‘Bank Emok’ di Cibungbulang Meresahkan

0

Cibungbulang | Jurnal Bogor 

Keberadaan bank keliling atau ‘bank emok’ di wilayah Cimanggu Dua, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor meresahkan masyarakat. Keberadaannya merajalela, memanfaatkan kondisi kesulitan ekonomi warga.

Tak tanggung-tanggung, puluhan warga yang berada di kampung tersebut terjerat pinjaman sehingga memaksa gali lobang tutup lobang dalam pembayaran.

Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengaku, ada belasan bank keliling dan ‘bank emok’  yang menyasar ibu-ibu dalam transaksinya tanpa sepengetahuan suami.

“Saya sangat resah keberadaan ‘bank emok’ atau bang keliling ini yang menyasar ibu-ibu, apa lagi saat ini di tengah Covid-19 usaha belum lancar yang membuat saya pusing,” ungkapnya sambil mengelus dada.

Dia bercerita, ada tetangganya hingga menjual rumah dan rumah tangganya berantakan akibat ‘bank emok’ tersebut.

Selain itu ada juga yang menggunakan data pribadi warga, dari praktik itu ada puluhan warga yang menjadi korban diduga belasan juta itu dibawa kabur. 

“Dari belasan bank keliling dan ‘bank emok’ ini diduga ada yang bodong. Atas nama saya juga ada di tangan orang yang tidak bertanggung jawab tanpa sepengetahuan saya digunakan untuk meminjam dan orangnya kabur, sekarang bank keliling itu nagih terus ke saya,” ujarnya kepada Jurnal Bogor, Rabu (18/05).

Meski demikian, kejadian itu belum dia laporkan kepada pihak yang berwajib dan dia bersama warga lainnya menolak kehadiran ‘bank emok’ yang meresahkan ini. “Saya berharap ada tindakan dan solusinya, baik dari pemerintah desa maupun pihak terkait,” pungkasnya.

Sementara saat dihubungi melalui telepon, Kepala Desa Cimanggu Dua Senan membenarkan, keberadaan ‘bank emok’ maupun bank keliling di wilayahnya merajalela.

“Sejauh ini masyarakat belum ada aduan ke desa terkait keluhan ini, tapi memang keresahannya sudah lama dan keberadaan bank emok maupun bank keliling ini di setiap kampung wilayah saya banyak,” katanya.

Dengan begitu, dia menyebut kesulitan untuk menjegat keberadaan bank emok maupun bank keliling tersebut. Bahkan termasuk yang mempunyai bantuan BPNT maupun PKH ada juga yang terlibat dalam praktek pinjaman itu.

“Susah kita mau jegat nya juga, masyarakat yang kadang-kadang nggak ngomong padahal kita sudah memberikan solusi, dulu waktu masih ada program di desa masyarakat sendiri yang nggak kooperatif,” ungkapnya.

Dia menghimbau kepada masyarakat untuk jangan sampai terlena oleh pinjaman pinjaman tersebut. “Padahal dulu saya tawarin buat kelompok usaha kalau masalah biaya dari desa yang modalin, saat itu kebanyakan masyarakat yang tidak mau diajak yang baik,” pungkasnya

** Andres

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here