Merasa Diperhatikan Kementan, Banten Beri Jawaban Apresiatif

0

Pandeglang | Jurnal Inspirasi

Provinsi Banten menduduki posisi ke-10 sebagai provinsi penghasil beras tertinggi nasional di tahun 2019 dengan produksi beras sebesar 843.000 ton. Dan berdasarkan angka sementara produksi padi pada 2020 (data November 2020) angka ini naik menjadi  sebesar 931,18 ribu ton, bertambah 98,00 ribu ton, atau naik 11,76 persen dibandingkan tahun 2019.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi (Distanprov) Banten Agus M. Tauchid mengatakan, peningkatan produksi ini merupakan jawaban Banten atas perhatian dan komitmen pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian (Kementan).

“Banten dengan luas sawah yang tak seberapa jika dibanding wilayah lain, berhasil berada pada posisi 10 besar penghasil beras nasional. Ini adalah jawaban dan apresiasi Banten atas perhatian dan komitmen pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian untuk Banten. Banten menggunakan APBN dan APBD untuk peningkatan produksi,“ ucapnya.

Dihadapan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi saat penyerahan secara simbolis bantuan IT untuk Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) di Serang Banten beberapa waktu lalu,  Agus menyatakan Distanprov Banten akan terus berjuang terkait sarana di Kabupaten dan Kota,  seperti jalan usaha tani (JUT) dan rehabilitasi jaringan irigasi (RJIT), agar percepatan pembangunan di daerah bisa segera terlaksana.

“ Kami terus berupaya bagaimanakah bantuan keuangan provini yang ada di Kabupaten Kota bisa dipergunakan untuk sarana – sarana JUT dan RJIT. Kami tidak ingin petani kehilangan nilai tambah karena tidak ada jalan usaha tani, harga gabah ditengah sawah 2,000 dijalan 4,000 sehingga petani kehilangan potensi karena tidak ada akses jalan, “ ujarnya.

Ia menambahkan, hal tersebut sudah disampaikan kepada Gubernur dan sudah di follow up ke Komisi II DPRD Provinsi Banten dilanjutkan rapat pertemuan dengan Bappeda,  langkah – langkah tersebut akan segera diambil tindakan.

Tahun 2021 Provinsi Bantenpun akan membangun Rice Center senilai 40 Milyar rupiah di Cikeusik, untuk mengcover Wanasalam dengan kapasitas 6 ton /jam dan dikelola oleh BUMD. Dalam waktu dekat akan pula dibangun di Kecamatan Pontang Kabupaten Serang dan Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang. Sehingga Banten memiliki tiga zonasi padi yakni Zonasi I Pontang dan sekitarnya, Zonasi II dan III di Kabupaten Pandeglang di Kecamatan Panimbang dan sekitarnya serta Cikeusik dan Wanasalam. Yang terbesar adalah Cikeusik dan Wanasalam dengan luas hampir 10,000 ha.

Dalam acara yang dihadiri, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta, Perwakilan Pusat Pelatihan manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor,  Kadistan lingkup Provinsi Banten dan penyuluh se provinsi Banten  kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi mengatakan pangan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditangguhkan.  Untuk itu  Ia sangat mengapresiasi upaya – upaya yang dilakukan Banten untuk meningkatkan produksi dan turut menyediakan  pangan bagi wilayah atau daerah – daerah lain yang tidak bisa memproduksi beras untuk wilayahnya.

“Sebagai salah satu sentra beras produksi nasional,  Banten harus bisa menjadi penyangga daerah – daerah lain yang tidak bisa memproduksi beras karena keterbatasan lahan, “ tuturnya.

Kementerian Pertanian dibawah komando  Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus melakukan berbagai terobosan dalam meningkatkan produksi beras, di antaranya program mekanisasi pertanian, penggunaan benih unggul, pemanfaatan lahan rawa dan mempercepat masa olah lahan dan tanam diberbagai wilayah.

** Regi/PPMKP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here