BPP Kostratani Batu Dampingi Poktan Anggrek Sapi Perah

0
74

Malang | Jurnal Inspirasi

Proses kompetensi SDM peternakan dimulai dengan bergabung peternak melalui komunitas beternak dalam kelembagaan peternak, sehingga dapat memperoleh pengalaman, informasi dan pengetahuan dari sesama peternak anggota kelompok yang berhasil dalam usaha peternakannya.

Kelompok juga dapat menjadi media untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap anggota, sebagai unit produksi yaitu kelompok dapat mencapai skala ekonomi yang efesien dalam memproduksi usahanya serta sebagai wahana kerjasama diantara sesama anggota, kerjasama dengan kelompok atau pihak lain sehingga   produktivitas kelompok dan masing-masing anggota menjadi meningkat juga sebagai kelompok usaha.

Pertemuan rutin Kelompok tani Anggrek Dusun Dresel, Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu yang dilakukan 2 kali dalam sebulan kali ini sangat istimewa karena dihadiri oleh seluruh anggota sebanyak 40 orang, acara pertemuan dilaksanakan di rumah ketua Kelompok Ismail.

Pertemuan rutin dalam rangka sosialisasi penyusunan Rencana Devinitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) tahun 2021, Minggu (18/10/2020). Hadir dalam acara sosialisasi tersebut, Penyuluh lapang Purwito, S.ST serta Karel Daniel Isak SIR, SP, M.Agr, sebagai narasumber dari Balai Besar Pelatiham Peternakan (BBPP) Batu

Menurut Purwito kelompok tani Anggrek yang baru dibangun 3 tahun silam, memiliki sapi perah sebanyak 130 dengan produksi susu 15 liter /ekor/hari. Sebagai kelompok yang baru berjalan namun tidak pernah takut jatuh apalagi peran dari penyuluh lapang BPP Kostratani Batu yang terus setia mendampingi para petani sekalipun masalah selalu mengitari seperti ; Ketersediaan pakan, Harga jual susu belum stabil, Sapi perah kurang memenuhi kualitas yang baik dan pergeseran lahan menjadi obyek wisata.

Sementara Karel Daniel Isak SIR, SP, M.Agr, mengatakan pentingnya para petani yang tergabung dalam kelompoktani Anggrek memahami tentang Rencana Definitif Kelompok (RDK) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) hanya dengan itu petani akan bisa mencapai target swasembada dan meraih sukses dalam pengelolaan usaha taninya.

Rencana Definitif Kelompok (RDK) adalah rencana kerja uasahatani dari kelompoktani untuk 1 (satu) tahun, yang disusun melalui musyawarah dan berisi rincian kegiatan dan kesepakatan bersama pengelolaan usahatani.

Sedangkan RDKK adalah pesanan kelompok tani terhadap sarana produksi pertanian dan biaya lainnya untuk satu musim tanam sebagai hasil dari musyawarah Kelompok tani yang memuat jenis, jumlah, jadwal waktu yang dibutuhkan dan sumber dana untuk pembeliannya (baik swadana atau kredit), sasaran yang ingin dicapai adalah agar masing-masing petani dapat menentukan, berapa jumlah sarana produksi yang diperlukan, baik dengan swadana maupun dengan fasilitas kredit.

Demikian juga kebutuhan biaya lainnya, mengingat kredit yang disediakan Pemerintah penyalurannya bukan lagi secara massal, melainkan selektif sesuai dengan kebutuhan petani.

Penyusunan RDK/RDKK merupakan kegiatan strategis yang harus dilaksanakan secara serentak dan tepat waktu, sehingga diperlukan suatu gerakan untuk mendorong Poktan menyusun RDK/RDKK dengan benar dan sesuai dengan kebutuhan petani.

Rencana Definitif Kelompok (RDK) disusun untuk perencanaan kegiatan pengembangan usahatani kelompok, termasuk kebutuhan sarana produksi pertanian (Saprotan), dalam jangka waktu satu tahun.

RDK merupakan bahan dalam penyusunan programa penyuluhan desa dan selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan usulan penyelenggaraan penyuluhan tingkat desa melalui musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes).

Karel melanjutkan, mengingat kemampuan petani dalam penyusunan RDK/RDKK masih terbatas, maka penyuluh pertanian perlu mendampingi dan membimbing Kelompoktani Anggrek. Penyuluh pertanian di setiap desa/kelurahan harus bertanggungjawab dalam pelaksanaan pendampingan penyusunan RDK/RDKK.

Ini memang masih sangat mendasar, belum memenuhi keinginan dari Menteri Pertanian bahwa RDK/RDKK berbasis elektronik, namun.secara pasti kita akan mengarah kesitu.

Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Dr. Wasis Sarjono, S.Pt, M.Si, mengatakan, pengembangan usaha sapi potong dapat terlaksana dengan baik, jika ditunjang selain dengan aspek produksi juga dari aspek manajemen usaha sapi perah yang dipengaruhi oleh tingkat kompetensi peternak.
 
“Kita harus meningkatkan produktivitas peternak kita melalui program pelatihan yang akan kita susun berdasar kebutuhan peternak itu sendiri. Mulai dari pelatihan pakan ternak, produksi termasuk meningkatkan inseminasi itu sendiri. Target kita memang terjadi peningkatan produksi sebagai contoh sekarang produksi susu 15 liter /ekor/hari melalui pelatihan harapan para peternak peningkatan produksi susu menjadi 25 liter/ekor/hari dapat diwujudkan.”

** T2S/wan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here