Jurnal Bogor – Islam telah mengajarkan ‘kebersihan sebagian dari iman’, namun sayang banyak orang abai akan esensi kebersihan. Padahal bersih itu bukan hanya indah, tapi juga bisa memberikan rasan nyaman. Feedback dari bersih dan indah itu tentu membuat hati tenang juga. Alam dan lingkungan kita sebenarnya tak kalah indahnya, namun sayang masih kotor dan bersampah.
Ya…kesadaran masyarakat akan kebersihan masih jauh api dari panggang, hanya sebagian kecil saja yang peduli. Kebiasaan buang sampah sembarangan telah membuat kotor dan mencemari lingkungan, sungai-sungai pun pada akhirnya dipenuhi sampah karena ada saja orang yang buang sampah ke sungai atau adanya sampah yang terbawa air hujan.
Di jalanan, petugas kebersihan pun dibuat kewalahan, dimana orang-orang tak punya hati begitu teganya buang sampah seenaknya. Bahkan di ruang publik sampah mudah ditemukan, sekali pun telah disediakan tempat atau tong sampah. Seolah-olah mengandalkan petugas kebersihan, alamak!.
Mindset masyarakat yang tak peduli kebersihan dan sampah, orang itu lebih cocok disebut orang yang tak waras. Karena dari kotornya lingkungan tentu akan menjadikan lingkungan itu sendiri tak sehat. Jika melihat negara-negara yang memiliki warganya yang peduli kebersihan dan sampah, alangkah indahnya. Jalan-jalan dan lingkungan tempat tinggal mereka bersih, membuat betah tinggal.
Berbeda dengan kondisi lingkungan yang kotor dan jorok, stigma terbelakang juga akan melekat. Jika masing-masing individu mau menjaga kebersihan, rasa-rasanya tak sulit membuat lingkungan yang bersih dan indah. Tetapi jika setiap orang abai, maka lingkungan akan tetap kotor dan tak akan pernah bersih. Jadi jangan harap mau bersih jika kesadaran akan kebersihan itu tak ada di hatinya dan pikirannya juga tak waras.
***


