Tamansari | Jurnal Bogor
Di sebuah sudut sejuk kawasan Tamansari, Kabupaten Bogor, sekelompok seniman tradisi memilih untuk tidak menyerah pada zaman. Dari kegelisahan akan semakin pudarnya seni karuhun, lahirlah sebuah mimpi sederhana namun bermakna besar. Mereka menamainya Ngimpi Guligah mimpi yang lahir dari keresahan.
Kini, mimpi itu tumbuh menjadi Geosentra (Geologi Seni Tradisional).
Geosentra resmi berdiri pada Desember 2022. Komunitas ini menjadi ruang berkumpul para pelaku seni musik tradisional Sunda di Kecamatan Tamansari yang memiliki satu kegelisahan yang sama, yakni bagaimana menjaga warisan leluhur agar tidak sekadar menjadi cerita masa lalu.
“Ngimpi artinya mimpi, guligah artinya resah. Ini memang mimpi yang muncul dari kegelisahan kami sebagai seniman tradisi,” tutur Dadeng Heri S Ketua Geosentra, saat ditemui di Galeri Karang Taruna Kecamatan Tamansari, Sabtu (7/2/2026).
Seiring perjalanannya, komunitas ini kemudian bermitra dengan Geopark Bogor Halimun Salak. Dari sinilah nama Ngimpi Guligah berubah menjadi Geosentra. Kata geo dimaknai sebagai bumi, sementara sentra berarti pusat seni tradisional.
Maknanya sederhana, namun dalam: membumikan kembali seni tradisional Sunda, agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Di bawah naungan Karang Taruna Kecamatan Tamansari, Geosentra perlahan membangun perannya sebagai ruang edukasi, ekspresi, sekaligus perjumpaan lintas generasi. Salah satu kegiatan utamanya adalah edukasi alat seni tradisional Sunda, mulai dari celempung, karinding, bangkong reang, hingga kacapi suling.
Anak-anak, pelajar, hingga pengunjung yang datang ke kawasan geopark diajak mengenal langsung bunyi-bunyi alam yang lahir dari bambu, kawat, dan kayu alat musik sederhana yang menyimpan filosofi panjang tentang kehidupan orang Sunda.
Tak hanya belajar, pengunjung juga disuguhi penampilan seni tradisional, khususnya kacapi dan celempung, yang kerap mengalun dalam berbagai kegiatan komunitas.
Saat ini, Geosentra diperkuat oleh delapan pelaku seni. Tiga orang memainkan celempung, satu pemain kacapi, dua pemain karinding, satu pemain bangkong reang, serta seorang sinden yang menghidupkan suasana lewat tembang Sunda.
Di balik jumlah yang tidak besar itu, semangat yang dibawa justru terasa kuat.
Geosentra juga membuka ruang diskusi dan ekspresi seni di Galeri Karang Taruna Kecamatan Tamansari. Tempat ini menjadi ruang aman bagi para seniman muda untuk bertanya, berlatih, dan mengekspresikan kegelisahan mereka melalui seni tradisi.
Kehadiran Geosentra bahkan menarik perhatian dunia akademik. Sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Gunadarma, Universitas Pancasila, serta beberapa kampus lainnya, menjadikan komunitas ini sebagai objek penelitian.
Di sisi lain, Geosentra juga menjalin kemitraan dengan Desa Wisata Sukajadi, memperkuat posisi seni tradisional sebagai bagian penting dari pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Aktivitas Geosentra saat ini terpusat di Geopark Information Center, Hotel Highland, kawasan Tamansari. Dari tempat inilah, bunyi celempung, petikan kacapi, dan getar karinding kembali diperdengarkan bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai denyut kehidupan seni tradisi yang terus bergerak.
Bagi Dadeng dan kawan-kawan, Geosentra bukan sekadar komunitas. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Sebuah mimpi yang lahir dari keresahan, namun terus dijaga agar tetap bernapas di bumi Sunda. Yudi

