Leuwiliang | Jurnal Bogor
RSUD Raden Moh Noh Nur Leuwiliang, Kabupaten Bogor terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi melalui pendekatan berbasis metode ilmiah yang terukur dan berkelanjutan.
Upaya ini diwujudkan melalui penerapan Quality Improvement (QI), sebuah gerakan perbaikan mutu layanan yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan berkesinambungan di seluruh unit pelayanan maternal dan neonatal, 15 April 2026.

Langkah ini diawali dari evaluasi internal yang jujur dan menyeluruh untuk mengidentifikasi titik-titik yang masih perlu diperbaiki dalam pelayanan. Berdasarkan hasil tersebut, tim mutu yang terdiri dari tenaga kesehatan lintas profesi menyusun dan mengimplementasikan berbagai program perbaikan dengan pendekatan berbasis data dan kebutuhan nyata di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, RSUD Raden Moh Noh Nur melakukan upaya peningkatan kualitas layanan (Quality Improvement) dengan mengadopsi metode PDSA (Plan, Do, Study, Act), yaitu siklus perbaikan berkelanjutan yang telah digunakan secara luas di berbagai institusi layanan kesehatan dunia.
Melalui metode ini, setiap program dirancang dengan target yang jelas, diuji dalam praktik, dievaluasi berdasarkan data, dan disempurnakan secara berulang untuk mencapai hasil optimal.
Saat ini, terdapat tiga fokus utama program Quality Improvement yang sedang berjalan. Pertama, penguatan alur penanganan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal, dengan melakukan pemetaan menyeluruh terhadap proses pelayanan mulai dari IGD PONEK hingga ruang bersalin, ruang critical neonatal, ruang ICU, maupun ruang bedah yang tersedia 24 jam, termasuk dukungan penunjang berupa bank darah, laboratorium, maupun sistem rujukan terintegrasi (SPGDT), guna memastikan respons yang cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Kedua, implementasi Bundle of Care dan clinical pathway untuk kondisi berisiko tinggi, sehingga seluruh tenaga kesehatan menjalankan standar tindakan klinis yang sama, konsisten, dan berbasis evidensi. Ketiga, pelaksanaan Audit Maternal Perinatal secara rutin sebagai forum evaluasi bersama untuk membahas kasus secara terbuka dengan tujuan perbaikan sistem, bukan mencari kesalahan individu.
Selain penguatan sistem pelayanan, rumah sakit juga memberikan perhatian pada aspek edukasi pasien. Sebelum dipulangkan, setiap ibu dan keluarga mendapatkan edukasi terstruktur mengenai tanda bahaya pascapersalinan, perawatan bayi baru lahir, serta pentingnya kontrol lanjutan.
Bagi pasien yang dipulangkan dalam kondisi tertentu yang memerlukan pemantauan lanjutan, rumah sakit memastikan adanya pengawasan berkelanjutan dari tenaga kesehatan wilayah setempat hingga pasien kembali melakukan kontrol ke rumah sakit.
Koordinasi antara pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan di wilayah pasien tinggal dilakukan melalui sistem komunikasi terintegrasi bernama SiKeina, sehingga perawatan dan pengawasan pasien dapat berjalan secara utuh dan berkesinambungan, baik selama di rumah sakit maupun saat pasien telah kembali ke lingkungan tempat tinggalnya.
Penguatan jejaring komunikasi dan koordinasi ini merupakan bagian dari upaya yang masih didukung oleh pendanaan dari program MOMENTUM Country and Global Leadership (MCGL), sebuah inisiatif global yang berfokus pada percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir melalui penguatan sistem kesehatan di tingkat lokal. Dukungan MCGL memungkinkan rumah sakit untuk terus mengembangkan kapasitas jejaring layanan antara fasilitas kesehatan rujukan dan tenaga kesehatan di komunitas, sebagai bagian dari ekosistem pelayanan maternal-neonatal yang terintegrasi dan responsif.
Seluruh inisiatif perbaikan yang dijalankan dilengkapi dengan indikator kinerja yang jelas, dievaluasi secara berkala, serta dilaporkan secara transparan kepada manajemen rumah sakit. Dengan demikian, setiap langkah perbaikan tidak hanya terukur, tetapi juga akuntabel dan berorientasi pada hasil nyata.
Sebagai rumah sakit rujukan di wilayah Bogor Barat, RSUD Raden Moh Noh Nur melayani masyarakat dari berbagai kecamatan dengan harapan yang sama: keselamatan ibu dan bayi. Melalui implementasi Quality Improvement, rumah sakit menegaskan bahwa pelayanan yang diberikan tidak hanya mengedepankan empati, tetapi juga didukung oleh sistem yang kuat, tenaga kesehatan yang kompeten, dan komitmen berkelanjutan terhadap mutu pelayanan.
Mutu bukan sekadar target yang ingin dicapai, melainkan menjadi bagian dari cara kerja sehari-hari dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
(yev/cc)


