30.4 C
Bogor
Tuesday, March 31, 2026

Buy now

spot_img

Otak Reptil

Pernyataan Presiden Prabowo yang menyamakan bahwa kelapa sawit dan pohon-pohon di hutan adalah pohon yang sama. “Gak usah takut, apanya itu katanya.. menbahayakan.. apa itu.. deforestation? Namanya kelapa sawit ya pohon! Ada daunnya kan?”

Menyamakan pepohonan di hutan dengan kelapa sawit sebagai pohon monokultur mendapat banyak kritik. Presiden dianggap mendukung perubahan lahan hutan tropis di Indonesia menjadi lahan kelapa sawit dengan satu tujuan yaitu mencari keuntungan ekonomis semata. Besarnya tuntutan pasar akan kelapa sawit sebagai bahan pendukung makanan dan kosmetik serta produk bahan bakar minyak nabati.

Di atas adalah tulisan C Bayu Risanto, Ph.D dalam tulisannya yang dinuat di majalah Basis edisi nomor 03-04, Tahun ke 75, 2026 dengan judul Hutan Bukan Sekedar Kumpulan Pohon. Bayu Risanto menamai dirinya sebagai Vatican Observatory. Tulisan ini mengutip sejumlah hasil riset biologi sejak tahun 1980 hingga 2024.

Lebih dalam, C Bayu Risanto bahkan dengan berani menyatakan bahwa pernyataan Presiden Prabowo terkait hutan dan kelapa sawit itu sebagai pandangan antroposentris an sich. “Pohon di hutan menghasilkan aerosols. Oksigen itu penting untuk hidup manusia, maka pengetahuan bahwa pohon menghasilkan oksigen itu penting. Tidak heran, hanya itu yang melekat dalam otak kita, termasuk otak reptil Presiden Prabowo. Padahal tumbuhan juga menghasilkan aerosol organik nan kecil yang bisa terbawa angin ke mana-mana.”

Mengejutkannya, Bupati Bogor Rudy Susmanto kemudian mengamplifikasi kembali pernyataan Presiden Prabowo yang menuai kritik itu dalam postingan media sosialnya. Dengan judul Topeng Kritik dan Manipulasi Iman: Melawan Narasi Kebencian di Balik Stabilitas Negeri.

Rudy dalam postingan 16 poster halaman itu pada intinya ingin menyatakan bahwa kebijakan yang dikeluarkan Presiden Prabowo sudah benar dan menganggap kritik pada presiden adalah kerikil kecil dalam menjalankan kebijakan pro rakyat kecil di tengah situasi ekonomi politik dunia yang diwarnai perang di sejumlah negara.

Pada postingan halaman 8 sampai 13, Rudy menjelaskan kelapa sawit ada benteng utama keunggulan Indonesia dalam krisis energi dunia. “Kita perlu melihat sisi lain dari industri sawit yang selama ini dipandang negatif. Selain membantu ketahanan energi nasional, sawit adalah komoditas yang sangat kompetitif di pasar dunia, hingga memicu kampanye hitam dari kompetitor global.”

Meskipun beda konteks dalam membaca kelapa sawit, antara sains – aktivis lingkungan dan pemimpin pemerintahan, kita musti menempatkan pemikiran tersebut dalam konteksnya.

Bayu Risandi menggiring pembaca perlu mengetahui bahwa hutan adalah ekosistem yang saling berkaitan. Pohon di hutan berkomunikasi dengan hewan. Bagaimana kelelawar hinggap di kantung semar dengan cara yang sangat elegan dan mulia lalu saling memberi manfaat (simbiosis mutualisme).

Sementara Rudy menelurkan gagasannya dalam motif politik adanya kekuatan asing yang terus menggerogoti kekuasaan Presiden Prabowo dengan topeng agama, berita menyudutkan dan postingan media sosial. Hanya contoh kelapa sawit saja yang diambil sebagai bagian dari benteng ketahanan energi nasional meskipun kita belum merasakannya.

Buat kita warga sipil biasa tanpa jabatan, kekuasaan dan harta melimpah, hanya menganggap jangan-jangan otak kita saja yang justru menjadi otak reptil dengan berbagai kecurigaan dan prejudice tendensius pada orang dengan jabatan tertentu. Tabik!

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles