BPPSDMP Dukung Pengembangan Hilirisasi dan Ekspor Pangan Lokal

0
Syahrul Yasin Limpo

JURNAL INSPIRASI – Agroindustri memiliki peranan strategis dalam upaya pemenuhan bahan kebutuhan pokok, perluasan kesempatan kerja dan berusaha, pemberdayaan produksi dalam negeri, perolehan devisa, pengembangan sektor ekonomi lainnya, serta perbaikan perekonomian masyarakat di pedesaan.

Hal ini disebabkan oleh karakteristik dari industri ini yang memiliki keunggulan komparatif berupa penggunaan bahan baku yang berasal dari sumberdaya alam yang  tersedia dan melimpah dipersada Indonesia. Dalam rangka mewujudkan struktur perekonomian yang seimbang, kebijakan pengembangan agroindustri memiliki beberapa sasaran sekaligus, diantaranya  menarik pembangunan sektor pertanian,  menciptakan nilai tambah, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan penerimaan devisa, dan meningkatkan pembagian pendapatan.

Agroindustri sebagai penarik pembangunan sektor pertanian diharapkan mampu berperan dalam menciptakan pasar bagi hasil-hasil pertanian melalui berbagai produk olahannya.

BACA JUGA: Kementan Bangun Lumbung Pangan di 7.230 Kecamatan Seluruh Indonesia

Agar agroindustri dapat berperan sebagai penggerak utama, Industrialisasi pedesaan tentu harus memenuhi kriteria seperti lokasi di pedesaan, terintegrasi vertikal ke bawah, mempunyai kaitan input-output yang besar dengan industri lainnya, dimiliki oleh penduduk desa,  tenaga kerja berasal dari desa, bahan baku merupakan produksi desa, dan produk yang dihasilkan terutama dikonsumsi pula oleh penduduk desa itu semua barangkali faktor yang menjadi penggerak agroindustri.

Peran agroindustri sebagai suatu kegiatan ekonomi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja masih sangat relevan dengan permasalahan ketenagakerjaan saat ini, terutama beban sektor pertanian yang menyerap cukup besar dari total angkatan kerja dan adanya indikasi tingkat pengangguran terbuka dan terselubung yang semakin meningkat sebagai akibat covid-19.

Untuk mendukung pembangunan pertanian tersebut,  tanggal 03 Nopember 2021 Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) di Hotel Mercure Surabaya. Melepas olahan singkong untuk melanglang ke Negeri Ginseng.

“Kita hadir hari ini bukan hanya untuk acara seremonial, untuk mengatakan bahwa acara ini hebat tetapi kita hadir disini untuk membangun komitmen agar esok atau dimasa mendatang setor pertanian harus lebih baik dari masa sekarang. Kita hadir disini untuk mengatakan Indonesia itu hebat dan bertani itu memang hebat, menjadi petani itu keren. Itu serius bukan berarti pura-pura. Sudah saatnya kita menghadirkan, sudah saatnya menampilkan keberhasilan kita, agar besok negara terbesar ke 4 dunia kita bangkit dan lebih kuat lagi. Yang terdengar itu bukan hanya China, Amerka, India. Kita bukan negara yang main-main bayangkan kita memiliki 17.000 pulau dengan jumlah penduduk 273 juta.

BACA JUGA: Mentan SYL: Pertanian Siap Hadapi Perubahan Iklim

Lebihlanjut SYL sangat mengapresiasi, kita sudah hilirisasi. Makanan-makan lokal sudah tersaji dihotel besar ini luar biasa, Pangan lokal berdampak pada ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, Kementan terus fokus dalam meningkatkan produksi dan kualitas. Tidak hanya itu, guna memperkenalkan pangan lokal ke berbagai kalangan, Kementan juga melakukan kerja sama dengan asosiasi perhotelan,” kata SYL.

“Kita berharap memang disetiap hotel disetiap sudut-sudutnya ada produk-produk pangan lokal Indonesia, makanan Indonesia yang tidak kalah dengan makanan impor atau makanan eropa,” pintanya.

Tidak hanya itu, SYL menegaskan mendorong hilirisasi pertanian perlu langkah kongkret, dan membuktikan bahwa komoditas tropis Indonesia sangat diminati dunia. Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen terus memberikan dukungan untuk semua pihak dalam memajukan sektor pertanian. Pungkasnya.

Disadari bahwa salah satu arah kebijakan yang perlu ditempuh dalam pembangunan pertanian jangka panjang adalah mewujudkan agroindustri berbasis pertanian domestik, yaitu agroindustri skala kecil di pedesaan dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petani.

BACA JUGA: Badan Pangan Dunia Minta Jangan Buang-buang Makanan

Sejalan dengan tumbuhkembangnya unit usaha industri kecil dan mikro ini tentunya membawa konsekuensi terhadap kesiapan SDM pertanian, untuk itu Badan Peyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengawal dan mempersiapkan kecakapan SDM sesuai dengan kebutuhan pasar kerja atau dunia usaha  maupun dunia industri. Berbagai pelatihan yang berbentuk vokasianal terus dilakukan, mulai dari pelatihan sejuta petani dan penyuluh, program magang ke Jepang, program magang Korea, pembentukan DPM dan DPA, Pelatihan Kewirausahaan petani milenial,  pembenahan sistem pelatihan yang berbasis sertifikasi kompetensi  dan menggalakkan pelatihan  wirausaha milenial di 34 Provinsi,

Kepala Badan PPSDMP, Prof. Dedi Nursyamsi Diacara terpisah menyampaikan produk-produk pertanian  akan mampu memberikan nilai tambah jika kita mampu mengolah produk-produk pertanian menjadi produk turunan.

Jangan terfokus dihulu, jangan terfokus di onfarm atau dibudidaya akan tetapi harus lebih fokus pada pasca panen, pengolahan packing, trading dan pemasaran karena dihilir atàu diolahan akan diperoleh nilai tambah, diolahan jauh lebih besar dibandingkan dengan dihulu, sebagai contoh jika petani menjual padi hanya jual gabah laku harga 4.000 tetapi kalau gabah diproses menjadi beras maka bisa mencapai harga lebih tinggi.

Daging sapi misal jika kita jual Rp. 130.000 /kg kemudian kita olah menjadi produk turunan seperti, Abon, Bakso, Sosis kita olah menjadi produk turunan yang lain sudah pasti nilai tambahnya akan terlihat. Misal kita buat abon harga menjadi Rp. 300.000 sd 350.000 yang jelas ada nilai tambah.

yang dapat dinikmati oleh petani atau masyarakat tani. Disinilah pentingnya merubah mind set para petani dan masyarakat tani mulai berpikir mulai dari hulu sampai hilir. Demikian pungkasnya.

**T2S/BBPP Batu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here