24.1 C
Bogor
Wednesday, April 1, 2026

Buy now

spot_img

Menu MBG dari SPPG Sukajaya 2 tak Layak Konsumsi

Sukajaya l Jurnal Bogor
Menu Makan Gizi Gratis (MBG) tak layak konsumsi viral di media sosial yang diunggah di akun Facebook Rian Apriansah di grup Sukajaya Curcor, Selasa (31/3/2026). Dalam narasi di video, terdengar keluhan mengenai nasi, lauk, hingga buah salak yang diterima siswa disebut dalam kondisi busuk.

Orang tua murid pun tak tinggal diam melakukan protes. “Bagaimana MBG seperti ini, makanan basi diberikan ke anak sekolah, salak busuk, dagingnya basi, nasinya basi. Ini mau meracuni anak sekolah?” demikian narasi dalam video yang viral tersebut.

Menu MBG yang dipermasalahkan diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukajaya 2 yang berlokasi di Kampung Kompa Tonggoh, Desa Sipayung.

Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPG Sukajaya, Pahrul, membenarkan bahwa menu tersebut didistribusikan oleh pihaknya. Ia menjelaskan, saat proses awal penyiapan, makanan dalam kondisi baik. Dugaan penurunan kualitas diduga terjadi pada tahap distribusi, mengingat jarak tempuh menuju wilayah Pasir Madang cukup jauh dengan akses jalan yang sulit.

“Ketika makanan disiapkan itu dalam kondisi baik. Namun jarak distribusi yang cukup jauh ke wilayah atas menjadi faktor yang perlu dievaluasi,” ujar Pahrul.

Ia menegaskan, peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan sistem distribusi ke depan agar kualitas makanan tetap terjaga hingga sampai ke tangan siswa.

Sementara itu, Kepala SPPG Sukajaya 2, Malambok Sangap Tua Sihaloho, mengakui bahwa pihaknya yang menyalurkan makanan ke sejumlah lembaga pendidikan, termasuk SDN Sukajaya 5. Ia menyampaikan permohonan maaf atas temuan buah yang tidak layak konsumsi dan mengakui adanya kelalaian dalam proses penyortiran.

“Kami akui ini menjadi evaluasi kami. Untuk buah yang terlihat kurang baik, itu memang tidak sepantasnya diberikan. Walaupun sudah disortir dua kali, kemungkinan masih ada yang terlewat,” ujarnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab, pihak SPPG memastikan akan mengganti buah yang tidak layak tersebut, baik di hari yang sama maupun pada distribusi berikutnya dengan jumlah tambahan.

“Kami siap mengganti, bahkan bisa diberikan dua kali lipat di hari berikutnya,” tambahnya.

Sangap juga menjelaskan bahwa kendala utama distribusi adalah akses menuju sejumlah sekolah yang sulit dijangkau kendaraan roda empat. Saat ini, pengiriman masih mengandalkan sepeda motor pribadi.

“Kondisi akses ke sekolah cukup sulit, sehingga distribusi dilakukan menggunakan motor. Saat ini kami juga sedang mengajukan dukungan transportasi agar distribusi lebih optimal,” pungkasnya.

** Rahman Ependi

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles