Cisarua | Jurnal Bogor
Rehabilitasi lingkungan kawasan hulu yang ada di wilayah Cisarua, Kabupaten Bogor belum mampu menampung air di musim hujan. Buktinya, baru saja 3 hari tidak turun hujan dengan matahari yang bersinar terik menjadikan kali atau sungai yang ada di kawasan hulu mengalami penyusutan airnya. Seperti kali Ipus, Ciliwung, dan beberapa sungai yang ada di perbukitan mengalami hal serupa.
Tidak hanya itu, lahan pertanian sayur mayur, para petaninya harus melakukan penyiraman untuk tanamannya.
“Ya padahal baru 3 hari kemarau, tidak ada hujan sedikit pun, dan matahari bersinar cukup terik menjadikan tanaman bawang daun kita mengalami kekeringan dan hangus daunnya akibat teriknya sinar matahari. Untuk menghindari kematian, kita lakukan penyiraman setiap pagi dan sore, ” tutur Yadi.
Sementara itu dikatakan Manuy, lelaki yang punya hobi lintas alam ini menuturkan, resapan air hujan di wilayah hulu belum mampu menyerap air hujan.
” Kali yang ada di wilayah hulu sungai seperti Ciliwung dan beberapa kali lainnya kini mulai menyusut volume airnya. Hal ini karena di kawasan hulu masih banyak areal terbuka yang perlu dilakulan rehabilitasi dengan terus dilakukan penanam pohon,” ujarnya.
Sementara dampak dari menyusutnya volume air tersebut, pemandangan kotor mulai terlihat di kawasan aliran sungai Cisarua. Sampah kembali mengotori sepanjang aliran yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk.
Adanya hal tersebut, pemerintah kini terus dituntut untuk melakukan penanganan lingkungan kawasan Puncak secara menyeluruh.
“Dinas Lingkungan Hidup harus benar benar berfungsi. Jangan hanya bisa mengangkut sumpah yang berbayar, tetapi harus terjun juga untuk penganan yang sifatnya bagi kegiatan penyelamatan lingkungan, ” pungkas Manuy.
** Dadang Supriatna


