Longsor di Rumpin, Perusahaan Tambang BSM Dituntut Bertanggungjawab

0

Rumpin | Jurnal Inspirasi

Bencana longsor dan pergerakan tanah menimpa 2 kampung yang dekat galian tambang milik perusahaan PT BSM yakni Kampung Ciatar dan Jatinunggal, Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Longsor terjadi pada Kamis (9/9) malam hingga Sabtu pagi (11/9) membuat dampak yang cukup besar.

Selain akses jalan desa terputus sejak longsor pertama pada Agustus 2021 lalu, kini longsor dan pergerakan tanah juga mengakibatkan puluhan rumah terdampak. Bahkan belasan rumah diantaranya rusak dan 3 diantaranya hilang tergerus longsor.

Seperti salah satunya rumah milik Jaenal. Kini ia mengaku harus tinggal dikontrakkan. Pasalnya, rumahnya sudah hilang tergerus longsor. “Rumah saya hilang tergerus longsor pada Jumat sore hancur beserta harta benda, dan alat alat bengkel. Alhamdulillah saya dan keluarga masih selamat,” katanya.

Tidak hanya rumah Jaenal, rumah Amah yang semulanya kokoh berdiri namun sekarang sudah hancur berkeping-keping akibat longsor dan pegerakan tanah. “Saat kejadian rumah saya udah saya kosongkan dan saya tinggal di rumah sodara jadi harta benda bisa diselamatkan tapi bangunan rumah hancur,” katanya.

Warga lain, Itoh merasa takut dan khawatir tinggal di lokasi dekat longsor yang tidak jauh dari lokasi pertambangan milik PT BSM.

Bahkan warga menceritakan sebelum longsor terjadi perusahaan tersebut kerap melakukan penambangan dengan cara diledakkan menggunakan dinamit sehingga terdengar getaran. Tidak hanya sekali namun satu hari bisa terdengar 3 kali ledakan. “Adanya longsor warga takut dan khawatir,” kata Itoh.

Sementara itu menurut Camat Rumpin Ade Zulfahmi, data yang ia terima pada Sabtu siang, rumah warga yang terdampak berada di 2 kampung yakni Jatinunggal dan Ciatar dengan total 51 rumah warga terdampak.

“Mereka (pemilik rumah dan keluarga) sudah mengungsi sekitar kurang lebuh 90 jiwa dan ini baru data sementara, karena pegerakan tanah masih sering dirasakan warga,” katanya.

Akibat longsor dan pergerakan tanah, kini pemerintah sudah menghentikan aktivitas galian tambang milik perusahaan PT BSM agar tidak beroperasi dan meminta bertanggungjawab untuk ganti rugi warga yang terdampak.

“Alhamdulillah pada Jumat kemarin juga sudah ada pertemuan, namun untung selanjutnya kita akan bahas lagi gimana penyelesaiannya,”katanya.

Sementara itu pihak perusahaan mengklaim longsor dan bencana longsor itu bukan disebabkan karena adanya aktivitas galian tambang. Menurut Dedy Darmawan yang mengaku Kepala Teknik PT BSM bahwa perusahaan sudah memiliki ijin dan melaksanakan penambangan sudah ada kajian.

“Saya kira ini faktor alam karena sebelumnya telah turun hujan deras,” pungkasnya.

** Cepi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here