Megamendung | Jurnal Bogor
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan puasa ini disorot Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS) setelah banyak orang tua murid mengkritik menu MBG yang masih minim gizi. Sekretaris AMBS, Azet Baesuni menegaskan, program MBG yang menguras dana besar hingga saat ini dinilai tidak sebanding dengan fakta di lapangan.
“Menu yang disajikan lebih besar pasak dari pada tiang. Artinya, anggaran yang dikucurkan dengan menu yang diterima siswa banyak potongannya. Siswa hanya menerima sekitar 25 persen dari anggaran per porsi,” tandas Azet, Selasa (24/2/2026).
Ia juga mengkritik pelaksanaan program yang dinilai hanya mengejar formalitas tanpa memperhatikan kualitas makanan.
“Yang penting program berjalan, tapi kualitas makanan tidak dijaga,” ujarnya.
Adanya hal tersebut, Azet meminta supaya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), khususnya di wilayah selatan Kabupaten Bogor, untuk lebih memperhatikan kualitas dan kandungan gizi di menu makanan tersebut.
“Perlu diperhatikan oleh mereka yang menangani hal ini. Mulai dari menu hingga ke kandungan gizinya, ” pungkas Azet.
Sebelumnya para orang tua mempertanyakan kualitas gizi MBG. Sebagai bentuk protes, sebagian orang tua murid memposting menu MBG yang dibawa oleh anaknya ke rumah.
Salah satu orang tua murid di SDN 2 Cipayung, Eni mengaku anaknya kerap membawa pulang makanan MBG ke rumah selama bulan puasa.
“Kalau saya lihat menunya, ada susu, somay, jeruk, kadang kurma, dan gorengan,” tutur Eni.
Sebagai ibu rumah tangga, Yani mempertanyakan kandungan gizi dari menu yang disajikan, khususnya gorengan.
“Saya orang kampung sedikitnya tahu tentang gizi, tapi kalau gorengan kandungan gizinya apa ya,” ujarnya.
Di salah satu SD di Ciawi pun mengeluhkan hal serupa, murid di SDN 2 Ciawi, Kecamatan Ciawi, menilai menu MBG selama Ramadan terlihat minimalis dan tidak sebanding dengan kebutuhan gizi anak.
“Satu menu MBG per hari isinya hanya tiga macam seperti susu, mie, dan pisang. Kalau dihitung, biayanya paling sekitar lima ribu rupiah,” tutur seorang ibu yang menolak disebut namanya.
Tidak hanya di Ciawi dan Megamendung saja, di Kecamatan Cisarua pun terjadi hal serupa.
** Dadang Supriatna

