Ciawi | Jurnal Bogor
Memasuki hari pertama Ramadan, Kementerian Pertanian memastikan produksi dan pasokan pangan nasional tetap terjaga. Momentum Ramadan yang identik dengan peningkatan kebutuhan pangan menjadi perhatian serius pemerintah, sehingga sistem produksi dan distribusi terus diperkuat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan petani.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) menyelenggarakan Bertani On Cloud (BOC) Volume 342 bertema “MBG Butuh Aksi, P4S Siap Beraksi”, Kamis (19/02/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh insan pertanian dari berbagai daerah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa stabilitas produksi menjadi kunci menjaga ketenangan masyarakat selama Ramadan.
“Produksi harus terjaga, distribusi harus lancar. Dengan sistem yang terorganisir, ketersediaan pangan aman dan masyarakat tenang menjalankan ibadah,” tegasnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa pemenuhan pangan bergizi tidak hanya berkaitan dengan konsumsi masyarakat, tetapi merupakan satu kesatuan sistem hulu–hilir yang dimulai dari produksi di tingkat petani hingga distribusi ke konsumen.
Menurutnya, penguatan kelembagaan petani melalui Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung keberlanjutan pasokan, termasuk dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam sesi tersebut dipaparkan praktik baik dari P4S Agro Jaya Kabupaten Magelang yang telah membangun pola tanam terjadwal berbasis zonasi di 12 kecamatan. Melalui koordinasi lintas kelompok tani dan kemitraan dengan koperasi, jaringan 2.000–3.000 petani mampu menjaga stabilitas produksi hortikultura dan umbi sepanjang musim.
Sistem tersebut kini mendukung pasokan bagi 50 dapur MBG di Kabupaten Magelang. Distribusi dilakukan secara terjadwal dan berbasis kebutuhan, sehingga rantai pasok menjadi lebih tertata, efisien, serta mampu menjaga mutu dan keamanan pangan.
Model ini menunjukkan bahwa kelembagaan petani tidak hanya berperan dalam meningkatkan produksi, tetapi juga dalam memastikan keberlanjutan suplai sesuai kebutuhan program prioritas pemerintah. Pola tanam yang disusun terencana, proses grading dan pengemasan yang terstandar, serta koordinasi distribusi yang terintegrasi menjadi faktor penentu dalam menjaga konsistensi pasokan.
Dalam kesempatan membuka acara, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Tedy Dirhamsyah menekankan bahwa kebutuhan pangan, baik untuk konsumsi masyarakat maupun program prioritas pemerintah, berlangsung secara rutin dan memerlukan perencanaan produksi yang terukur.
Sementara itu, Kepala BBPMKP Sukim Supandi menegaskan bahwa Program MBG merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agenda besar pembangunan pertanian dan pembangunan sumber daya manusia nasional.
“Pemenuhan pangan bergizi tidak hanya dipandang sebagai isu konsumsi, tetapi sebagai satu sistem hulu–hilir yang dimulai dari produksi, pengolahan, hingga distribusi yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan. Karena itu, keberhasilan program ini menuntut keterlibatan aktif pelaku utama dan pelaku usaha pertanian di lapangan,” ujarnya.
Melalui BOC Vol. 342, diharapkan terbangun komitmen bersama untuk memperkuat peran kelembagaan petani dalam mendukung program MBG. Dengan sinergi dan semangat gotong royong, pertanian diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menyediakan pangan bergizi berbasis potensi lokal, sebagai kontribusi nyata dalam membangun Indonesia yang sehat dan berdaya saing.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan motivasi bagi insan pertanian, khususnya para tunas muda pertanian, untuk terus memajukan pertanian menuju Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia.
(Restu/BBPMKP)

