Rintangan Mahasiswa dan Dosen Saat Pembelajaran Jarak Jauh

0
ilustrasi

Bogor | Jurnal Inspirasi

Mahasiswa dan dosen saat melakukan kegiatan belajar mengajar di masa pandemi memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan yang dirasakan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring yang telah diselenggarakan lebih dari satu tahun saat covid-19 masuk ke Indonesia.

Saat ini banyak dari masyarakat melakukan kegiatannya dengan secara daring, baik itu pekerja, pelajar, maupun mahasiswa. Hal itu dilakukan untuk mencegahnya penularan covid-19 semakin banyak di lingkungan kantor serta sekolah maupun perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Setelah lebih dari satu tahun berlalu banyak mahasiswa yang jenuh dan kurangnya pemahaman serta pengalaman terkait materi perkuliahan karena keterbatasan yang diharuskan bagi mahasiswa/i melakukan perkuliahan secara daring.

Seluruh mahasiswa/i perguruan tinggi negeri ataupun swasta saat ini melakukan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), awalnya dosen dan mahasiswa kesulitan karena belum terbiasa denga perkuliahan yang dilakukan dengan media online tersebut, namun seiring berjalannya waktu karena pandemi belum juga usai, mahasiswa/i dan dosen menjadi terbiasa dengan suka duka yang mereka alami saat pembelajaran jarak jauh dilakukan.

Beberapa mahasiswa mengakui sejumlah kekurangan dan kelebihan yang mereka rasakan saat melakukan kegiatan pembelajaran secara daring sehingga membuat mahasiswa lebih sulit untuk memahami materi yang disampaikan oleh dosen.

“Iya benar kalau offline dosen mengajarnya enak dapat dengan mudah dipahami, tapi kalau online terasa sulit dosennya terlalu cepat kalau bahas materi, terus kadang juga putus – putus dari koneksi internetnya jadi kalau lagi ngajar suka putus – putus pembicaraannya,” ujar Naomi, salah satu mahasiswi perguruan tinggi swasta saat dimintai keterangan Jurnal Bogor, Kamis, (26/8)

Perkuliahan secara daring juga membuat mahasiswa/i menjadi menurun kualitas pembelajaran dari sebelumnya, saat perkuliahan dilakukan secara offline mahasiswa/i lebih kritis dan lebih aktif di dalam maupun luar kelas yang sangat disayangkan dengan perkuliahan secara daring membuat kegiatan mahasiswa/i menjadi terbatas dalam mendapatkan pengalaman didalam maupun di luar kampus.

“Kalau dari saya sih menurun, selama daring ini ga ngerti apa – apa udah ujian akhir semester lagi aja, tapi kalau dari nilai sih meningkat. saat offline saya aktif di beberapa kegiatan kemahasiswaan, tapi semenjak pandemi dan dilakukan perkuliahan secara online saya sudah tidak aktif lagi,” tambahnya.

Begitupun yang dirasakan oleh dosen saat mengajar mahasiswa/i sangat merasakan sekali perbedaan kegiatan belajar mengajar secara offline maupun online. Saat perkuliahan dilakukan secara online dosen kesulitan untuk mengawasi proses belajar mahasiswa/i karena keterbatasan yang dilakukan melalui media online saat tidak bertatap muka dosen kesulitan mengetahui mahasiswa/i memahami materi atau tidak sehingga berkurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa/i karena pertemuan yang dilakukan secara daring.

“Level interaksinya ya, kalau daring kurang sekali, dosen juga merasa janggal mengajar seperti berbicara dengan diri sendiri sehingga energi tatap muka dengan mahasiswa menjadi sangat berpengaruh dari sisi dosen, mahasiswa yang saya tanya juga cukup berat menjalani kuliah daring karena lebih sulit memahami maksud dan isi kuliah dari dosen” ujar Alfito, dosen perguruan tinggi swasta.

Berbicara kekurangan serta kelebihan yang dirasakan mahasiswa/i dan dosen memiliki kesamaan kekurangan lebih kepada permasalahan teknis seperti sinyal yang tidak menentu, aplikasi yang terkadang error, serta permasalahan internal saat materi yang disampaikan oleh dosen tidak mudah untuk dipahami oleh mahasiswa/i.

Namun dibalik itu ada kelebihan perkulihan secara daring seperti waktu yang lebih singkat dan fleksibel karena bisa melakukan perkuliahan dimana saja tanpa terbatas jarak dan waktu serta saat ujian dilakukan dengan metode open book membuat mahasiswa lebih mudah mengerjakan dengan mencari jawaban yang ada pada buku ataupun internet dengan durasi waktu ujian yang tidak terlalu singkat.

Meskipun teknologi saat ini sudah canggih dan dapat lebih mudah untuk mendapatkan informasi ataupun pengetahuan, yang sangat dikhawatirkan saat ini mahasiswa/i akan ketergantungan teknologi dan mendapatkan pengetahuan yang berasal dari sumber tidak terpercaya, serta permasalahan serius lainnya dengan tidak terkontrolnya mahasiswa saat pembelajaran daring membuat mahasiswa/i akan melakukan plagiasi.

** Yudha Rezky Diliantoro-mg/UP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here