Menyongsong Matahari Terbit di Bumi Cendrawasih

0

Sorong | Jurnal Inspirasi

Masih banyak generasi muda yang berfikiran, bekerja di sektor pertanian kurang menjanjikan. Bekerja di sektor pertanian dianggap kurang menjamin masa depan. Hal ini tantangan bagi semua pihak yang menjadi pemangku kepentingan sektor pertanian. Beberapa pemuda memerlukan prestise dalam bekerja dan pekerjaan pertanian lagi-lagi dianggap kurang kurang terhormat.

Padahal saat pandemi Covid-19 sejak awal 2020, aktivitas sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang tetap positif diantara berbagai sektor lain yang negatif. Pekerja yang bergelut di sektor pertanian khususnya budidaya pertanian tanaman terdiri dari orang yang sudah tua-tua sehingga produktivitasnya kurang baik dan adaptasi pada perubahan teknologi lebih lambat dibanding petani yang berumur lebih muda. Pada petani muda inilah diharapkan ada kenaikan produktivitas kerja.

Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. Pembangunan pertanian berkelanjutan dilakukan dengan melalui pengelolaan seluruh sumber daya, baik sumber daya alam ataupun sumber daya manusia, teknologi serta kelembagaan secara optimal. Keberhasilan pembangunan pertanian berkelanjutan tergantung pada kualitas sumber daya manusia dalam berkomitmen untuk membangun sektor pertanian.

Namun mayoritas pendidikkan SDM pertanian Indonesia masih rendah, banyak petani yang berusia lanjut dan rendahnya kapasitas dalam aspek kewirausahaan. Salah satu kebijakan dalam meningkatkan produksi pertanian adalah pengembangan SDM. Pengembangan SDM menjadi penting karena SDM tidak hanya sekedar faktor produksi melainkan pelaku langsung dari pembangunan pertanian.

Kementerian Pertanian sadar akan pentingnya regenerasi petani ini, oleh karena itu Kementan membuat program diantaranya regenerasi petani dan program wirausaha muda pertanian. Termasuk penumbuhan 2.000 Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) di 34 provinsi. Sayangnya belum menjadi mainstream kebijakan di daerah, padahal Program Petani Milenial merupakan bagian dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong generasi milenial untuk mengembangkan pertanian di daerah masing-masing, dan tidak lagi berfikir bahwa pertanian saat ini masih konvensional melainkan didukung teknologi informasi di era digitalisasi global.

“Petani itu keren, menjadi petani adalah kebanggaan! Jangan lagi berpikir bahwa petani itu konvensional. Petani saat ini harus cerdas, mandiri, berorientasi maju dan modern. Petani saat ini harus mampu menjawab tantangan digitalisasi global,” kata Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan keberadaan para petani milenial sangat diperlukan untuk menjadi pelopor sekaligus membuat jejaring usaha pertanian. Mereka (petani milenial) diharapkan mampu menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian.

“Apalagi, sudah banyak petani milenial yang kini telah menjadi pengusaha sektor pertanian dan mengembangkan usahanya dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Lebihlanjut Dedi mengatakan usaha tani petani milenial bervariasi dari hulu ke hilir bahkan menembus ekspor. “Kehadiran mereka diharapkan menjadi ikon pertanian masa kini dan contoh bagi generasi milenial lainnya untuk menekuni sektor pertanian”.

Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Dr. Wasis Sarjono S.Pt, M.Si mengatakan SDM pertanian merupakan ujung tombak dalam memajukan pertanian. Oleh karena itu diperlukanya generasi muda sebagai penerus pembangunan pertanian di masa yang akan datang.

Kurangnya minat generasi muda dalam pertanian disebabkan karena dunia pertanian identik dengan dunia kotor, kumuh, miskin, dan komunitas yang terpinggirkan, serta dianggap tidak menjanjikan. Padahal sektor pertanian berpengaruh besar dalam menunjang ketahanan pangan, stabilitas nasional, serta penghasil devisa negara.

Oleh karena itu, Balai Besar Peternakan (BBPP) Batu, memiliki tujuan untuk menumbuhkan minat, pengetahuan, dan kepedulian generasi muda terhadap dunia pertanian.

“Bawa mereka ke outlet produk turunan susu, ke kebun bunga, sayur sayuran, pasti mereka tertarik. Katakan juga kepada mereka bahwa betapa menguntungkan kalau kita geluti pertanian / peternakan secara modern. Keuntungannya sangat tinggi terutama dibagian hilir. Dari situ kita bisa berharap mereka mencintai pertanian/ peternakan. Jangan bawa mereka ke kandang sapi yang kotor, tapi tunjukkan kepada mereka hasil dari peternakan. Tunjukkan kepada mereka bahwa pertanian itu bukan kotor, tapi keren ujar Wasis pada acara pembukaan Pelatihan Kewirausahaan bagi Petani Milenial di Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Pelatihan yang dilaksanakan di Distrik Mariat Papua Barat dari tanggal 4-10 Oktober 202, diikuti 30 orang petani milenial diantaranya dari wilayah Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Tambrauw dan
Kabupaten Manokwari.

Dikatakan Wasis, sebagai agro edutainment, BBPP Batu wajib mengajari dan menularkan teknologi pertanian kepada generasi muda dalam menumbuhkan kecintaan kaum muda terhadap sektor pertanian. “BBPP Batu merupakan balai pelatihan terbaik. Oleh karena itu, cukup mudah untuk meyakinkan generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian,” katanya.

**T2S/BBPP Batu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here