23.5 C
Bogor
Wednesday, April 1, 2026

Buy now

spot_img

“Keliru Berdiri Berisiko Maut”. Kenangan Pahit Muhtar Efendi Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon

Bogor | Jurnal Bogor

Gugurnya 3 prajurit TNI dalam tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon, membuat mantan pasukan perdamaian PBB, Serma Purnawirawan Muhtar Efendi mengenang saat dirinya bertugas di 2010-2011.

“Manusiawi, ada rasa kehilangan. Tapi saya renungi mendalam, gugur atau pun cedera berhadapan dengan kaum paling durjana sedunia justru merupakan kemuliaan. Kemuliaan di mata bangsa, dunia, dan Allah yang Maha Kuasa,” kata Muhtar Efendi kepada Jurnal Bogor, Selasa (31/3/2026).

Muhtar mengatakan, penyerangan oleh Israel terhadap Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon ternyata sudah pernah terjadi sebelumnya, yakni pada tahun 2009.

“Keliru posisi berdiri bisa berisiko maut. Untung tembakan israhell bisa kami redam,” kata Muhtar Efendi.

Muhtar terpilih bergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB kala itu.. Muhtar bertugas di Batalyon Infanteri Lintas Udara 330/KOSTRAD. Muhtar berangkat ke Lebanon bersama Batalyon Mekanik Garuda E/UNIFIL dan ditempatkan di Basecamp Atsid Al Qusayr, Lebanon pada 2010-2011.

Muhtar termasuk prajurit pilihan yang yang lolos seleksi menjadi pasukan perdamaian PBB dengan pangkat Bintara CIMIC (Civil and Military in Cooperation).

“Nyaris tidak ada kosakata yang bisa merepresentasikan ketegangan tingkat tinggi selama penugasan di Lebanon. Lebih mencekam daripada suasana saat saya bertugas di Papua, Aceh, dan Timor Timur,” ungkap Muhtar.

Setelah mengakhiri masa pengabdiannya di TNI, di samping bekerja sebagai praktisi hukum yang menangani klien pada berbagai perkara, Muhtar kini juga aktif sebagai advokat publik. Salah satu kiprahnya adalah saat memenangkan praperadilan melawan Polda Jawa Barat. Kliennya, Pegi Setiawan, sempat ditersangkakan pasca ditahan dengan status DPO terkait kematian Eky dan Vina beberapa tahun lalu.

“Dulu prajurit memanggul senjata. Sekarang pun tetap prajurit, namun dengan kitab hukum sebagai amunisinya.”

Muhtar juga mengaku pernah bertugas di bawah pimpinan Prabowo Subianto, Muhtar masih ingat salah satu instruksi komandannya itu, “Kalian harus rajin latihan. Urusan lain-lain, dosanya saya yang tanggung!”

“Beliau memang dahsyat dalam mendoktrin pasukan!”tandas Muhtar.nHerry Setiawan

Related Articles

- Advertisement -spot_img

Latest Articles