Hari Ini, Budayawan Unjukrasa Tutup Wisata Glow KRB

0

Bogor | Jurnal Inspirasi

Ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Komunitas Budaya Jawa Barat akan kembali berunjukrasa menuntut penutupan wisata malam Glow Kebun Raya Bogor (KRB) pada Rabu (13/10). Unjukrasa rencananya akan dipusatkan di pintu masuk KRB, Balai Kota Bogor dan Gedung DPRD Kota Bogor, Jalan Pemuda, Kecamatan Tanahsareal.

Penanggung jawab aksi Ki Iman Sobari mengatakan bahwa demonstran akan menyuarakan sedikitnya sepuluh poin tuntutan antaralain, maminya keluarkan pihak swasta dan investor dari KRB. Tuntutan kedua, kembalikan fungsi KRB ke fungsi semula, yaitu sebagai area penelitian, area edukasi dan area rekreasi alam bagi seluruh lapisan masyarakat yang terjangkau oleh semua kalangan

Budayawan juga menolak keras segala bentuk komersialisasi yang berkaitan dengan eksploitasi KRB karena akan berdampak terhadap tatanan originalitas yang telah terbentuk sejak berabad-abad. “KRB sebagai hutan kota serapan air, jantung oksigen kota, jaga kelestarian ekosistem 15 ribu jenis tumbuhan dan pohon. Selain itu, juga tidak boleh ada hotel atau homestay didalam KRB, karena kawasan sakral ada makam leluhur orangtua Bogor,” ungkapnya.

Selain itu, budayawan juga mendesak Pemkot Bogor dan DPRD untuk menerbitkan Perda agar merawat, menata dan mensakralkan patilasan leluhur, Raja Kolot Sunda di Kota Bogor agar tidak boleh diambil alih oleh pihak manapun. “Kembalikan fungsi KRB sebagai lahan hijau dan situs lahan hijau. KRB adalah milik warga Bogor, berikan fasilitas kepada warga Bogor,” tandasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor HM Zaenal Abidin menolak keras komersialisasi KRB. Karena konsep wisata GLOW dinilai merusak jenis-jenis hewan yang ada juga akan merusak nilai sejarah dari KRB itu sendiri. “Saya dukung penuh upaya masyarakat dalam menjaga marwah kebun raya sebagai tempat edukasi dan observasi, seperti awal didirikan. Sistem moderenisasi dapat merusak ekosistem serta kesakralan KRB,” ujar H Zenal.

Politisi Gerindra itu menegaskan, KRB merupakan peninggalan sejarah sebagai hutanisasi yang didalamnya terdapat berbagai jenis tanaman, flora dan fauna. Ia berpendapat, untuk menjaga pengelolaan KRB  tidak perlu melibatkan pihak ketiga sebagai sumber keuntungan. “Saya Fraksi Gerindra secara tegas menolak Wisata Malam GLOW di KRB,” tegasnya.

H Zaenal menegaskan, KRB itu menjadi ring satu, dengan begitu maka sentra keamana serta kenyamanan presiden harus dijaga. “Bagai mana keamanan Presiden jika KRB di komersialisasi, disitu jadi tempat wisata, ada cafe, restoran serta hotel,” ungkapnya.

Ia berpesan, agar budayawan yang hingga saat ini memperjuangkan untuk mempertahankan agar tetap berkomitmen, menjaga marwah KRB. “Karena modernisasi kalau dibiarkan akan merusak tradisi serta budaya, maka itu jangan dibiarkan terjadi. Artinya KRB harus tetap dijaga,” tandasnya.

**fredykristianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here