23.5 C
Bogor
Sunday, April 5, 2026

Buy now

spot_img

Peringatan Hari Air Sedunia 2026 di Puncak Bogor, Wamen LH: Krisis Air Nyata

Cisarua | Jurnal Bogor
Dalam memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menggelar rangkaian kegiatan bertema Water and Gender di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Minggu (5/4/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di PTPN 1 Regional 2 Unit Agrowisata Gunung Mas ini meliputi penanaman 1.500 pohon, penyerahan bantuan perahu karet, alat pembuat lubang biopori, serta pembagian 500 tabung biopori kepada masyarakat di 10 desa wilayah Kecamatan Cisarua. Selain itu, digelar pula sarasehan bersama komunitas sungai, Saka Kalpataru, dan PHRI Kabupaten Bogor.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menegaskan bahwa peringatan Hari Air Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap krisis air yang tengah terjadi.

“Kita memperingati Hari Air Sedunia di lokasi ini untuk mengingatkan betapa pentingnya fungsi air. Saat ini kita memang sedang menghadapi krisis air. Sekitar 71 persen permukaan bumi adalah air asin yang tidak bisa langsung dimanfaatkan,” ujarnya.

Diaz menjelaskan, ketersediaan air tawar yang bisa digunakan manusia sangat terbatas dan sebagian besar berada di kutub, sehingga sumber air yang dapat dimanfaatkan sehari-hari hanya berasal dari sungai, danau, serta air tanah.

Menurutnya, perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan ke sungai memperparah kondisi tersebut.

“Jika sungai tercemar, maka suplai air bersih akan terganggu dan berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan,” katanya.

Ia juga mengingatkan dampak perubahan iklim terhadap siklus air. Curah hujan ekstrem dapat menyebabkan banjir, sementara peningkatan suhu mempercepat proses penguapan air.

Sebagai solusi, pemerintah mendorong penggunaan lubang biopori sebagai alternatif sumur resapan yang lebih mudah diterapkan masyarakat.

“Kami membagikan 500 biopori untuk 10 desa di Cisarua. Alatnya sederhana, tetapi sangat efektif untuk mengurangi risiko banjir,” jelasnya.

Selain itu, gerakan penanaman pohon juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan air. Diaz mengimbau masyarakat untuk menerapkan gerakan satu orang satu pohon atau minimal satu rumah satu pohon.

Sementara itu, Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, menyatakan dukungannya terhadap kegiatan tersebut sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan di kawasan Puncak.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini dengan menanam pohon dan menyediakan biopori agar air dapat terserap ke dalam tanah dan menjadi cadangan air bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga berkomitmen dalam pengelolaan sampah di kawasan Gunung Mas. Sampah dari aktivitas operasional akan dikumpulkan dan dikelola sesuai aturan lingkungan yang berlaku, termasuk bekerja sama dengan mitra KSO.

“Pengelolaan sampah adalah kewajiban kami sebagai pengelola kawasan. Nantinya akan ada lokasi khusus yang ditentukan untuk pengolahan sampah di Gunung Mas,” tandasnya.

Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga air dan lingkungan semakin meningkat, guna menghadapi tantangan krisis air dan perubahan iklim di masa depan. Dadang Supriatna.

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles