Atani Roma: Sebelum Ekspor Petani Wajib Tahu Karakteristik Konsumen Italia

0

Ciawi | Jurnal Inspirasi

Petani dan pengusaha pertanian yang akan memasukan produk kepasar Italia terlebih dahulu harus mengenali karakteristik konsumen Italia. “ Tak kenal maka tak sayang, jadi wajib bagi petani dan pengusaha pertanian yang akan memasukan produknya ke Italia mengenali karakteristik konsumen di Italia, “ ujar Ida Ayu Ratih Atase Pertanian KBRI Roma, dalam acara webinar Brokoli (Ngobrol Asyik Via Online) beberapa hari lalu.

Webinar Brokoli adalah sebuah program sharing knowledge besutan Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor yang saat ini sudah memasuki volume 5 dengan tema Promosi dan Peluang Komoditas Indonesia Mendukung GraTiEks (Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor).

Seperti negara – negara Eropa lain, kata Ida Ayu Ratih  Italia sangat mengutamakan keamanan pangan. Selain itu mereka menyukai produk yang jelas asal – usulnya dan aspek keberlanjutannya serta mereka menyukai special story behind product.

Karakteristik konsumen Italia yang lain ialah mereka menginginkan produk – produk yang jelas asal – usulnya dan aspek keberlanjutannya. Mereka juga lebih prefer produk yang made in Italy.

“ Disini banyak produk yang mereka impor tetapi diracik kembali, kemudian memunculkan nama yang Italy seperti Cappucino. Padahal bahan – bahannya dari negara lain, “ ungkapnya.

Kemudian lanjut Ida Ayu Ratih, masyarakat Italia menginginkan produk dengan kualitas tinggi tapi harga kompetitif. “ Inilah tantangannya, bagaimana harganya seekonomis mungkin dan kualitas sebaik mungkin, “ tuturnya.

Kata Ida Ayu Ratih produk – produk yang diekspor ke Italia wajib memenuhi standar – standar produk yang berlaku di Uni Eropa. Keamanannya, sertifikasinya dan global GAP (Good Agriculture Practises), fair trade, kemasan dan labelingnya.

Yang tak kalah penting lagi adalah kontinuitasnya. Jangan sampai pengiriman pertama taste bagus, kedua, ketiga semakin menurun. Hal ini membuat produk kehilangan trust konsumen. Padahal produk itu nomor satu terbaik bila dibanding dengan produk yang sama dari negara lain. 

 “ Jadi kontinuitasnya yang harus dijaga, bagaimana pengiriman dari yang pertama sampai selanjutnya tastenya itu harus sama, bahkan lebih baik lagi, terapkan 3K yakni,kuantitas,  kualitas dan kontinuitas “ ucapnya.

Disinggung mengenai peluang komoditas, Ia mengatakan singkong Indonesia memiliki peluang mengisi pasar ekspor Italia. Harga singkong dinegara ini mencapai dua euro per kilogram.

Di Italia banyak migran dari Afrika, Asia. Singkong merupakan komoditas yang dikenal di Afrika dan Asia sehingga pasti dicari. Selain singkong rempah – rempah juga merupakan komoditas yang diminati.

“ Produk pertanian Indonesia asal memenuhi segala peraturan Uni Eropa dan ada demandnya disini (Italia) itu luar biasa bisa masuk kesini.

Misalnya singkong. Kalau di Indonesia termasuk komoditas yang harganya terjangkau kalau disini lumayan mahal, harga perkilogram mencapai dua euro atau kalau dirupiahkan dengan kurs satu euro Rp. 17.000, harganya adalah 34 ribu rupiah, “ bebernya.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengatakan garda terdepan pendukung ekspor komoditas pertanian adalah petani dan penyuluh.  Tujuannya, mendorong pertumbuhan ekonomi melalui Gerakan Tiga Kali Ekspor (GraTiEks) didukung kekuatan seluruh pelaku pembangunan pertanian, hulu ke hilir (on farm dan off farm) untuk peluang jutaan lapangan kerja.

Mendukung hal tersebut  Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi memastikan bahwa BPPSDMP akan mengoptimalkan peran Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KostraTani) di seluruh Indonesia mendukung GraTiEks.

Menurut Dedi Nursyamsi, salah satu upaya BPPSDMP mendukung kebijakan Mentan adalah mengembangkan 2,5 juta petani milenial di seluruh Indonesia. “Mereka tergolong unggul, rata-rata berusia di bawah 40 tahun sebagai tumpuan masa depan pertanian Indonesia,” ungkap dia.

** Regi/PPMKP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here