Kementan Gandeng Kapten Siapkan Petani Muda Magang di Jepang

0
68

Malang | Jurnal Inspirasi

Program ketahanan pangan yang diluncurkan pemerintah harus mendapat dukungan dari berbagai kalangan termasuk dari kalangan milenial. Dengan Program Petani Milenial diharapkan bisa menciptakan suplai yang konsisten dan berkualitas sekaligus juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pada awal peluncuran program ini, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, penyiapan tenaga kerja harus dilakukan. “Kita membutuhkan petani milenial yang siap bersaing secara global. Untuk itu, kemampuan tenaga tani harus disiapkan, salah satunya melalui program magang,” katanya,

Untuk itu dalam upaya meningkatkan kemampuan para petani milenial, Kementerian Pertanian menggandeng Komunitas Penyedia Tenaga Kerja Internasional Indonesia (Kapten) telah bersepakat mengirimkan petani muda untuk magang di Jepang.

Demikian halnya arahan dari Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Prof. Dedi Nursyamsi, Kapten dipilih menjadi mitra karena sudah lama malang melintang di dunia pertanian.”Kapten tahu bagaimana mengelola para tenaga magang di luar negeri, apalagi di Jepang. Dan Indonesia memang punya kompetensi dalam mengelola tenaga magang ke negara-negara yang sudah maju, utamanya tentu saja ke negara yang sudah maju pertaniannya misalnya Jepang, Taiwan, Korea dan sebagainya,” katanya.

Dedi yakin dengan kerja sama ini kemampuan tenaga tani Indonesia akan meningkat pesat. “Pasti nanti outputnya juga akan meningkat pesat. “Sekarang target Pak Menteri itu 1.000 orang berangkat ke Jepang. Itu istimewa. Sebab kalau tahun-tahun lalu itu paling sekitar 200-an, tapi tahun ini harus 1.000,” ujarnya.

Dedi berharap akselerasi ini memberikan dampak positif. Karena, sektor pertanian menjadi tumpuan  pembangunan ekonomi nasional. Dalam kondisi Covid-19 sektor lain mengalami kemunduran, tapi sektor pertanian masih mampu tumbuh secara signifikan.

“Oleh karena itu, kita harus siapkan petani milenial untuk terjun ke bisnis pertanian, baik level Indonesia maupun di level internasional, salah satu caranya dengan magang ke Jepang.

Hal lain menurut Prof. Dedi, Jepang memiliki etos kerja yang baik dan memiliki budaya kerja keras. “Saya tahu persis bagaimana etos kerja orang Jepang. Bayangkan, tahun 45 Jepang adalah negara paling bangkrut di dunia gara-gara kalah perang dunia ke-2. Jepang dibombardir sekutu di Hiroshima dan Nagasaki akhirnya dia menyerah tanpa syarat. Saat itu utangnya di mana-mana. Tapi 25 tahun kemudian, sekitar  tahun 70-an Jepang sudah menguasai dunia melalui sektor elektronik,” terangnya.

Dedi menilai hal itu dimungkinkan karena memang etos kerjanya luar biasa. Menurutnya, petani Jepang bekerja ke lapangan sebelum matahari terbit dan baru pulang ke rumah setelah matahari terbenam berarti jam kerja kan lebih dari 12 jam.

“Bukan hanya petaninya, semua pekerjaan pun begitu. Apalagi karyawan di industri-industri karyawan termasuk di pemerintah artinya etos kerjanya luar biasa,” jelasnya.

Sebagai tindak lanjut kerja sama Kementan, Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu,  Dr. Wasis Sarjono beserta jajarannya melakukan koordinasi dan sekaligus penandatangan MoU dengan pihak Kapten DPW perwakilan Kapten Jawa Timur yang diketuai oleh Aziz, dalam rombongan hadir pula Hudi dari Ponorogo, Untung Madiun, Edy Tulungagung, Doni Kediri, Annas dan Mukhsin dari Blitar, Samsul Surabaya dan Bagus Jombang. Koordinasi berkaitan dengan usaha Peningkatan Kompetensi Petani Muda melalui Program Magang Jepang dan Specified Skilled Worker (SSW).

Sementara Ketua  Dewan Pengurus  Komunitas Penyedia Tenaga Kerja International (Kapten) Jawa Timur, Aziz, mengatakan bahwa Kerjasama kapten dengan Jepang  bukan saja baru tahun 2020 namum sudah dilakukan sejak 1996 melalui Kementerian Tenaga Kerja,  dan sampai saat ini kami telah mengirimkan 10 ribu lebih dan dua ribuan telah menjadi wirausahawan.

Selanjutnya menurut Aziz seorang peserta magang Jepang, peserta tersebut harus dibekali teknis tentang komoditi yang akan ditekuni. Penyiapan SDM magang Jepang tentu harus dengan format khusus, dimana bahasa, budaya, fisik, mental, disiplin menjadi menjadi persyaratan penting. Mereka yang siap bekerja perlu sehat, perlu mental yang bagus dan yang terakhir itu adalah soal bagaimana kesiapan tentang kerohanian.

Lebih lanjut Aziz menyampaikan bahwa Kapten menyampaikan terima kasih kepada Kementan atas dibangunnya kerjasama dalam hal penguatan SDM. “Kami siap bekerjasama mulai dari hulu hingga hilir, mulai proses pemberangkatan sampai terlibat di bidang pengawasan dan perlindungan di negara penerima,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu Kepala BBPP Batu, menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan magang Jepang merupakan kegiatan super prioritas, oleh karena itu perlu kolaborasi dengan pihak terkait, seperti Kapten, perguruan tinggi maupun P4S atau Ikamaja. sehingga harapan Kementerian Pertanian untuk menumbuhkan 1000 petani milenial dapat diwujudkan.

**T2S/BBPP Batu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here