Oleh: Nada Khairina
(Program Studi: D3 Perbankan dan Keuangan Untirta Serang)
jurnalinspirasi.co.id – Era digital memang memudahkan masyarakat dalam melakukan layanan keuangan yang ada. Hanya dengan satu ketukan, masyarakat bisa membuka rekening, mengajukan kredit, bahkan bisa melakukan transaksi secara praktis. Namun, kemudahan transaksi yang tidak dibersamai dengan pemahaman terkait pengelolaan keuangan justru bisa menjadi boomerang bagi masyarakat itu sendiri.
Otoritas Jasa Keuangan mengatakan literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku terhadap keuangan untuk meningkatkan pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan keuangan masyarakat. Sementara itu, Finance Strategist mendefinisikan literasi keuangan sebagai kemampuan untuk memahami konsep keuangan dan menerapkannya ketika membuat keputusan tentang tabungan, investasi, dan manajemen keuangan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa literasi keuangan adalah pemahaman terhadap konsep keuangan yang disertai kemampuan untuk menerapkannya dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan keuangan. Dengan demikian, literasi keuangan tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga mencakup kemampuan dalam menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Mengapa Literasi Keuangan Penting?
Literasi keuangan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat mencapai kestabilan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan jangka panjang melalui investasi serta kondisi keuangan yang stabil. Pemahaman yang baik mengenai keuangan memungkinkan seseorang mengelola pendapatan, merencanakan pengeluaran, serta mengantisipasi risiko di masa depan.
Beberapa manfaat literasi keuangan antara lain:
Pengelolaan Keuangan Membaik: Memahami literasi keuangan sama dengan memahami bagaimana mengelola uang dengan baik. Memahami pengelolaan uang yang baik memungkinkan Anda membagi dan merencanakan uang sesuai dengan prioritas Anda. Hal ini sangat memengaruhi keuangan Anda di masa depan. Perencanaan keuangan yang baik tidak hanya membuat Anda merasa tenang saat ini, tetapi juga membuat Anda memiliki pegangan untuk masa depan.
Bertanggung jawab dan percaya diri dalam membuat keputusan keuangan: Saat ini, banyak orang yang berbelanja secara impulsif. Masyarakat terus membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan karena takut tertinggal dari tren. Namun, memahami literasi keuangan akan membantu seseorang memahami bahwa setiap keputusan keuangan memiliki konsekuensi, baik atau buruk. Selain itu, bagi seseorang yang melek finansial, kepercayaan dirinya dalam negosiasi akan meningkat. Oleh karena itu, menjadi lebih tahu tentang keuangan membuat keputusan keuangan yang lebih bijak.
Terhindar dari penipuan: Dengan pengetahuan keuangan yang cukup, seseorang dapat mengidentifikasi tanda-tanda bahaya untuk menghindari penipuan dan mendapatkan perlindungan konsumen. Orang yang paham keuangan akan melindungi keuangannya dengan memahami hak-hak perlindungan konsumen bahkan sebelum terkena bahaya.
Bijak dan bijaksana dalam menggunakan uang: Ketika seseorang telah mahir mengelola uangnya, harta yang dimilikinya dapat digunakan dengan baik atau bahkan memberikan keuntungan; taraf hidup pun dapat meningkat secara signifikan.
Bagaimana tingkat literasi keuangan di Provinsi Banten?
Di atas kertas, literasi keuangan menawarkan banyak manfaat. Namun, apakah masyarakat benar-benar sudah memahami hal tersebut? Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia berada di angka 66,46%, yang artinya mengalami peningkatan dari tahun 2022 sebesar 16,78%. Meskipun mengalami peningkatan, angka tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat sebagian masyarakat yang belum memiliki pemahaman keuangan yang memadai.
Provinsi Banten menjadi salah satu wilayah dengan tingkat literasi keuangan yang belum sepenuhnya merata. Sebagai salah satu wilayah yang memiliki karakteristik yang beragam, mulai dari kawasan perkotaan hingga semi-rural, perbedaan tingkat pendidikan, pendapatan, sampai dengan akses informasi yang tidak merata menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan.
Dampak dari rendahnya literasi keuangan terhadap masyarakat
Salah satu dampak dari rendahnya literasi keuangan tersebut dapat dilihat dari perilaku masyarakat dalam mengelola kredit dan utang. Minimnya pemahaman mengenai mekanisme pinjaman, bunga, serta risiko kredit berpotensi mendorong masyarakat mengambil keputusan keuangan yang kurang tepat. Kondisi ini tercermin dari perkembangan kredit dan kualitas pembiayaan di daerah.
Berdasarkan laporan perekonomian daerah oleh Bank Indonesia, penyaluran kredit di Provinsi Banten terus mengalami pertumbuhan seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, baik pada sektor rumah tangga maupun korporasi . Namun, peningkatan kredit tersebut juga perlu diimbangi dengan kualitas pengelolaan yang baik. Dalam praktiknya, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) pada salah satu bank daerah di Banten sempat berada di kisaran 7% hingga mendekati 10% pada periode 2024, sebelum kemudian menurun menjadi sekitar 4–5% pada tahun 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun terjadi perbaikan, risiko kredit tetap menjadi perhatian. Tingginya NPL pada periode sebelumnya mengindikasikan adanya tantangan dalam kemampuan sebagian masyarakat dalam memenuhi kewajiban kreditnya. Hal ini memperkuat dugaan bahwa rendahnya literasi keuangan, khususnya dalam memahami kredit dan manajemen utang, berkontribusi terhadap meningkatnya risiko utang di masyarakat. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa peningkatan akses terhadap kredit belum sepenuhnya diiringi dengan kesiapan masyarakat dalam mengelola keuangannya secara bijak.
Kemampuan perbankan dan regulator dalam meningkatkan tingkat literasi keuangan
Perbankan perlu memperkuat program edukasi untuk meningkatkan literasi keuangan agar dapat berjalan secara optimal di Provinsi Banten. Perbankan dapat memperkuat program edukasi keuangan yang lebih aplikatif, seperti sosialisasi pengelolaan keuangan rumah tangga, pemahaman kredit yang sehat, serta pemanfaatan layanan digital secara aman. Edukasi ini dapat dilakukan tidak hanya melalui kampanye umum, tetapi juga melalui pendekatan langsung kepada nasabah, khususnya pada saat pengajuan kredit atau penggunaan produk keuangan tertentu.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan sebagai regulator sektor jasa keuangan juga memiliki peran penting dalam mendorong peningkatan literasi melalui kebijakan dan program nasional. Inisiatif edukasi keuangan, penguatan perlindungan konsumen, serta kolaborasi dengan perbankan, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan literasi keuangan hingga ke berbagai lapisan masyarakat di Banten.
Dengan adanya sinergi antara perbankan dan regulator, diharapkan masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara bijak. Peningkatan literasi keuangan yang diiringi dengan pemahaman yang memadai terhadap kredit dan manajemen utang diharapkan dapat menekan risiko keuangan, termasuk potensi meningkatnya utang dan kredit bermasalah di masyarakat.
Pada akhirnya, literasi keuangan bukan hanya tentang memahami angka, tetapi juga tentang membentuk pola pikir dalam mengelola keuangan secara bijak. Di tengah meningkatnya akses terhadap layanan keuangan di Provinsi Banten, peningkatan literasi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengelola keuangan yang cerdas dan bertanggung jawab.
**


