Macron Banjir Kecaman

0
Demo Macron di Solo, Jawa Tengah

Jakarta | Jurnal Inspirasi

Momen Maulid Nabi Muhammad SAW pada sepekan ini diselimuti banjir kecaman umat Islam terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron. Sejumlah negara muslim dan Indonesia mengecam pernyataan Macron karena dianggap menyudutkan agama Islam. Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, menyarankan Indonesia mengambil langkah dialog untuk menyamakan pandangan atas nilai-nilai atau ajaran Islam yang kerap berseberangan dengan sekularisme di Prancis.

“Macron semestinya tidak langsung menyimpulkan pembunuhan terhadap seorang guru Samuel Paty dengan agama Islam. Tanggapan Macron tidak menunjukkan kepekaan terhadap umat Islam yang memercayai kesucian Nabi Muhammad sehingga sosoknya tidak boleh digambar,” jelas Yon.

Penerbitan karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo disebutnya sebagai biang keladi kekerasan di Prancis. Sehingga imbas pernyataan Macron itu, menurutnya, justru memicu respons yang sesungguhnya tidak perlu seperti aksi boikot terhadap produk-produk Prancis. “Tentu kita prihatin atas kejadian itu tapi hendaknya respon Presiden Macron tidak terlalu simplifikasi ketika kemudian menyampaikan Islam dalam kondisi krisis,” ujar Yon. “Karena itu menyangkut keyakinan yang dianut umat Islam di dunia,” sambungnya.

Tapi kata Yon, kecaman itu tidak cukup. Pemerintah Indonesia, lanjutnya, juga harus berbicara tentang pelaku kekerasan yang menyebabkan kematian Samuel Paty. Ia menduga sikap pemerintah tak lepas dari pernyataan sejumlah pemimpin negara yang menyampaikan kritik atas pernyataan Macron. Hanya saja kritik maupun kecaman tidak menyentuh persoalan utama.

Presiden Joko Widodo sendiri telah mengeluarkan pernyataan mengecam kekerasan yang terjadi di Prancis dan mengecam pula pernyataan Presiden Prancis yang disebutnya melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia. Hal itu diucapkannya dalam konferensi pers yang digelar setelah pertemuannya dengan sejumlah perwakilan lembaga keagamaan, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), juga Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (31/10).

Presiden Joko Widodo mengatakan dia mengecam keras terjadinya kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice yang telah memakan korban jiwa. Ia lanjut mengecam pernyataan Presiden Prancis. “Indonesia juga mengecam keras pernyataan presiden Prancis yang menghina agama Islam, yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia, yang bisa memecah belah persatuan antar umat beragama di dunia, di saat dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi Covid-19,” kata Jokowi.

Ia melanjutkan “kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol-simbol agama, sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan”.

“Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar,” katanya. Ia menambahkan pemerintah Indonesia mengajak dunia mengedepankan persatuan dan toleransi beragama. Sebelumnya, kecaman pemerintah terhadap pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron telah dilayangkan Kementerian Luar Negeri.

Sikap Macron yang membiarkan penerbitan ulang karikatur atau kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW oleh majalah satire Charlie Hebdo turut dikecam politisi Indonesia. Pemimpin Prancis itu juga dinilai menunjukkan pikiran kerdil karena membuat komentar yang menyudutkan Islam. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sukamta, berpendapat sikap dan pernyataan Macron dapat membahayakan upaya membangun dunia yang harmonis. 

“Simbol agama adalah sakral bagi pemeluknya. Bagi ummat Islam, Nabi Muhammad SAW adalah sosok paling penting. Ucapan Macron jelas melukai hati umat Islam di seluruh dunia, kita sangat marah atas penghinaan ini. Macron telah memantik Islamofobia, juga mendorong kebencian terhadap pemeluk agama, ucapannya sesungguhnya telah menodai prinsip-prinsip kebebas dan dan nilai-nilai universal,” kecam politisi yang menjabat sebagai Anggota Komisi 1 DPR RI tersebut dalam keterangan tertulisnya baru-baru ini.

Menurut Sukamta, yang lebih memprihatinkan ucapan Macron ini sangat tendesius. Dia menduga Macron sedang berupaya mendapat dukungan politik dari kelompok sayap kanan dan esktrem kanan di Prancis. “Beberapa analisa menyebut tujuan Macron adalah terpilih kembali pada 2022, maka dia membuat isu soal keamanan yang selama ini menjadi titik lemahnya. Ini semakin menunjukkan betapa kerdilnya pikiran Macron karena jualan isu ancaman agama hanya untuk kepentingan politik pribadi. Dia telah membuat Prancis jatuh martabatnya sebagai negara demokrasi,” paparnya.

“Kita harap pemerintah Indonesia juga proaktif untuk berkomunikasi dengan negara-negara OKI, mendorong ada pernyataan bersama oleh OKI mengecam pernyatan Macron. Pemerintah melalui KBRI di negara-negara Eropa juga perlu meningkatkan pengawasan dan penjagaan kepada masyarakat Indonesia yang ada di sana, karena sangat mungkin ucapan Macron ini akan meningkatkan kekerasan kelompok ultra kanan kepada kaum muslimin dan imigran,” imbuh Sukamta.

Sementara Persaudaraan Alumni (PA) 212 bersama dengan sejumlah organisasi Islam lainnya, merespon dengan berencana menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Prancis, Jakarta Pusat, Senin (2/11). Para ormas Islam menggelar demo untuk mengecam sikap sekaligus pernyataan Macron. Sebab, sikap dan pernyataan Macron dianggap telah menghina umat Islam dan Nabi Muhammad SAW. “Iya Insya Allah PA 212 akan turun, ikut, dan mempelopori bahkan gelar aksi di depan Kedubes Prancis,” kata Jubir PA 212, Ustadz Haikal Hassan.


Daftar insiden serangan baru-baru ini di Prancis

  • Oktober 2020: Guru bahasa Prancis Samuel Paty dibunuh di luar sekolah di pinggiran kota Paris.
  • September 2020: Dua orang ditikam dan terluka parah di Paris dekat bekas kantor tabloid Charlie Hebdo, tempat militan melakukan serangan mematikan pada 2015.
  • Oktober 2019: Operator komputer polisi, Mickaël Harpon, ditembak mati setelah menikam hingga tewas tiga petugas dan seorang pekerja sipil di markas polisi Paris.
  • Juli 2016: Dua penyerang membunuh seorang pendeta, Jacques Hamel, dan secara serius melukai sandera lainnya setelah menyerbu sebuah gereja di pinggiran Rouen di Prancis utara.
  • Juli 2016: Seorang pria bersenjata mengendarai truk besar ke kerumunan yang merayakan Hari Bastille di Nice, menewaskan 86 orang dalam serangan yang diklaim oleh kelompok Negara Islam (IS).
  • November 2015: Pria bersenjata dan pelaku bom bunuh diri melancarkan berbagai serangan terkoordinasi di gedung konser Bataclan, stadion utama, restoran, dan bar di Paris, menyebabkan 130 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
  • Januari 2015: Dua pria militan Islam memaksa masuk ke kantor Charlie Hebdo dan menembak mati 12 orang.

** ass

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here