27.7 C
Bogor
Monday, February 23, 2026

Buy now

spot_img

Fenomena Ledakan Orang Kaya, Tapi Miskin Spiritual, Ini Respons Muhsinin Club

Jakarta | Jurnal Bogor – Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, Irfan Syauqi Beik, menyoroti dua fenomena yang dinilainya memprihatinkan di tengah masyarakat saat ini, yakni banyak orang kaya namun miskin secara spiritual, serta kelompok masyarakat yang miskin materi sekaligus miskin spiritual.

“Yang pertama adalah fenomena banyak orang kaya tapi miskin spiritual. Yang kedua adalah sudah miskin materi, miskin pula spiritualnya. Yang kedua itulah yang disebut miskin kuadrat,” ujar Prof. Irfan saat menjadi pembicara dalam kegiatan Muhsinin Club Conference yang digelar oleh Muhsinin Club di Aston Priority Simatupang, Jakarta.

Menurut Prof. Irfan, kemiskinan spiritual hingga kini belum menjadi perhatian serius, baik oleh pemerintah maupun publik. Padahal, kondisi tersebut berpotensi memicu hilangnya keharmonisan hidup, meningkatnya kecurigaan antarsesama, serta melemahnya kepedulian sosial.

Ia mencontohkan sejumlah fenomena sosial, termasuk tingginya rasa saling curiga di tengah masyarakat dan kasus bunuh diri pada anak usia sekolah, sebagai indikasi adanya persoalan kemiskinan spiritual.

Guru besar IPB itu juga menekankan pentingnya perhatian terhadap kemiskinan spiritual, selain kemiskinan materi. Berdasarkan data pemerintah, jumlah penduduk miskin secara materi di Indonesia saat ini mencapai 23,85 juta jiwa atau sekitar 8,47 persen dari total penduduk.
“Namun, sampai hari ini belum ada catatan berapa jumlah penduduk Indonesia yang miskin spiritual,” ujarnya.

Sementara itu, pendiri Muhsinin Club, Dewa Eka Prayoga, menyambut baik gagasan pengukuran kemiskinan yang turut memasukkan unsur spiritual.

Sejak berdiri pada 2022, Muhsinin Club secara aktif mengajak para pengusaha dan individu yang memiliki kelebihan harta untuk meningkatkan kepedulian sosial. Pada awalnya, setiap anggota didorong untuk bersedekah minimal Rp10 juta per bulan atau Rp120 juta per tahun.

Dana tersebut telah dimanfaatkan untuk berbagai program sosial, di antaranya penyediaan makanan bergizi bagi santri, pembangunan masjid dan pesantren, pembagian daging sapi dalam jumlah besar, pembangunan hunian di wilayah terdampak bencana, serta pemberangkatan 158 santri penghafal Al-Qur’an untuk menunaikan ibadah umrah. Hingga kini, total dana yang telah disalurkan mencapai Rp22 miliar.

“Kita butuh lebih banyak orang kaya yang peduli pada sesama,” ujar Dewa.

Pada bulan Ramadan ini, Muhsinin Club menggelar kegiatan konferensi tersebut bekerja sama dengan Yayasan Kampoong Ecopreneur yang berbasis di Leuwisadeng, Kabupaten Bogor.

Dewa juga membagikan pengalaman pribadinya saat mengalami koma selama beberapa hari hingga hampir meninggal dunia. Peristiwa itu, menurutnya, menjadi titik balik yang menumbuhkan kesadaran untuk memperbanyak amal sosial.
“Perbanyak wakaf sebelum wafat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, menegaskan pentingnya kolaborasi antarindividu dan komunitas dalam menebarkan kebaikan.

Ia menyampaikan bahwa salah satu program unggulan Kampoong Ecopreneur adalah One Family One Ecopreneur (satu keluarga, satu pebisnis berbasis lingkungan). Melalui program tersebut, masyarakat akan didorong menanam ubi dan kopi untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor ke Malaysia dan Singapura.

“Tahun ini kami menargetkan program itu sudah berjalan,” ujar Jamil, Minggu (22/02/2026).
“Doakan agar program ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik secara materi maupun spiritual. Kami ingin melahirkan ‘Nabi Sulaiman’ versi manusia biasa, yang kaya dan memiliki pengaruh untuk kebaikan.” Yudi

Related Articles

Stay Connected

20,832FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles