Eni Irawati: Aparat Desa tak Boleh Merangkap Jadi Pendamping

0
109
Kantor Dinas Sosial Kabupaten Bogor

Cibinong | Jurnal  Inspirasi

Adanya upaya pemotongan bantuan untuk Program Keluarga Harapan (PKH) dan rangkap jabatan  yang terjadi di Desa Sukamakmur, Kecamatan  Sukamakmur, mendapat tanggapan Kepala  Bidang Perlindungan  dan  Jaminan  Sosial  Dinas  Sosial  Kabupaten  Bogor, Eni  Irawati, Senin (15/2). Menurutnya, sesuai  dengan  aturan  yang  tertuang  dalam  pedoman  umum,  tidak  diperbolehkan  staf  desa  atau  aparat  sipil  negara  merangkap  jabatan  sebagai  pendamping  PKH. Alasannya,  selain  pekerjaan yang  tidak  akan  optimal,  juga  menabrak  aturan  yang  berlaku.

Eni  Irawati

“Saya  sudah  cek  kebenarannya  di lapangan  dan  sedang  menunggu  surat  pernyataan  dari  yang  bersangkutan yaitu  Ahmad  Sukirman,“ jelas  Eni  Irawati kepada Jurnal  Bogor  yang  didampingi  Kasie  Linjamsos  Nuryani  dan  koordinator  lapangan. 

Dia menjelaskan, dari  pemberitaan  yang  beredar  pihaknya sudah  melakukan  assessment pada  Rabu  (9/2) lalu, dan mendatangi  lokasi  dan  dilakukan  mediasi  di  Kantor  Kecamatan  Sukamakmur  yang  menghadirkan  penerima  KPM PKH , pendamping, Babinmas, Babinsa, RT/RW, Kepala Desa  Sukamakmur  dan  Camat  Sukamakmur  dan  sudah  dibuat  surat  kesepakatan  bahwasannya  kartu  ATM PKH harus  dikembalikan  kepada  KPM dan  tidak  boleh  dikoordinir  oleh  siapun, begitupun  perihal  pemotongan  yang  ada  di  Desa  Sukamakmur  tersebut.

“Sudah  kami  buatkan  surat  pernyataan  yang  disaksikan  instansi  terkait  di  Kecamatan  Sukamakmur  tersebut,  kami  pegang  sebagai  acuan  dan  perihal  pendamping  yang  merangkap  sebagai  Sekdes  Sukamkmur  itu  jelas-jelas  menabrak  aturan,  dan  disini  sudah  kami  tekankan  agar  yang  bersangkutan  memilih  salah  satu  jabatan  yang  ingin  dipegangnya,” kata  Eni.

Pihaknya juga menyatakan  sedang  menunggu  surat  pernyataan  yang  dibuat  oleh  Ahmad  Sukirman  yang  menurutnya  saat  ini  sedang  masa  isolasi  karena  istrinya  terpapar Covid-19. Dia  akan memanggil  yang  bersangkutan  untuk  datang  ke Dinsos Kabupaten  Bogor  untuk  memberikan  pernyataan  bahwa  dia  mau  menjadi  pendamping  atau  menjadi staf  desa, begitupun  untuk  kepala  Desa  Sukamakmur  agar  memberikan  suratnya  apakah  yang  bersangkutan  masih  menjadi  Sekretaris  Desa  atau  mau  menjadi  pendamping  PKH.

“Kami  tinggal  menunggu  surat  pernyataan dari Ahmad  Sukirman dan Kepala  Desa   saja,  karena  proses  sudah  kita  tempuh,  pernyataan  di lapangan pun  sudah  dibuat, itu  yang  akan  kita  laporkan  kepada  Kepala  Dinas  nantinya,  intinya  aparat  desa  tidak   boleh  merangkap  sebagai  pendamping  PKH karena  tidak  sesuai  dengan  aturan, “ tegasnya.

Lajut  Eni,  dan  adapun  perihak  E-Warung  yang  juga  dikelola  oleh  istri dari  pendamping  Ahmad  Sukirman  itu  merupakan  kewenanangan  dari bank  yang  mengelola,  kewenangan  Dinsos hanya  sebatas  SDM nya  saja.   Sebelum  dibentuk,  E-Waroeng  itu  sudah  ada  syarat  dan  ketentuan  yang  berlaku  karena  penentuan  E-Waroeng  juga  melibatkan  pihak  desa  dan  kecamatan  dan  nantinya  diajukan  kepada  bank  yang  bekerjasama.

“Kita  hanya  menangani  pembinaan  untuk  SDM-nya  dan  E-Waroengnya  adalah  kewenangan  bank  yang  bekerja  sama,  pada  dasarnya  KPM  bebas  mementukan  E-waroeng  manapun  dan  ATM  manapun  untuk  mencaikan  bantuan  tersebut,” jelas  Eni.

** Nay Nur’ain

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here