Bernilai Jual Tinggi, Petani Salatiga Antusias Tanam Vanilli

0
89

Bogor | Jurnal Inspirasi

Nilai jual vanilli termahal nomor satu di Indonesia. Alasan itulah yang membuat petani di Kota Salatiga antusias menanam vanilli. “Antusiasme petani Kota Salatiga menanam vanilli sangat tinggi. Harga vanili per kilogramnya sama dengan satu colt pick up sayuran, “ ujar Nurcahyo Eko Junaidi Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Griya Vanilli Kota Salatiga, Selasa (16/02/2021).

Nurcahyo Eko Junaidi menuturkan rempah – rempah Indonesia banyak diminati dan dibutuhkan oleh pasar dunia, salah satunya vanilli. Selain untuk kebutuhan makanan dan minuman, rempah vanilli juga digunakan untuk industri kosmetik. Hal tersebut mendongkrak nilai jual vanilli menjadi komoditas termahal ke dua dunia.

Kata pria yang juga penyuluh pertanian Swadaya (PPS), penggiat dan petani vanili ini Indonesia tahun 2020 menjadi pengekspor vanilli terbesar ke dua didunia setelah Madagaskar. Posisi ini menggeser Prancis yang pada tahun 2019 berada diurutan kedua, Indonesia ketiga.

Diungkapkan Eko dalam acara Ngopi Tani Radio Pertanian Ciawi (RPC) sejak zaman penjajahan Belanda, Salatiga sudah terkenal sebagai penghasil vanili. Untuk itu pada 2017 Ia bersama Dinas Pertanian Kota Salatiga berkeinginan membangunkan raksasa tidur berjuluk si Emas Hijau ini  dan membranding kota dengan vanilli.  Upaya dimulai dengan melakukan pendekatan kepada kelompok tani dengan dialog dan pelatihan – pelatihan, serta beragam bantuan dari pupuk hingga bibit.  Upaya tersebut membuahkan hasil, tidak hanya petani, bahkan masyarakat tertarik menanam vanilli.  Sejak itulah hingga kini petani kembali giat menanam vanili baik dipekarangan maupun dikebun.

“ Para petani di Kota Salatiga giat menanam vanili di pot – pot, polybag, diteras rumah maupun diatap rumah. Memanfaatkan lahan – lahan terbatas/sempit, setiap rumah menanam 5 – 10 pot/polybag, bahkan ada yang menanam 400 pohon, “ ucapnya.

Vanilli kata Eko adalah komoditas yang sensitif, karena nilai jualnya. Jadi petani menanam tidak dihamparan/kebun. Tetapi di pot – pot, polybag, kalaupun ada kebun biasanya disekitar rumah. Sehingga tanaman bisa dikontrol setiap saat.

Di tahun 1980-an vanilli  pernah mengalami masa kejayaannya. Saat itu harganya mencapai angka yang fantastis,. Namun karena harganya sempat terpuruk, para petani banyak yang membabat habis tanamannya dikebun.

Melalui program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menargetkan pertumbuhan ekspor untuk komoditas dengan sebutan emas hijau meningkat hingga tiga kali lipat sampai lima tahun ke depan. Untuk itu Kementerian Pertanian RI terus mendorong pengembangan vanili diberbagai wilayah salah satunya Kota Salatiga.

Harapan tersebut bukan hal yang mustahil mengingat vanilli Indonesia memiliki keunggulan kadar vanillin yang melebihi negara lain. Kandungan vanillin Indonesia bisa mencapai 3,9% kandungan ini tertinggi didunia.  Sementara Madagaskar sebagai pengekspor tertinggipun hanya 2%.

“ Tidak seperti komoditas lain yang berbeda – beda, vanilli didunia semuanya hampir sama. Yang membedakan tanaman ini ada di conten vanilinya/rendemennya. Semakin tinggi kadar vanilinnya maka berpengaruh pada nilai jualnya, “ bebernya.

Sejauh pengetahuannya, tanaman yang  masih tergolong dalam kerabat Anggrek (Orchidaceae) ini disebut Eko ada 99 jenis didunia. Jenis vanilli tersebut sudah diidentifikasi dan diregistrasi oleh para ilmuwan. Namun yang dikembangkan dalam skala ekonomi ada dua jenis, yakni Planifolia dan Vanilla Tahitiensis.  Dua varietas ini hampir menguasai pervanilian didunia.

Menurut data dari berbagai sumber,  importir terbesar rempah vanilla Indonesia adalah Amerika Serikat (47,73 persen), Prancis (18,10 persen), Jerman (9,31 persen), Kanada (5,80 persen), Jepang (2,73 persen), Belanda (2,22 persen), Mauritius Afrika Timur (2 persen), Switzerland (1,27 persen), Australia (1,25 persen), dan Italy (1,19 persen).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan negara Indonesia yang dianugrahi sumberdaya dan kekayaan alam yang begitu besar serta sumberdaya manusia yang unggul, maka sudah sepatutnya negara Indonesia ini menjadi negara kaya dan negara pengekspor produk-produk pertanian. Akses pasar harus kita kuasai dan dibuat, karena peluang ekspor pertanian luar biasa.

** Regi/PPMKP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here