Cigombong | Jurnal Bogor
Putus sekolah dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Bogor tidak membuat Abdul Ropi patah semangat untuk terus berkarya. Berbekal hobi membongkar dan merakit peralatan elektronik secara otodidak, pemuda asal Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor ini justru berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional di bidang aeromodeling.
Abdul Ropi diketahui pernah meraih juara III pada ajang lomba aeromodeling tingkat nasional Piala Panglima TNI yang digelar di Lapangan Terbang Atang Sanjaya, milik TNI Angkatan Udara. Kegiatan tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa.
Pesawat yang dilombakan merupakan hasil rakitan sendiri dengan memanfaatkan bahan polyfoam serta komponen elektronik bekas yang direkondisi. Jenis pesawat yang diikutsertakan dalam perlombaan tersebut adalah tipe pylon atau pesawat khusus balap.
“Pesawat yang saya rakit terbuat dari polyfoam, sedangkan komponen elektroniknya dari barang bekas. Jenis pesawatnya pylon atau pesawat balap. Alhamdulillah tim kami bisa meraih juara tiga,” ujar Abdul Ropi, Kamis (05/02/26).
Keterbatasan ekonomi sempat membuat Ropi harus berhenti sekolah di MAN 4 Bogor. Ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek, sehingga tidak mampu membiayai pendidikan lanjutan.
“Ayah saya kerjanya ngojek, jadi untuk kebutuhan keluarga sangat terbatas. Karena tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah, saya berhenti sekolah di MAN 4 Bogor,” ungkapnya.
Namun berkat kemampuannya memperbaiki peralatan elektronik, Ropi kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program beasiswa dari SMK Taman Global Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
“Beberapa tahun kemudian saya diminta melanjutkan sekolah di SMK Taman Global dengan beasiswa dari Ibu Hajjah Lilih Kurniasih dan dukungan dari Kepala Sekolah, Bapak Nandang Tejakusuma, yang terus memberikan saya semangat,” katanya.
Ropi bukan lulusan sekolah kejuruan bidang elektronik. Seluruh kemampuan yang dimilikinya diperoleh secara mandiri tanpa pendidikan formal di bidang tersebut. Ia belajar melalui buku dan berbagai tayangan pembelajaran di media sosial.
“Saya belajar mandiri atau otodidak, dari buku dan juga dari media sosial. Komponen pesawat semuanya dari barang bekas. Contohnya, remote pesawat yang aslinya harganya sekitar Rp7 juta, saya beli dalam kondisi rusak lalu saya perbaiki, jadi modalnya hanya sekitar Rp500 ribu. Kamera pesawat yang harganya jutaan juga saya beli rusak Rp300 ribu, lalu bisa normal lagi,” jelasnya.
Berkat keahliannya tersebut, pada tahun 2023 Ropi membuka usaha jasa servis drone dan peralatan elektronik dengan nama Rovi Servis.
Ke depan, Ropi berharap dapat mengembangkan kemampuannya dengan membuat pesawat berukuran lebih besar.
“Kalau ada rezeki, saya ingin membuat pesawat yang lebih besar lagi, bahkan cita-cita saya ingin membuat pesawat Hercules,” pungkasnya. Yudi

