CIAWi – Tantangan perubahan iklim semakin nyata berdampak pada sektor pertanian. Lahan-lahan pertanian yang kerap tergenang banjir mengakibatkan penurunan produktivitas dan mengancam stabilitas pangan nasional. Menyikapi kondisi tersebut, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Kementerian Pertanian, Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) menggelar Bertani On Cloud (BOC) Volume 332, Kamis (27/11/2025) secara virtual.
Mengusung tema “Produktivitas Tak Boleh Tenggelam, Inovasi Padi Apung Jadi Penopang Swasembada Pangan”, BOC kali ini mengajak petani, penyuluh, dan pelaku usaha tani di seluruh Indonesia untuk mempelajari inovasi budidaya padi apung, solusi adaptif yang dikembangkan untuk daerah rawan banjir agar tetap mampu berproduksi optimal.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa inovasi dan peningkatan kapasitas SDM pertanian adalah kunci memperkuat ketahanan pangan nasional.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menambahkan bahwa BOC menjadi ruang belajar strategis bagi petani di seluruh Indonesia.
“BOC adalah sarana untuk mempertemukan inovasi, pengalaman, dan tempat dimana pengalaman nyata di lapangan dibagikan, ditimba, dan dikembangkan bersama. Inilah cara kita membangun pertanian yang tangguh, dari saling menguatkan”. jelas Santi.
BOC kali ini diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah dan menghadirkan sesi interaktif berupa diskusi dan kuis. Peserta juga berkesempatan memperoleh sertifikat pelatihan resmi sebagai bagian penguatan kompetensi SDM pertanian.
Menghadirkan narasumber Bambang Sulistya, Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Gubug Anggur, memaparkan pengalaman nyata penerapan padi apung yang berhasil menyelamatkan lahan pertanian dan meningkatkan produktivitas di wilayah yang rawan genangan.
“Jika lahan tidak bisa ditinggikan, maka teknologi budidaya yang harus mampu menyesuaikan. Padi apung adalah ikhtiar agar petani tidak kehilangan pendapatan ketika banjir datang,” terang Bambang.

Dalam sesi paparan, Bambang juga menyampaikan bahwa padi apung merupakan inovasi adaptif yang dikembangkan sebagai solusi budidaya di wilayah yang sering tergenang banjir. Teknologi ini menggunakan rakit apung berbahan bambu atau drum plastik sebagai penopang media tanam, sehingga akar padi tetap dapat berkembang meskipun permukaan air naik.
Ia menegaskan bahwa metode ini sudah diujicobakan di sejumlah daerah rawan banjir dan terbukti menghasilkan produksi yang kompetitif dengan budidaya konvensional. Selain menjaga produktivitas, padi apung juga membuka peluang baru bagi petani dalam menghadapi risiko perubahan iklim.
Tak lupa, narasumber juga mengajak partsipan untuk berani mencoba pendekatan baru, tidak berhenti berinovasi, serta mengubah tantangan menjadi peluang melalui teknologi terapan yang mudah diadopsi dan realistis diterapkan di lapangan.
Kepala BBPMKP Sukim Supandi menyampaikan bahwa BOC bukan sekadar forum berbagi materi, tetapi ruang belajar kolektif bagi seluruh insan pertanian di Indonesia.
“BOC adalah ruang untuk menimba praktik terbaik. Ambil ilmunya, terapkan di lapangan, dan jadikan manfaatnya nyata untuk petani.”
Dengan adanya kegiatan ini, Kementan berharap semakin banyak petani yang siap menghadapi tantangan perubahan iklim melalui inovasi budidaya, termasuk padi apung sebagai salah satu alternatif untuk menjaga produktivitas lahan, stabilitas pangan, dan mendukung upaya swasembada pangan nasional.(Restu/BBPMKP)

