25.7 C
Bogor
Friday, February 13, 2026

Buy now

spot_img

Ada Ketakutan di SPPG

Cibinong | Jurnal Bogor

Stasiun Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola Badan Gizi Nasional masih dilanda ketakutan dalam memberikan informasi pelayanan publik. Jangankan memberi informasi terkait sajian menu dan perputaran uang, didatangi sejumlah wartawan, SPPG sudah panik dan berkilah tidak ada di tempat. Jurnal Bogor menyempatkan mengunjungi dua SPPG. SPPG di Kota Depok dan SPPG di Kabupaten Bogor. Kedua SPPG ini melalui para pekerjanya hanya bisa berbincang santai di luar pekerjaan utama di dapur SPPG.

“Situ aja yang ke sini duduknya,” kata wanita yang mengaku bernama Reno berusia 35 tahun dengan nada ketus saat berbincang dengan Jurnal Bogor di SPPG Kampung Cipayung Kelurahan Tengah, Cibinong, Kamis (12/2/2026). Wanita bertubuh agak gemuk berkerudung agak kusut itu disebut pekerja SPPG lainnya sebagai Asisten Lapangan, 2 tingkat di  bawah Kepala Dapur dan Ahli Gizi, meskipun saat dicek tidak ada yang disebut Asisten Lapangan dalam struktur organisasi SPPG.

Berbeda dengan Willy, pria 28 tahun ini bertugas mengantar MBG menggunakan mobil elf ke SDN Cipayung 1 dan 2, Madrasah Al Hidayah, TK Nurul Abror dan menu bagi ibu hamil dan anak balita ke Posyandu yang dititip melalui kelurahan Tengah setiap hari.

“Beda-beda bang jalurnya, kalau saya ke SDN Cipayung 1 dan 2, Al Hidayah, Nurul Abror dan Posyandu. Kalau mobil satu lagi beda lagi tempatnya,” kata Willy dengan santai yang bahkan bersedia difoto setelah bincang santai dengan Jurnal Bogor.

SPPG di Kampung Cipayung Kelurahan Tengah ini tidak diketahui di mana dipasang struktur organisasi yang dapat menerangkan Yayasan dan kepala dapur serta jajaran nama pekerja yang ada. SPPG yang berlokasi di bekas restoran sunda berukuran sangat luas itu, kini sudah disulap jadi SPPG. Nampak jelas bahwa SPPG itu bermodal sangat besar dan dikelola bukan warga biasa yang punya kemampuan ekonomi menengah bawah.

Terpisah, perlakuan berbeda terhadap jurnalis yang datang meliput aktivitas SPPG di wilayah Kota Depok. Salah satunya adalah SPPG yang berlokasi di Gragas Resto and Coffee. Ditemui Wanita yang mengaku bernama Mei mengatakan bahwa kepala SPPG tidak ada di lokasi dan harus membuat surat pengantar seperti layaknya permohonan pembuatan KTP dari ketua RT ke ketua RW untuk disampaikan ke kelurahan.

“Arahan dari BGN lewat zoom meeting, harus ada surat permohonan dulu dari media ke kami baru bisa kami terima dan layani,” kata Wanita itu yang didamping 2 wanita muda lainnya yang juga berkerudung. Namun saat ditanya mana surat dari BGN, wanita itu tidak dapat menunjukannya dan berkukuh harus ada surat untuk berupaya melindungi diri dari cecaran pertanyaan wartawan.

Di struktur organisasi SPPG Cilodong milik Yayasan Yasspira Indonesia Maju ini tidak terdapat nama Mei. Sementara di dapur, nampak sejumlah pekerja sedang sibuk mencuci alat makan yang baru turun dari mobil SPPG. Tak lama kemudian datang satu mobil SPPG membawa alat makan untuk dibersihkan. Kepala SPPG tertulis Bernama M Sholehuddin AA.

Dari dua lokasi SPPG di Kota Depok dan Kabupaten Bogor dapat ditangkap ada nuansa ketakutan saat dikunjungi wartawan. Tak diketahui penyebabnya apa, namun yang pasti para pekerja SPPG rerata berada di usia di bawah 40 tahun bahkan didominasi berusia di bawah 30 tahun. Mereka hanya ingin bekerja dan memiliki penghasilan bulanan meski berstatus relawan.

Saat ditanya akan dapat THR atau tidak dari Yayasan, pria yang mengaku bernama Bois 27 tahun dan mengaku bertugas sebagai petugas keamanan berkata,”Dapat pak, dapat kali?” lalu berseloroh sambil tersenyum perih karena statusnya yang bukan PPPK BGN.n Herry Setiawan

Related Articles

Stay Connected

20,832FansLike
0FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles