar peningkatan kapasitas individu, tetapi investasi jangka panjang untuk memastikan program pembangunan berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa akreditasi merupakan instrumen penting dalam menjaga konsistensi mutu sekaligus mendorong perbaikan berkelanjutan.
“Setiap hasil akreditasi harus dimaknai sebagai pijakan untuk memperkuat sistem pembelajaran, meningkatkan kualitas layanan, serta memastikan pelatihan mampu menghasilkan ASN yang adaptif, inovatif, dan berintegritas,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BBPMKP, Sukim Supandi, menyampaikan bahwa peningkatan nilai akreditasi ini merupakan hasil dari pembenahan menyeluruh, mulai dari perencanaan program, penguatan kurikulum berbasis kompetensi, hingga modernisasi sarana dan prasarana pembelajaran.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan komitmen seluruh pihak dalam menjaga mutu pelatihan.
“Capaian ini bukan akhir, tetapi bagian dari proses peningkatan berkelanjutan. Kami akan terus mendorong inovasi pembelajaran, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan penguatan metode experiential learning agar pelatihan semakin relevan dan berdampak,” jelasnya.
Dalam laporan penilaian, LAN mencatat sejumlah praktik baik yang telah dijalankan BBPMKP, antara lain keterlibatan aktif seluruh unsur dalam perencanaan dan pelaksanaan pelatihan, diseminasi hasil pembelajaran melalui berbagai kanal, serta dukungan pembiayaan yang memadai.
Selain itu, penguatan fasilitas pembelajaran yang semakin modern dan inklusif, termasuk akses bagi penyandang disabilitas, menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas layanan pelatihan ke depan.
Melalui capaian ini, Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kelembagaan pelatihan sebagai pusat pengembangan kompetensi ASN. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan pemimpin birokrasi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga adaptif dan berdaya saing dalam mendukung pembangunan pertanian yang maju, mandiri, dan modern.
(Restu/BBPMKP)


